Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Oktober 2025 | 19.30 WIB

Kemendiktisaintek Kucurkan Rp 57,5 Miliar, Agar Hasil Penelitian Nggak Cuma Numpuk di Kampus

Direktur Desimenasi dan Pemanfaatan Saintek Kementerian Diktisaintek Yudi Darma (dua dari kanan) dalam diskusi Fortadik di Jakarta (3/10) malam. (Hilmi/Jawa Pos) - Image

Direktur Desimenasi dan Pemanfaatan Saintek Kementerian Diktisaintek Yudi Darma (dua dari kanan) dalam diskusi Fortadik di Jakarta (3/10) malam. (Hilmi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pemerintah berupaya melakukan hilirisasi hasil penelitian di perguruan tinggi. Disiapkan anggaran sebanyak Rp 57,5 Miliar untuk menjalankannya. Harapannya supaya hasil penelitian tidak sebatas jadi pajangan di meja kampus.

Program hilirisasi hasil penelitian atau riset itu disampaikan Direktur Desimenasi dan Pemanfaatan Saintek Kementerian Diktisaintek Yudi Darma dalam Diskusi Fortadik di Jakarta. "Sebentar lagi akan kita luncurkan, namanya Bestari," kata Yudi dalam keterangannya (5/10).

Secara garis besar, skemanya adalah setiap kampus mengusulkan hasil risetnya. Nanti di Kementerian Diktisaintek akan dilakukan penilaian. Hasilnya nanti akan diberikan pendanaan untuk hilirisasi hasil riset tersebut.

Yudi juga berpesan supaya dalam melaksanakan riset atau penelitian, kampus lebih banyak melibatkan unsur masyarakat. "Supaya bisa memahami masalah yang dihadapi masyarakat itu apa," jelasnya.

Pelibatan masyarakat itu di antaranya bisa dengan menggandeng pelaku UMKM. Jadi perguruan tinggi akan mendapatkan informasi, masalah apa yang sedang dihadapi oleh pelaku UMKM. Kemudian perguruan tinggi dengan segala keunggulan SDM yang dimiliki, bisa melakukan riset atau inovasi untuk memecahkannya.

Dia menjelaskan di kampus selama ini sudah ada program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Menurut Yudi, KKN lebih bersifat belajar hidup di tengah-tengah masyarakat. Tujuan utamanya bukan untuk memecahkan masalah yang ada di masyarakat. Apalagi masa tinggal dalam KKN juga tidak lama.

Kemudian Yudi menuturkan program mereka dalam hilirisasi riset tidak berseberangan dengan kegiatan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P2M) yang sudah berjalan di kampus. Dia menegaskan P2M tetap jalan seperti biasa.

Hasil penelitian yang dilakukan P2M bisa bermuara pada publikasi ilmiah. Sementara Yudi berfokus bagaimana hasil riset atau penelitian di kampus bisa diterapkan di masyarakat. Mereka nanti akan memilih penelitian yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore