
Pakar AI asal Malaysia Franklin Styne memberikan pelatihan pemanfaatan AI kepada guru dan kepala sekolah Yayasan Khadijah di Surabaya. (Juliana Christy /Jawa Pos)
JawaPos.com - Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin masif di berbagai sektor turut memunculkan kekhawatiran di kalangan pendidik.
Tidak sedikit guru yang mulai mempertanyakan apakah peran mereka suatu saat akan tergantikan oleh teknologi.
Kekhawatiran tersebut mengemuka dalam pelatihan pemanfaatan AI bagi guru dan kepala sekolah di lingkungan Yayasan Khadijah. Pelatihan menghadirkan pakar AI asal Malaysia, Franklin Styne, yang memberikan pemahaman tentang pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran.
Menurut Franklin, kecemasan bahwa AI akan menggantikan guru sebenarnya tidak perlu berlebihan. Sebab, teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja pendidik. “Kabar baiknya, guru tidak akan pernah digantikan AI. Namun kabar buruknya, Anda bisa digantikan oleh guru lain yang sudah lebih mahir menggunakan AI,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini bukanlah persaingan antara manusia dan mesin, melainkan kesenjangan kompetensi antarguru dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Guru yang mampu memanfaatkan AI dinilai akan memiliki keunggulan dalam menyusun materi, merancang pembelajaran, hingga melakukan evaluasi siswa.
Franklin mengungkapkan, sekitar 38 persen waktu kerja guru selama ini tersita untuk urusan administrasi. Mulai dari menyusun rencana pembelajaran hingga membuat soal ujian yang kerap membutuhkan waktu berhari-hari.
“Apa yang paling membutuhkan banyak waktu guru? Menyusun lesson plan dan membuat soal ujian. Dengan AI, pekerjaan seperti itu bisa dilakukan lebih cepat sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk fokus mendampingi siswa,” katanya.
Melihat perkembangan tersebut, Yayasan Khadijah mulai memasukkan penguasaan teknologi AI sebagai salah satu arah pengembangan pendidikan jangka panjang. Saat ini yayasan tengah menyusun Rencana Pengembangan Jangka Panjang (RPJP) 2026–2035 yang menempatkan AI dan penguatan bahasa Inggris sebagai salah satu indikator kinerja utama.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Prediksi Skor Rennes vs Olympiakos: Tuan Rumah Andalkan Kekuatan Bermain di Roazhon Park
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Club Brugge di Liga Champions: Blauw-Zwart Bidik Kemenangan Tandang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Bonek Murka! Persebaya Dibantai Kendal Tornado, Uston Nawawi Gantikan Tavares?
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
8 Hal yang Dianggap Membosankan oleh Ekstrovert, tetapi Justru Menjadi Kebahagiaan bagi Introvert

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022