Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Maret 2026 | 02.55 WIB

Kecam Serangan AS-Israel ke Iran, Gema Bangsa Ingatkan Pemerintah RI Teguh pada Asas Politik Bebas Aktif

Ketua DPP Partai Gema Bangsa Bidang Luar Negeri, Ary Oskandar, menyikapi geopolitik Timur Tengah yang tengah memanas pasca serangan AS-Israel ke Iran. (Istimewa)

JawaPos.com - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gema Bangsa mengecam keras serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dinilai memperparah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Sebab, tindakan agresi militer dan pelanggaran kedaulatan negara hanya akan memicu ketidakstabilan yang lebih luas dan membahayakan perdamaian dunia.

Ketua DPP Partai Gema Bangsa Bidang Luar Negeri, Ary Oskandar, menyampaikan pihaknya mengutuk tanpa kompromi setiap tindakan agresi militer dan pelanggaran kedaulatan negara yang memicu eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.

“Penggunaan kekuatan bersenjata yang melampaui prinsip hukum internasional adalah bentuk arogansi kekuasaan yang mengancam perdamaian dunia dan membahayakan keselamatan umat manusia. Tidak ada justifikasi politik apa pun yang dapat membenarkan tindakan yang memperluas perang dan memperbesar korban sipil," kata Ary Oskandar kepada wartawan, Senin (2/3).

Ia menegaskan, tindakan intervensi bersenjata yang mengabaikan kedaulatan negara lain merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan norma global yang telah disepakati bersama.

“Kami menegaskan bahwa setiap bentuk intervensi bersenjata yang mengabaikan kedaulatan negara lain adalah pelanggaran serius terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan merupakan ancaman langsung terhadap stabilitas global," ucapnya.

Menurut Ary, konflik bersenjata bukanlah jalan keluar atas ketegangan geopolitik. Ia menilai peperangan justru mencerminkan kegagalan diplomasi dan kepemimpinan global dalam menyelesaikan persoalan melalui dialog dan jalur damai.

“Perang bukan solusi. Perang adalah kegagalan diplomasi dan kegagalan kepemimpinan," ucapnya.

Ia menekankan, Indonesia harus tetap konsisten pada prinsip politik luar negeri bebas aktif sebagaimana diamanatkan konstitusi, serta tidak terseret dalam pusaran kepentingan kekuatan global.

“Indonesia, berdasarkan amanat konstitusi dan politik luar negeri bebas aktif, tidak boleh menjadi alat, tidak boleh menjadi pengikut, dan tidak boleh tunduk pada tekanan kekuatan global mana pun. Sikap bangsa harus berdiri tegak, berpihak pada perdamaian, pada hukum internasional, dan pada kepentingan nasional," urainya.

Ary juga mengingatkan bahwa eskalasi konflik global tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap kondisi ekonomi Indonesia, mulai dari harga energi hingga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Eskalasi konflik global akan berdampak langsung pada harga energi, beban subsidi, stabilitas rupiah, dan daya beli rakyat. Rakyat Indonesia tidak boleh menjadi korban dari ambisi geopolitik yang tidak mereka ciptakan," tuturnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kepemimpinan dunia saat ini sedang diuji oleh situasi yang semakin kompleks. Setiap keputusan yang memperbesar konflik, menurutnya, akan meninggalkan catatan sejarah tersendiri.

“Kepemimpinan dunia hari ini sedang diuji. Siapa yang memilih memperbesar api konflik akan tercatat dalam sejarah sebagai pihak yang memperpanjang penderitaan umat manusia," pungkasnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore