Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 September 2021 | 01.49 WIB

Tak Lagi Dipimpin Anak Hendropriyono, PKPI Kini Ganti Nama Jadi PKP

Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Abdullah Makhmud Hendropriyono (kiri) mengambil nomor urut partai politik peserta pemilu, Jumat (13/4). PKPI akhirnya lolos menjadi parpol peserta pemilu 2019 setelah menang di PTUN. - Image

Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Abdullah Makhmud Hendropriyono (kiri) mengambil nomor urut partai politik peserta pemilu, Jumat (13/4). PKPI akhirnya lolos menjadi parpol peserta pemilu 2019 setelah menang di PTUN.

JawaPos.com - Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) kini berganti nama menjadi Partai Keadilan dan Persatuan (PKP). Hal tersebut diutarakan oleh Sekretaris Jenderal PKP Said Salahudin.

"Saat ini saya secara resmi telah ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal PKP yang sebelumnya bernama PKPI. Sebuah partai politik yang memiliki ratusan kursi DPRD yang tersebar di seluruh Indonesia," ujar Said kepada JawaPos.com, Kamis (2/9).

Said mengatakan, melalui partai yang didirikan oleh para tokoh bangsa ini, diantaranya Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno yang juga Wakil Presiden Indonesia ke-6, dirinya berkomitmen untuk sekuat tenaga memperjuangkan cita-cita para pendiri negara, antara lain mewujudkan persatuan bangsa, dengan seerat-eratnya, sekukuh-kukuhnya.

"Saya merasa risau dan terganggu dengan munculnya polarisasi politik di bumi Indonesia yang sudah berlangsung cukup lama dan telah menimbulkan keretakan sosial diantara elemen masyarakat," katanya.

Atas dasar kegelisahan yang mendalam pada kondisi bangsa itulah dirinya terdorong dan memutuskan untuk terjun ke dalam partai politik dengan memilih PKP sebagai alat perjuangan.

"Hari ini berkobarlah saya punya semangat yang ingin juga saya tularkan kepada seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama berjuang membangun persatuan di bumi Indonesia, bersama saya, bersama PKP, rumah besar para pejuang," ungkapnya.

Said juga mengatakan, semua pihak harus melenyapkan kepentingan diri sendiri. Hanya dengan jalan demikianlah dapat membentuk negara Indonesia merdeka yang kekal-abadi, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

"Soesanto Tirtoprodjo pernah mengingatkan sejarah negara kita telah memberi pelajaran bahwa jatuhnya bangsa Indonesia ke dalam lumpur penjajahan ialah adanya perceraian diantara bangsa kita sendiri. Hal ini hakikatnya terjadi karena selain musuh yang dari luar, ada pula musuh yang datang dari dalam hati kita sendiri, yaitu egoisme dan sifat-sifat perseorangan. Tabiat egoisme itulah yang harus bisa kita atasi," katanya.

Oleh sebab itu,, Indonesia memerlukan persatuan yang berarti bebas dari perselisihan antara golongan. Marilah semua  yang cinta pada tanah air, berduyun-duyun berjabat tangan dengan diikat oleh perasaan cinta-mencitai, harga-menghargai satu sama lain, tak pandang apa agamanya.

"Pesan dari para penyusun dasar negara itulah yang menguatkan tekad saya untuk memulai perjuangan baru ini, merajut keharmonisan diantara seluruh komponen masyarakat yang heterogen, demi mewujudkan persatuan bangsa," pungkasnya.

Diketahui, Diaz Hendropriyono sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PKP. Dia digantikan oleh Yussuf Solichien yang terpilih dalam perhelatan musyawarah nasional luar biasa (Munaslub) pada Mei 2021 lalu.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore