
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menghadiri Kongres Partai Demokrat ke-VI di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Senin (24/2). (Dery Ridwansyah/JawaPos.com ).
JawaPos.com – Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kemegahan fisik atau keunggulan militernya, tetapi lebih pada fondasi nilai, keadilan, dan moralitas yang menopangnya. Hal itu disampaikan SBY dalam Pidato Peradaban di Jakarta, Rabu (30/7).
“Satu abad terakhir, kita kerap menyaksikan negara kuat jatuh, saya ulangi, negara kuat jatuh lantaran pemimpinnya meletakkan dirinya di atas pranata hukum, di atas sistem yang adil, dan di atas kesetiaan sejati terhadap negara dan rakyatnya,” kata SBY saat menyampaikan pidato peradaban.
Ia menyampaikan, pelajaran sejarah menunjukkan daya tahan peradaban lebih ditentukan oleh kematangan nilai, ketangguhan sosial, dan kapasitas beradaptasi, bukan sekadar kejayaan militer atau kekayaan material.
Menurutnya, peradaban yang mampu bertahan adalah yang responsif terhadap perubahan, namun tetap berpijak pada moral dan keadilan.
SBY mengingatkan keruntuhan sebuah bangsa seringkali berawal dari diabaikannya keadilan dan digunakannya hukum sebagai alat kekuasaan.
Karena itu, ia menyerukan pentingnya kesetiaan kepada sistem yang adil, serta kepemimpinan yang tidak memosisikan diri di atas rakyat dan konstitusi.
"Jadi saudara-saudara, sejarah dan pemikiran para tokoh peradaban tadi memberi kita pelajaran penting. Bahwa daya tahan peradaban bukan ditentukan oleh kejayaan atau senjata. Tetapi oleh kematangan nilai, ketangguhan sosial, dan kapasitas untuk beradaptasi secara cerdas dan bermoral,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, SBY juga turut menampilkan dua lukisan karya pribadinya yang menggambarkan semangat perdamaian dan keharmonisan dengan alam Stop War, United For Peace dan Peace With Nature.
Sementara, Pembina Yayasan Institut Peradaban Jimly Asshiddiqie, menyebut SBY sebagai sosok yang berhasil mengantarkan Indonesia melalui transisi demokrasi yang mulus pasca reformasi.
”SBY berhasil mengakhiri tugas pengabdiannya dengan husnul khatimah dan terus berkarya melalui kesenian, warisan-warisan kebudayaan, dan pemikiran-pemikiran kebangsaan, serta peran aktif dalam mempromosikan kebijakan perubahan iklim dan kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup yang sehat, serta kampanye kemanusiaan untuk perdamaian dunia yang berkeadilan,” pungkasnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
