JawaPos.com - Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) Ganjar Pranowo-Mahfud MD meyakini pendidikan merupakan kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan. Karena itu, Ganjar-Mahfud berencana membawa program Sekolah Menengah Kejuruan (SMKN) gratis yang sudah berjalan di Jawa Tengah menjadi program nasional.
Juru bicara Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Aryo Seno Bagaskoro mengatakan, gagasan tersebut berasal dari pengalaman pribadi keduanya, di mana mereka berasal dari keluarga yang pernah mengalami kesulitan dalam membiayai pendidikan.
“Visi Pak Ganjar ke depan, SD-SMP-SMA (SMK) yang dikelola oleh pemerintah harus bisa gratis. Termasuk dalam hal pendidikan vokasi,” kata Seno kepada wartawan, Jumat (24/11).
“Beberapa sekolah swasta atau lembaga pendidikan berbasis agama yang memenuhi syarat untuk dibantu subsidi, harus difasilitasi juga,” sambungnya.
Tak hanya pada tingkatan bawah hingga menengah, Ganjar-Mahfud juga akan memastikan setiap keluarga miskin memiliki minimal satu sarjana. Dia meyakinkan bahwa Ganjar dan Mahfud akan mengalokasikan anggaran guna mewujudkan program tersebut yang telah berjalan di Jawa Tengah.
“Pembagian pengelolaan kewenangan pendidikan antara pemerintah pusat dan pemda dapat dimaksimalisasi gotong royongnya. Siapa mengelola apa, kemudian penganggarannya diprioritaskan dalam hal pendidikan,” tegasnya.
Seno menekankan bahwa semua program tersebut tidak muncul tanpa alasan, melainkan memiliki keterkaitan dan dasar yang kuat. Program itu juga hadir dari pengalaman Ganjar-Mahfud yang bukan dari kalangan keluarga berada.
“Maka program dan visi misi yang dibuat adalah berdasarkan pengalaman hidup di masa lalu, sekaligus menyambung best practices yang pernah dilakukan oleh beliau berdua, dalam konteks ini Pak GP saat menjabat sebagai Gubernur Jateng,” tegasnya.
Ganjar Pranowo sebelumnya bertedak untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan tenaga kerja sesuai dengan tuntutan industri. Karena itu dalam mewujudkan visi tersebut, ia mengusulkan program teaching industry.
Ganjar berharap agar materi pendidikan dan kebutuhan industri dapat saling terintegrasi, sehingga calon pekerja dapat terserap dengan optimal. Ia mencatat bahwa upaya percontohan program tersebut telah dilakukannya di tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa Tengah.
“Pada saat saya jadi gubernur, saya buat SMK di Jateng, tiga sebagai uji coba, hanya menerima dari kelompok miskin. Ketat, kami bayar penuh, boarding school, sampai hari ini 100 persen lulusannya terserap,” ucap Ganjar beberapa waktu lalu.
Sebelum mendekati akhir masa jabatannya sebagai Gubernur Jawa Tengah, terdapat tujuh SMK di wilayah tersebut yang mendapat dukungan nyata dari sembilan perusahaan yang tergabung dalam Konsorsium Pengusaha Peduli Sekolah Vokasi RI. Fakta ini mencakup pembangunan dan penyediaan fasilitas pendukung di tujuh SMK, sesuai dengan keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan oleh tenaga kerja.
Pria berambut putih itu menjelaskan bahwa keterlibatan pemerintah dan dunia usaha dalam menyusun perencanaan bersama telah tepat. Hal ini berarti kebutuhan tenaga kerja industri dapat dipenuhi melalui sekolah vokasi atau SMK.
Menurutnya, partisipasi pemerintah dan dunia usaha dalam perencanaan tersebut sudah tepat, yang berarti sekolah vokasi atau SMK dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri. Ganjar juga menjelaskan bahwa beberapa SMK di Jawa Tengah telah berhasil menjalin kerja sama selama tahun 2021-2022.
Beberapa SMK itu termasuk SMKN 2 Surakarta, SMKN 4 Surakarta, SMKN 5 Surakarta, SMKN 6 Surakarta, SMKN 8 Surakarta, SMK Mandala Bhakti Surakarta, SMKN 3 Semarang, SMKN 2 Sukoharjo, SMK Tunas Harapan Pati dan SMKN 2 Kendal.
Sembilan perusahaan yang tergabung dalam konsorsium melibatkan PT Profesional Telekomunikasi Indonesia, PT Sinarmas, Bakti Barito, PT Agung Sedayu Group, PT Indofood, Wings, Garuda Food, Triputra Group, dan First Resources. Melalui konsep teaching factory, industri akan mengevaluasi potensi lulusan SMK yang telah dipersiapkan.
Ganjar menyebutkan bahwa sekolah dapat melakukan penyesuaian untuk menarik minat lebih banyak industri dalam menerima lulusan SMK.
Dengan harapan siswa SMK dapat mengimbangi keterampilan teknis dengan soft skill, etika, dan karakter yang baik, sehingga industri yang menerima mereka akan puas dengan kualitas tenaga kerja SMK Indonesia.
Ganjar Pranowo telah menginisiasi program SMKN Jateng, sebuah sekolah berbasis asrama yang memberikan pendidikan gratis kepada masyarakat kurang mampu. Para siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan tanpa biaya, tetapi juga mendapatkan fasilitas seperti sepatu, seragam, asrama, dan makanan secara gratis.
"Program ini juga memiliki kemitraan yang kuat dengan berbagai perusahaan atau industri untuk meningkatkan peluang pekerjaan bagi lulusan SMK. Program ini dianggap sebagai cikal bakal pendidikan yang mampu menghasilkan generasi muda yang berkualitas," tegasnya. (*)