
Photo
JawaPos.com - Nama Desa Maroko di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, mendadak viral di media sosial.
Bersamaan dengan itu pula, lagu Dari Sabang sampai Merauke kembali hit.
Tapi, judul lagu nasional itu kemudian dipelesetkan menjadi Dari Sabang sampai Maroko. Semua itu tak lepas dari kejutan yang ditorehkan Maroko. Kejutan yang membuat Maroko seolah menjadi bagian dari NKRI.
Ya, Maroko adalah fenomena. Maroko adalah tim Afrika pertama yang lolos ke semifinal Piala Dunia. Tak ada unsur keberuntungan atas capaian Maroko.
Sebab, tim berjuluk Singa Atlas ini melaju dengan sejumlah fakta menakjubkan. Maroko belum tersentuh kekalahan.
Maroko juga tim yang paling minim kebobolan. Di luar adu penalti, gawang tim asuhan Walid Regragui ini baru satu kali kemasukan. Itu pun lewat gol bunuh diri.
Fakta yang sebetulnya sudah cukup membuktikan bahwa Maroko bukanlah sekadar kuda hitam.
Maroko tak seperti Arab Saudi yang sempat bikin kejutan dengan menumbangkan Argentina di laga perdana. Tapi, setelah itu Saudi malah balik ke setelan pabrik.
Maroko lebih konsisten. Mereka bermain dengan mengandalkan strategi bertahan yang solid.
Belgia, Spanyol, dan Portugal pernah dibuat frustrasi lewat strategi bertahan dan serangan balik mematikan dari Hakim Ziyech dkk.
Tentu, kejutan yang ditorehkan Maroko tak muncul secara instan. Ada proses panjang yang mengiringi. Sejak 2009, negeri di Afrika Utara ini sudah membangun berbagai fasilitas sepak bola berstandar FIFA.
Federasi mereka juga getol mendorong pemain U-18 untuk meniti karier di Eropa. Kompetisi domestik Maroko kini juga tercatat sebagai liga terbaik di Afrika.
Dan, yang paling utama, banyak pemain Maroko yang bertebaran di liga-liga elite Eropa. Sinergi itu akhirnya mampu membentuk kekuatan timnas Maroko yang cetar di Qatar.
Nah, Maroko kini telah mencapai babak semifinal. Dukungan terhadap Singa Atlas pun terus mengalir. Bukan hanya dari warga Maroko.
Tapi juga dari fans yang jagoannya sudah tereliminasi. Bagi mereka, Maroko adalah pengobat kekecewaan. Mereka lebih senang melihat Maroko menjadi juara ketimbang tim semifinalis lainnya.
Mereka abai dengan status Hakim Ziyech dkk yang tak dianggap di bursa favorit juara. Prancis, Argentina, dan Kroasia memang jauh lebih diunggulkan.
Tapi, mereka tak peduli. Bahkan, mereka sudah memberi warning.
Bunyinya: Bagi siapa pun yang meremehkan Maroko, ingat pesan di bungkus rokok: MAROKO MEMBUNUHMU. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
