Amar Brkic dan Welber Jardim, 2 pemain diaspora yang memperkuat Timnas U-17 Indonesia.
Menurut sang ibu, Welber Jardim betah di sini meski terkendala cuaca panas. Baik yang datang dari Brasil, Selandia Baru, maupun Kanada, para orang tua sepakat bukan menang-kalah yang terpenting, tetapi pengalaman bermain di Piala Dunia.
BAGUS P.P., Surabaya, FARID S.M., Solo, DIMAS R., Kab. Bandung
---
TAK terkira kebanggaan Elisangelo Jardim de Jesus melihat buah hatinya, Welber Jardim, berseragam Garuda Asia. Meski warga Brasil, bagi mantan gelandang Persiba Balikpapan itu, yang terpenting buah pernikahannya dengan Lielyana Halim itu bahagia bermain.
’’Apa pun yang dia pilih, Indonesia atau Brasil, saya sebagai orang tua akan selalu mendukung,’’ katanya saat dihubungi Jawa Pos kemarin (15/11).
Elisangelo dan sang istri tiba di Surabaya pada Minggu (12/11) dan menginap di hotel yang berbeda dari hotel skuad Indonesia U-17. Besok (13/11) siangnya, mereka mengunjungi Welber. Kemudian, malam harinya langsung menuju ke Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, tempat dihelatnya laga Indonesia U-17 versus Panama U-17.
Laga berakhir imbang 1-1. Gol Garuda Asia yang dicetak Arkhan Kaka merupakan umpan dari Welber yang bermain di posisi bek kanan.
Sejak awal sang istri, Lielyana, dihubungi PSSI, Elisangelo mendukung penuh apa pun pilihan sang anak. ’’Justru semua tergantung Sao Paolo (klub Welber). Begitu klub sudah memberikan izin, dia langsung pergi ke Indonesia,’’ paparnya.
Kepadanya, Welber mengaku ingin membela Indonesia karena dirinya punya ikatan kuat dengan negeri tempat dia dilahirkan. ’’Saya kira ini momen yang bagus buat anak saya karena dia langsung bisa bermain di ajang Piala Dunia,’’ beber pria yang fasih berbahasa Indonesia itu.
Lielyana menuturkan, sejak kecil Welber tak bisa dipisahkan dari sepak bola. ’’Dari pagi sampai sore mainnya bola dan bola,’’ kata perempuan asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu. Hanya beberapa kegiatan lain yang bisa membuatnya sejenak lupa dengan sepak bola. ’’Kadang juga suka main layang-layang, sama bersepeda,’’ ujarnya.
DATANG DARI BRASIL: Elisangelo Jardim de Jesus dan Lielyana Halim.
Welber yang lahir di Bali dibawa orang tuanya ke Brasil saat berusia 5 tahun. Meski demikian, Indonesia tetap dia akrabi. ’’Setiap hari saya selalu menyelipkan bahasa Indonesia dalam percakapan dengan anak-anak. Tujuannya agar mereka bisa berkomunikasi dengan keluarga saya di Indonesia,’’ jelas Lielyana.
Lielyana sudah lama tidak mengajak Welber mudik ke Banjarmasin. ’’Karena sekarang anak-anak sudah sekolah dan punya banyak kegiatan. Apalagi, Welber masih ikut kompetisi (di Brasil, Red),’’ tambahnya.
Dia belum tahu apakah seusai Piala Dunia U-17 Welber akan diajak pulang kampung. Yang jelas, Lielyana menyebut anaknya betah di Indonesia. ’’Kesulitan yang dirasakan anak saya cuma satu, cuaca (panas),’’ terangnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
