
Mendiktisaintek Brian Yuliarto. (Novia Herawati/JawaPos.com)
JawaPos.com - Dunia riset Tanah Air diguncang isu dugaan pemalsuan penelitian. Gongnya lagi, hasil riset yang diduga abal-abal tersebut telah dibawa ke konferensi ilmiah para ahli pneumonia seluruh dunia, ISPPD, di Kopenhagen, Denmark pada 17-21 Mei.
Sekilas, seolah tak ada yang aneh dari riset berjudul Multi-Strain Machine Learning Identifies Transcriptomic Combination Vulnerabilities In Multidrug-Resistant Streptococcus Pneumoniae itu ditulis tiga peneliti WNI atas nama Prihatini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti. Sampai akhirnya, beberapa kejanggalan dibongkar peneliti lain, Wa Ode Dwi Daningrat dan Ida Bagus Mandhara Brasika yang turut hadir.
Keduanya pun menuliskan kejanggalan-kejanggalan melalui akun Instagram. Kejanggalan tersebut antara lain, melakukan pemalsuan identitas. Salah satu panelis dari riset tersebut diketahui sempat gonta-ganti nama saat presentasi dengan bermodal ganti jilab dan nametag.
Kedua, soal lokasi riset. Dwi Daningrat dan Mandhara Brasika menilai lokasi penelitian agak sedikit tidak masuk akal. Pasalnya, riset dilakukan di beberapa negara mulai dari Peruvian Andes, Dataran Tinggi Wthiopia, Dataran Tinggi Guetemala, Lebanon, Nepal, Hingga India Utara.
Kecurigaan semakin menguat ketika seluruh periset merupakan warga Indonesia tanpa kolaborator setempat dan keterangan persetujuan etik. Puncaknya, afiliasi institusi yang disebut para peneliti tersebut tidak ditemukan di Indonesia.
Dalam papper yang disampaikan, ketiga peneliti ini menyebutkan AI-BioMedicine Research Group, IMCDS-Biomed Research Foundation, Jakarta, Indonesia sebagai afiliasi organisasinya. Tak hanya itu, ketiganya diduga membuat penelitian ini dengan bantuan Artificial Intelligence (AI).
Baca Juga:Mendiktisaintek Brian Yuliarto Dalami Dugaan Pemalsuan Riset 'Demi Jalan-jalan Gratis' ke Denmark
”Risetnya dibuat terlihat sangat hebat padahal tidak pernah ada. Data palsu, digenerate AI, gambar dan tulisannya juga,” ujar Dwi Daningrat saat dihubungi Jawa Pos, Rabu (27/5).
Dia bahkan mengaku sempat bertanya langsung ke salah satu peneliti, Prihantini, untuk meminta penjelasan mengenai penelitian mereka. Termasuk poster yang dibawa. Sayangnya, Prihantini tak bisa menjelaskan apapun.
”Katanya seluruh abstrak mereka degenerate oleh leader mereka atas nama Rifaldy Fajar,” ungkap Dwi Dananingrat.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
