
Ketum Partai Gema Bangsa Ahmad Rofiq menyampaikan keterangan kepada awak media di Jakarta pada Sabtu (17/1). (Syahrul Yunizar/JawaPos.com)
JawaPos.com - Deklarasi Partai Gema Bangsa di JCC, Senayan, Jakarta Selatan (Jaksel) hari ini (17/1) dibarengi pernyataan sikap. Partai politik (parpol) yang dipimpin oleh Ahmad Rofiq sebagai ketua umum (ketum) itu mengusung desentralisasi politik. Karena itu, mereka menolak usulan pilkada dipilih oleh DPRD.
Rofiq menyampaikan bahwa deklarasi hari ini berjalan dengan lancar. Para kader dan simpatisan dari berbagai daerah datang langsung ke Jakarta. Sesuai dengan pidato politik yang dia sampaikan saat deklarasi, Rofiq menyatakan bahwa fokus partainya adalah desentralisasi politik.
”Bahwa Gema Bangsa itu lebih fokus pada desentralisasi politik kepartaian karena ini adalah sebuah mantra politik yang tidak dimiliki oleh partai-partai lain, dan ini adalah satu-satunya partai yang mengusung itu,” kata dia kepada awak media.
Tidak heran, Rofiq berani menyatakan bahwa Partai Gema Bangsa adalah antitesis dari kebanyakan parpol di Indonesia saat ini. Alih-alih mengambil peran besar dalam setiap kebijakan politik, Gema Bangsa memilih menyerahkan sepenuhnya kepada pengurus dan masyarakat di daerah masing-masing.
”Artinya seluruh kebijakan politik itu kita serahkan sepenuhnya kepada masyarakat yang ada di daerah,” tegasnya.
Karena itu, saat ditanya soal usulan kepala daerah dipilih oleh DPRD, Rofiq secara tegas menyatakan bahwa pihaknya menolah usulan tersebut. Bagi Gema Bangsa, pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung mutlak dilaksanakan. Sebab, lewat mekanisme itu ada keterbukaan dan transparansi.
”Klir bahwa kami menginginkan keterbukaan, transparansi. Jadi, kami ingin (kepala daerah) dipilih secara langsung. Jangan sampai demokrasi ditarik mundur, karena sesungguhnya dalam konteks pilkada langsung itu yang ada adalah cost politic, bukan transaksional,” bebernya.
Bila pilkada diserahkan kepada DPRD, dia khawatir akan terjadi praktik transaksional dalam pemilihan kepala daerah. Selain itu, dia juga tidak ingin hak-hak masyarakat untuk memilih pemimpin secara langsung diambil. Bagi Gema Bangsa, hal itu akan sangat menyakitkan.
”Kalau sudah ada ditutup di DPRD, baik provinsi maupun kabupaten, itu sudah pasti transaksional. Dan itu jauh lebih menyakitkan masyarakat,” imbuhnya.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
