Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Agustus 2024 | 17.15 WIB

Ujang Komarudin: PDIP Mungkin Solid secara Internal, tapi Bisa Lemah karena Dikeroyok

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri (tengah) berfoto dengan enam pasang bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur usai memberikan surat keputusan (SK) partai di Jakarta, Senin (26/8/2024). (De - Image

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri (tengah) berfoto dengan enam pasang bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur usai memberikan surat keputusan (SK) partai di Jakarta, Senin (26/8/2024). (De

JawaPos.com - Di mata Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin, pilihan PDIP untuk mengusung calon kepala daerah (cakada) yang didominasi kader sendiri memiliki keuntungan dan kekurangan tersendiri.

Bagaimana pandangan Anda terkait rekomendasi cakada PDIP?

Rekomendasi itu hak PDIP untuk mengusung siapa pun. Yang menarik soal Anies yang sempat akan diusung untuk Jakarta, tapi justru namanya nggak muncul. Bisa jadi Anies batal diusung atau setidaknya dimundurkan. Tapi, peluangnya lebih besar batal diusung. Hal itu diperkuat dengan pernyataan Bendahara Umum PDIP Olly Dondokambey yang menyebut PDIP tidak akan mengusung Anies-Rano Karno, melainkan Pramono Anung-Rano Karno. Tapi, kalah menang urusan lain.

Kenapa PDIP lebih memilih Pramono Anung-Rano Karno?

Itu karena PDIP memiliki prinsip untuk memprioritaskan kader. Tidak aneh langkah untuk tidak mengusung Anies karena memang kader itu harus lebih diutamakan.

Bagaimana tentang peluang PDIP di Jateng yang mengusung Andika Perkasa-Hendrar Prihadi?

Untuk Jateng, Andika dan Hendrar tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasangan ini cukup kuat. PDIP punya posisi menang. Tapi, Ahmad Luthfi-Suswono juga kuat. Head-to-head sebenarnya bisa saling mengalahkan di antara keduanya. Jadi, ini kompetisi yang ketat sebenarnya untuk di Jawa Tengah.

Bagaimana peta kekuatan PDIP di kandang banteng secara keseluruhan?

PDIP ini di setiap kandang mengutamakan kader. Memang kadang bisa mengusung nonkader seperti Airin (Rachmi Diany). Tapi kalau tidak memiliki kader potensial di daerah tersebut. Sedikit berbeda dengan Anies yang bisa jadi tidak diusung.

Yang pasti, ada parameter yang bisa mendorong kebijakan PDIP tersebut. Peta kekuatannya pada kelebihan memprioritaskan kader. Sehingga soliditas internal semakin kuat. Kekurangannya, PDIP dikeroyok sendirian. Tapi, pilkada itu basis kepentingan masing-masing. Yang bisa jadi nantinya bertemu.

Apakah dengan dikeroyok ini, peluang PDIP memang turun, bahkan di kandangnya?

Faktanya, saat ini memang PDIP dikeroyok. Peluangnya bisa menang dan kalah di kandang sendiri. Seperti Jatim kemungkinan kalah, Bali kemungkinan menang, Jawa Tengah bisa fifty-fifty. Tapi, semua itu akan dipengaruhi dinamika politik di setiap daerah. Kita perlu lihat bagaimana dinamikanya, menguntungkan PDIP atau justru sebaliknya. (idr/c9/ttg)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore