Ilustrasi membangun literasi keuangan di kalangan anak-anak sejak dini.(30Seconds)
JawaPos.com-Di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya konsumtif sejak usia muda, anak-anak kini menghadapi tantangan baru: bagaimana memahami nilai uang di dunia yang serba instan.
Akses mudah ke dompet digital, tren belanja online, hingga pengaruh media sosial membuat banyak anak terbiasa mengonsumsi, tapi belum tentu memahami arti dari menghasilkan dan mengelola uang.
Padahal, literasi keuangan sejak dini adalah keterampilan hidup yang sama pentingnya dengan membaca atau berhitung. Anak-anak yang memahami cara mengatur uang berpotensi tumbuh menjadi individu yang lebih mandiri, tangguh, dan bijak dalam mengambil keputusan finansial.
Menjawab kebutuhan itu, program edukasi finansial Cha-Ching mencatat tonggak besar di Indonesia: lebih dari satu juta siswa sekolah dasar di 60 kota/kabupaten kini telah mengikuti kurikulumnya.
Program hasil kolaborasi Prudential Indonesia, Prudence Foundation, dan Prestasi Junior Indonesia (PJI) ini juga melibatkan lebih dari 31.500 guru dari 20.000 sekolah di seluruh Indonesia.
Program Cha-Ching sendiri diklaim telahbdikembangkan untuk mengajarkan keuangan dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami anak-anak.
Melalui karakter animasi, lagu, dan cerita interaktif, siswa diajak memahami empat konsep dasar pengelolaan uang: Earn (Menghasilkan), Save (Menabung), Spend (Belanja), dan Donate (Berdonasi).
Konsep ini membantu anak-anak belajar nilai kerja keras, kebijaksanaan dalam berbelanja, serta pentingnya berbagi.
“Saya jadi tahu kalau uang harus dipakai dengan bijak. Pelajarannya seru karena ada lagu dan videonya,” ujar Muhammad Naufal Al-Ghifari, siswa SDN Cibeber Hilir, Kabupaten Bandung Barat, yang ikut dalam program ini.
Pendekatan semacam ini diyakini membuat literasi finansial bukan sekadar teori, tapi menjadi bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari.
Sejak pertama kali hadir di Indonesia pada 2017 di Sidoarjo, Cha-Ching telah menjangkau ribuan siswa dan guru. Namun pandemi COVID-19 menjadi tantangan besar ketika kegiatan tatap muka terhenti total.
Alih-alih berhenti, program ini justru bertransformasi menjadi pembelajaran digital interaktif pada 2021–2022.
Melalui teks, gambar, video, dan konten daring, siswa tetap bisa belajar dari rumah. Inovasi ini juga memperluas jangkauan ke daerah-daerah yang sebelumnya sulit dijangkau secara fisik.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Thailand vs Singapura di Semifinal Piala AFF 2026, Gajah Perang Unggul Agregat 3-1
