
Aleksander Ceferin dapat kecaman dari 13 federasi sepak bola dunia. (@UEFA/X)
JawaPos.com - Presiden UEFA Aleksander Ceferin menuai kritik dari sejumlah federasi sepak bola di Asia, Afrika, dan Karibia terkait pernyataannya mengenai format Piala Dunia 2026 yang diperluas menjadi 48 tim. Kritik itu disampaikan melalui pernyataan bersama yang dirilis pada Senin (15/6) oleh 13 federasi sepak bola.
Sebanyak 13 federasi yang tergabung di dalamnya, yaitu Tanjung Verde, Curacao, Uzbekistan, Kongo, Haiti, Aljazair, Tunisia, Maroko, Mesir, Ghana, Senegal, Pantai Gading, dan Afrika Selatan mengecam Ceferin. Pernyataan bersama itu menegaskan bahwa mereka menolak pernyataan Ceferin yang dinilai merendahkan.
“Kami hargai, tetapi kami tegas menolak komentar-komentar itu,”tulis pernyataan resmi yang dikutip dari media sosial Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko.
Kelompok solidaritas federasi itu juga menyebut bahwa sepak bola bukan hanya milik segelintir negara besar. “Sepak bola tidak dimiliki oleh kelompok negara tertentu. Kekuatan olahraga ini terletak pada universalitasnya,” tulis pernyataan itu.
Mereka juga menekankan bahwa partisipasi di Piala Dunia FIFA bukan sekadar pencapaian olahraga, tetapi juga berdampak besar bagi perkembangan sepak bola di suatu negara. “Bagi banyak negara, tampil di Piala Dunia bukan hanya prestasi olahraga. Ini adalah momen yang menginspirasi generasi, mempercepat perkembangan sepak bola, dan menciptakan kenangan yang bertahan seumur hidup,” lanjut pernyataan itu.
Sejumlah negara yang tergabung dalam solidaritas tersebut mencatat sejarah dengan lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya, seperti Tanjung Verde, Curaçao, dan Uzbekistan. Sementara itu, Kongo dan Haiti kembali tampil setelah absen sejak 1974.
“Bagi Tanjung Verde, Curacao, dan Uzbekistan, lolos ke Piala Dunia merupakan pencapaian bersejarah dan realisasi mimpi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mengenai negara seperti Kongo dan Haiti, kembalinya mereka ke panggung terbesar sepak bola dunia setelah penantian panjang memiliki makna khusus bagi jutaan pendukung yang telah menunggu selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun” tulis pernyataan itu.
Solidaritas federasi itu juga menyayangkan anggapan yang meremehkan kualitas pertandingan yang melibatkan negara-negara berkembang. “Menyatakan bahwa pertandingan tersebut kurang penting merupakan hal yang sangat mengecewakan dan tidak menghargai usaha, pengorbanan, serta aspirasi para pemain, pelatih, klub, pemimpin sepak bola, dan pendukung di seluruh dunia,” tulis pernyataan itu.
Dilansir dari AP News, kontroversi itu berawal dari komentar Ceferin yang dilaporkan oleh media Slovenia Zurnal 24 dan Dosi saat menghadiri konferensi di Ljubljana pada awal pekan lalu. Dalam kesempatan itu, Ceferin disebut menyatakan bahwa format 48 tim menghasilkan banyak pertandingan yang tidak menarik.

Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Port FC di Piala Presiden 2026: Green Force Bisa Sapu Bersih Laga!
Update Kondisi Alex Martins! Dibawa ke Rumah Sakit, Pelatih Persebaya Surabaya Tunggu Kabar Terbaru
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Voli Indonesia Berduka, Mantan Pemain Jakarta Pertamina Enduro Meninggal Dunia
Prediksi Skor Persija Jakarta vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Jaga Asa ke Semifinal!
Jadwal Aston Villa vs Indonesia All Stars: Jam Kick-off, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad
Hasil Babak Pertama Persebaya vs Port FC: Miguel Pereira Cetak Gol Perdana, Skor Masih 1-1
Prediksi Persebaya Surabaya vs Port FC: Bruno Moreira Dikabarkan Cedera, Bernardo Tavares Buka Peluang Rotasi Pemain
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
