
Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri (tengah) berfoto dengan enam pasang bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur usai memberikan surat keputusan (SK) partai di Jakarta, Senin (26/8/2024). (De
JawaPos.com - Di mata Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin, pilihan PDIP untuk mengusung calon kepala daerah (cakada) yang didominasi kader sendiri memiliki keuntungan dan kekurangan tersendiri.
Bagaimana pandangan Anda terkait rekomendasi cakada PDIP?
Rekomendasi itu hak PDIP untuk mengusung siapa pun. Yang menarik soal Anies yang sempat akan diusung untuk Jakarta, tapi justru namanya nggak muncul. Bisa jadi Anies batal diusung atau setidaknya dimundurkan. Tapi, peluangnya lebih besar batal diusung. Hal itu diperkuat dengan pernyataan Bendahara Umum PDIP Olly Dondokambey yang menyebut PDIP tidak akan mengusung Anies-Rano Karno, melainkan Pramono Anung-Rano Karno. Tapi, kalah menang urusan lain.
Kenapa PDIP lebih memilih Pramono Anung-Rano Karno?
Itu karena PDIP memiliki prinsip untuk memprioritaskan kader. Tidak aneh langkah untuk tidak mengusung Anies karena memang kader itu harus lebih diutamakan.
Bagaimana tentang peluang PDIP di Jateng yang mengusung Andika Perkasa-Hendrar Prihadi?
Untuk Jateng, Andika dan Hendrar tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasangan ini cukup kuat. PDIP punya posisi menang. Tapi, Ahmad Luthfi-Suswono juga kuat. Head-to-head sebenarnya bisa saling mengalahkan di antara keduanya. Jadi, ini kompetisi yang ketat sebenarnya untuk di Jawa Tengah.
Bagaimana peta kekuatan PDIP di kandang banteng secara keseluruhan?
PDIP ini di setiap kandang mengutamakan kader. Memang kadang bisa mengusung nonkader seperti Airin (Rachmi Diany). Tapi kalau tidak memiliki kader potensial di daerah tersebut. Sedikit berbeda dengan Anies yang bisa jadi tidak diusung.
Yang pasti, ada parameter yang bisa mendorong kebijakan PDIP tersebut. Peta kekuatannya pada kelebihan memprioritaskan kader. Sehingga soliditas internal semakin kuat. Kekurangannya, PDIP dikeroyok sendirian. Tapi, pilkada itu basis kepentingan masing-masing. Yang bisa jadi nantinya bertemu.
Apakah dengan dikeroyok ini, peluang PDIP memang turun, bahkan di kandangnya?
Faktanya, saat ini memang PDIP dikeroyok. Peluangnya bisa menang dan kalah di kandang sendiri. Seperti Jatim kemungkinan kalah, Bali kemungkinan menang, Jawa Tengah bisa fifty-fifty. Tapi, semua itu akan dipengaruhi dinamika politik di setiap daerah. Kita perlu lihat bagaimana dinamikanya, menguntungkan PDIP atau justru sebaliknya. (idr/c9/ttg)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
