
Timnas Argentina. (Istimewa)
JawaPos.com - Perbedaan sudut pandang membuat permainan Timnas Argentina dan Atletico Madrid sering menjadi objek kritik sekaligus kekaguman. Di berbagai negara sepak bola memiliki identitas permainan yang kuat.
Seperti Jerman dikenal dengan dengan Turniermannschaft, yaitu kemampuan tampil maksimal saat turnamen besar. Brasil identik dengan Jogo Bonito yang menonjolkan keindahan permainan dan kreativitas individu.
Spanyol membangun reputasi melalui Tiki-Taka, gaya bermain yang mengandalkan penguasaan bola dan struktur permainan yang rapi. Argentina memiliki karakter yang berbeda.
Filosofi sepak bola mereka sejak lama berada di antara dua kutub besar, yakni Menottismo dan Bilardismo. Menottismo, yang berasal dari pemikiran Cesar Luis Menotti, menempatkan kreativitas, kebebasan berekspresi, dan permainan menyerang sebagai nilai utama.
Di sisi lain, Bilardismo yang dipopulerkan Carlos Bilardo lebih menekankan pragmatisme, kemampuan beradaptasi dengan lawan, serta keyakinan bahwa kemenangan adalah tujuan akhir yang harus dicapai dengan segala cara yang sah dalam pertandingan.
Perbedaan inilah yang membuat Argentina sering dipandang unik. Mereka tidak selalu terikat pada satu cara bermain. Dalam banyak kesempatan, tim Argentina mampu tampil menyerang dan atraktif, tetapi juga tidak ragu bermain lebih pragmatis ketika situasi menuntut hal tersebut.
Baca Juga:Prediksi Susunan Pemain Timnas Jerman vs Pantai Gading: Manuel Neuer Ingin Segel Tempat ke 32 Besar
Karakter serupa dapat ditemukan pada Atletico Madrid di bawah arahan pelatih Diego Simeone. Filosofi yang dikenal sebagai Cholismo menempatkan kerja keras, pengorbanan, solidaritas tim, serta daya juang sebagai fondasi utama.
Fokusnya bukan pada estetika permainan, melainkan bagaimana sebuah tim bisa bersaing dan memenangkan pertandingan melawan lawan yang lebih kuat. Karena itu, tidak sedikit penggemar sepak bola yang memandang Argentina dan Atletico Madrid dengan cara yang sama.
Bagi sebagian orang, pendekatan tersebut dianggap terlalu pragmatis dan kurang menghibur. Namun bagi pendukungnya, filosofi itu justru mencerminkan esensi kompetisi: kemampuan beradaptasi, bertahan dalam tekanan, dan menemukan jalan menuju kemenangan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022