
Ilustrasi. Pemilu 2024. (Dimas Pradipta/JawaPos.com)
JawaPos.com - Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang dibolehkannya kampanye di lingkungan kampus tanpa atribut menuai respon banyak pihak, salah satunya dosen sekaligus pengamat politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga, Irfa'i Afham.
Menanggapi putusan MK itu, Irfa'i Afham membeberkan dampak dan tantangan jika benar-benar terjadi di area kampus. Menurutnya, masuknya politik ke dalam kampus tak bisa terelakan terlebih saat dinamika politik semakin dinamis di era digitalisasi ini.
"Saya sepakat dengan kehidupan politik yang dinamis di lingkungan kampus karena di kampus menjadi tempat lahirnya ide-ide politik besar dan alternatif dalam konteks berbangsa dan bernegara," kata Irfa'i Afham dikutip dari Website Universitas Airlangga pada Selasa (29/8).
Ia menuturkan adanya politik di kampus tak bisa terlepas dari sejarah yang pernah ada. Irfa'i mengatakan periode otoritarian di Indonesia lah yang membawa dampak partisipasi politik di kampus.
"Kita pernah mengalami 32 tahun era otoritarian di bawah pemerintahan Presiden Soeharto. Dampaknya adalah pasifnya keterlibatan politik di kampus. Mahasiswa dan dosen yang berpendapat kritis sering ada anggapan sebagai ancaman, bukan sebagai potensi untuk mengembangkan ide-ide besar dalam politik," tambah Dosen Ilmu Politik tersebut.
Meski kampus merupakan bagian dari wadah mahasiswa dalam belajar berpolitik, namun mahasiswa harus tetap menjaga batasan sehingga tak ikut masuk ke dalam politik praktis.
"Batasan yang diperlukan adalah bagaimana institusi pendidikan tetap menjaga diri dari campur tangan politik praktis yang hanya fokus pada kemenangan dalam pemilu. Tetapi seharusnya juga mengarah pada agenda lebih besar yang terkait dengan nasionalisme," ujar Irfa'i
Irfa'i Afham juga menyebut bahwa mahasiswa para penyelenggara kampanye di kampus harus tetap memperhatikan etika. menurutnya isu anti korupsi harusnya menjadi agenda utama untuk ditanamkan di kampus lewat ajang politik ini.
"Agenda anti korupsi seharusnya menjadi agenda utama dalam memperkuat budaya politik di kalangan mahasiswa, yang mencakup dalam pembentukan karakter yang toleran dan demokratis," kata Irfa'i.
Ia juga tak menampik bahwa kampanye di kampus memiliki dampak baik dan buruk bagi mahasiswa. Dampak baiknya, Irfa'i menyebutkan kampanye bisa membentuk kultur kritis yang sehat bagi kalangan mahasisawa. Hal tersebut sebagaimana praktik kampanye yang ada di kampus-kampus luar negeri.
"Ketika saya belajar di Eropa, khususnya di Prancis, saya melihat suasan politik yang dinamis dimana mahasiswa, calon legislatif, calon walikota dan calon presiden berdiskusi tentang gagasan-gagasan. Ini sangat penting dalam membangun kultur kritis di kalangan mahasiswa," tutupnya
Namun ada juga dampak buruk kampanye di kampus menurut Dosen Ilmu Politik, Universitas Airlangga ini. Salah satunya menimbulkan sikap intoleransi jika belajar dari pemilu terakhir di Indonesia pada 2019 silam.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
