
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto saat menggelar jumpa pers di Kantor DPP PDIP di Jakarta, Rabu (11/12/2019). Rakernas I sekaligus peringatan HUT partai ke 47 pada 10-12 Januari 2020 di Jakarta ini mengangkat tema
JawaPos.com - Peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) 1996 menjadi catatan sejarah tersendiri bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Saat ini genap 24 tahun peristiwa itu berlalu.
Saat itu, Kantor PDI yang dipimpin Megawati Soekarnoputri mendapat serangan dari kubu Soerjadi (Ketua Umum PDIP versi kongres Medan) hingga terjadi huru-hara di sekitaran Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Banyak korban nyawa dan orang hilang dilaporkan saat itu.
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, meski kala itu Kantor PDIP luluh lantak, namun sejarah mencatat, energi perjuangan tidaklah surut. Apa yang dilakukan oleh Megawati Soekarnoputri dengan memilih jalur hukum, di tengah kuatnya pengaruh kekuasaan yang mengendalikan seluruh aparat penegak hukum saat itu, sangatlah baik.
"Kekuatan moral itu mendapatkan momentumnya ketika seorang hakim di Riau yang bernama Tobing, mengabulkan gugatan Ibu Megawati. Disinilah hati nurani menggalahkan tirani," ujar Hasto kepada wartawan, Senin (27/7).
Menurut Hasto, kekuatan politik moral yang secara lantang diteriakan Megawati Soekarnoputri tanpa harus menghujat orang lain mendapat sambutan positif. Padahal rakyat tahu, bagaimana praktik keluarga Bung Karno mendapatkan berbagai bentuk tekanan dan diskriminasi politik.
"Ketika saya menanyakan sikap Ibu Mega terkait hal tersebut, keluarlah jawaban yang diluar perkiraan saya," ujar Hasto.
Saat itu, Ketua umumnya mengatakan, tidak ingin sejarah buruk terulang, seorang Presiden begitu dipuja berkuasa, dan dihujat ketika tidak berkuasa. Rakyat telah mencatat apa yang dialami oleh keluarga Bung Karno. Karena itulah, mengapa Bung Karno selalu berada di hati dan pikiran rakyat.
"Kita tidak boleh dendam lalu hanya melihat masa lalu, dan melupakan masa depan," kata Hasto menirukan pernyataan Megawati.
"Maka Kudatuli mengajarkan inti dari kekuatan moral politik. Pilihan jalur hukum saat itu memperkuat moral pejuang demokrasi. Kudatuli menjadi benih perjalanan reformasi dimana kekuatan rakyat menyatu dan mampu mengalahkan tirani," imbuhnya.
Di balik jatuhnya Soeharto, lanjut Hasto, Megawati juga telah mengajarkan politik rekonsiliasi, berdamai dengan masa lalu dan melihat masa depan. "Disitulah hadir kekuatan moral seorang pemimpin," pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
