
Gedung DPR/MPR RI yang berlokasi di Senayan, Jakarta, kembali digeruduk ribuan massa aksi yang tergabung dalam elemen buruh hingga mahasiswa, pada Kamis (28/8). (Ryandi Zahdomo/Jawapos)
JawaPos.com - Gedung DPR/MPR RI yang berlokasi di Senayan, Jakarta, kembali digeruduk ribuan massa aksi yang tergabung dalam elemen buruh hingga mahasiswa, pada Kamis (28/8). Mereka menyampaikan tuntutan atas kondisi perekonomian hingga politik kebangsaan di depan gedung dewan.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, menyatakan kritik masyarakat terhadap DPR RI merupakan hal yang wajar dalam iklim demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar kritik tersebut tidak berubah menjadi kebencian yang justru berpotensi memperlebar jurang perpecahan bangsa.
Idrus menyoroti adanya narasi massa yang menyuarakan desakan agar DPR dibubarkan. Menurutnya, seruan semacam itu tidak sejalan dengan semangat konstitusi negara.
"Sebagai keluarga besar bangsa Indonesia, kita lahir dari kebersamaan. DPR ada untuk masyarakat Indonesia. Kalau ada polemik, mari kita hadapi dengan arif dan bijaksana," kata Idrus kepada wartawan, Kamis (28/8).
Ia menegaskan, DPR merupakan lembaga konstitusional yang keberadaannya diatur dalam UUD 1945, sehingga pembubarannya tidak dapat dilakukan. Meski demikian, Idrus memahami alasan kemarahan publik.
Gelombang kritik muncul terutama setelah beredar kabar mengenai kenaikan tunjangan perumahan anggota DPR hingga Rp 50 juta per bulan, yang disebut sebagai kompensasi atas rumah dinas DPR di Kalibata yang dinilai tidak lagi memadai. Idrus mengakui, kebijakan itu menimbulkan kesan bahwa DPR kurang peka terhadap kondisi masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan ekonomi.
"Kritik publik itu wajar, bahkan penting sebagai koreksi. Tapi jangan sampai komunikasi terputus. Kalau rakyat hanya marah, DPR membela diri, masalah tidak akan selesai," ujarnya.
Elite Partai Golkar itu lalu mengajak masyarakat dan para wakil rakyat membangun kesadaran kolektif dengan mengedepankan nilai kebenaran politik, yakni kemampuan merespons persoalan dengan bijak demi kebenaran substantif untuk kepentingan rakyat.
Ia juga mengingatkan pesan moral dalam agama bahwa kebencian tidak boleh mendorong sikap yang tidak adil. Menurutnya, kritik publik seharusnya menjadi bahan perbaikan kebijakan, bukan memperuncing jurang politik.
"Saya yakin bangsa ini bisa keluar dari situasi sulit. Jangan ada lagi sikap memaksakan kehendak," pungkasnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
