Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 17 Juni 2026 | 00.56 WIB

FIFA Selidiki Dugaan Gestur 'White Power' yang Dilakukan Seorang Wasit Piala Dunia 2026

FIFA membuka penyelidikan setelah seorang petugas VAR asal Australia dituduh memperlihatkan gestur yang dikaitkan dengan simbol supremasi kulit putih saat laga Jerman vs Curaçao di Piala Dunia 2026. (Istimewa) - Image

FIFA membuka penyelidikan setelah seorang petugas VAR asal Australia dituduh memperlihatkan gestur yang dikaitkan dengan simbol supremasi kulit putih saat laga Jerman vs Curaçao di Piala Dunia 2026. (Istimewa)

JawaPos.com - FIFA akan melakukan penyelidikan setelah salah satu petugas pertandingan dituduh memperlihatkan gestur yang dikaitkan dengan simbol supremasi kulit putih saat pertandingan Piala Dunia 2026 antara Jerman dan Curaçao.

Petugas yang dimaksud adalah wasit asal Australia, Shaun Evans, yang bertugas sebagai VAR pendukung dalam kemenangan telak Jerman 7-1 atas Curaçao di Grup E, Minggu lalu.

Melansir The Express, kontroversi muncul ketika siaran televisi menampilkan tim VAR menjelang kick-off. Evans yang berusia 38 tahun terlihat membuat simbol "OK" terbalik dengan tangan kanannya yang berada di atas paha.

Gestur tersebut selama beberapa tahun terakhir kerap dikaitkan dengan kelompok supremasi kulit putih dan gerakan ekstrem kanan.

Simbol serupa pernah digunakan oleh Brenton Tarrant, pelaku serangan terhadap dua masjid di Selandia Baru pada 2019 yang menewaskan 50 orang, saat dirinya hadir di pengadilan setelah penangkapannya.

Simbol yang Memiliki Berbagai Makna

Pada tahun yang sama, organisasi Anti-Defamation League (ADL) menjelaskan bahwa simbol "OK" telah menjadi salah satu bentuk "trolling" yang populer di kalangan kelompok sayap kanan.

Namun, ADL juga menegaskan bahwa penggunaan paling umum dari gestur tersebut tetap sebagai tanda persetujuan atau untuk menunjukkan bahwa seseorang dalam keadaan baik-baik saja.

ADL mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan mengenai niat seseorang yang menggunakan simbol tersebut.

Meski demikian, organisasi tersebut mengakui bahwa dalam konteks tertentu, simbol itu memang dapat digunakan sebagai ekspresi supremasi kulit putih. BBC juga melaporkan pada 2019 bahwa simbol tangan "OK" telah dimasukkan ke dalam daftar simbol kebencian.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore