
Rektor BINUS, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., CSCA, saat memberikan penjelasan terkait AI di Taiwan dalam acara BINUS Media Partnership Program. (Edy Pramana/JawaPos.com)
JawaPos.com – Diskusi akademik umumnya berlangsung di ruang kelas atau auditorium kampus. Namun, Universitas Bina Nusantara (BINUS) memilih pendekatan berbeda dengan memboyong dosen, kepala sekolah, dan sejumlah media ke Taiwan. Topik yang dibicarakan pun serius: dinamika perguruan tinggi dan perkembangan artificial intelligence (AI).
Acara ini berlangsung 18–22 Agustus 2025 di distrik Linkou, Taipei, Taiwan melalui BINUS Media Partnership Program. Pemilihan lokasi hotel yang nyaman menghadirkan suasana lebih santai, meski pembahasan menyentuh isu strategis dunia pendidikan. Setelah pemaparan dari pihak BINUS, diskusi kemudian berkembang dengan gagasan-gagasan segar yang lahir dari peserta.
Dalam sesi awal, Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo, M.M. menekankan bahwa BINUS sejak lama fokus menyiapkan mahasiswa menghadapi era teknologi. Hal ini sejalan dengan visi kampus sebagai world class knowledge institution yang menekankan pengetahuan global dan keterampilan praktis.
Senada dengan itu, Rektor BINUS, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., CSCA, menegaskan AI bukan ancaman, melainkan peluang. “Kalau kita bisa manfaatkan AI, teknologi ini justru akan membantu meningkatkan kompetensi profesi. Jangan pernah takut dengan AI. Kita harus kuasai teknologinya dan tetap memegang kendali, bukan sebaliknya,” jelas Nelly.
Menurutnya, mahasiswa wajib dibekali kecerdasan buatan sejak dini. “Bahaya kalau mahasiswa tidak diajarkan AI. Mereka harus paham cara kerja teknologi ini agar bisa memanfaatkannya secara bijak,” tambahnya.
Fokus BINUS terhadap kecerdasan buatan bukan hal baru. Sejak 1990-an, kampus ini sudah memperkenalkan konsep intelejensia semu kepada mahasiswa. Hanya saja, perkembangan saat itu terbatas karena ketiadaan data besar.
Kini, dengan banjirnya data digital, AI semakin cepat belajar dan semakin canggih hasilnya. “AI itu semakin powerfull kalau ada data. Semakin banyak data digunakan, semakin pintar pula ia bekerja,” kata Nelly.
BINUS berharap ekosistem akademik dan teknologi yang dibangun dapat dimanfaatkan mahasiswa, dosen, dan para Binusian—sebutan untuk alumni. Dengan lebih dari 50 ribu mahasiswa aktif dan 167 ribu alumni, ekosistem ini diyakini menjadi kekuatan besar dalam mendukung inovasi.
Data internal mencatat, lebih dari 83 persen lulusan BINUS tahun ini telah bekerja. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa keterampilan teknologi yang dibekalkan kampus mampu menjawab kebutuhan industri.
“Harapan kami, setiap Binusian punya karya yang memberi dampak nyata. Kami ingin alumni hadir di berbagai sektor dan menjadi agen perubahan,” jelas Nelly.
Fenomena yang disorot BINUS juga sejalan dengan tren global. Di Amerika Serikat, universitas top seperti MIT dan Stanford telah mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum berbagai jurusan, tidak hanya teknologi informasi. AI kini diajarkan di bidang kedokteran, bisnis, hingga seni, karena dinilai mampu mempercepat riset dan memperluas pemahaman.
Di Eropa, University of Oxford dan ETH Zurich memperkuat riset AI etis untuk memastikan teknologi tidak hanya canggih, tetapi juga bertanggung jawab. Sementara itu, di Asia, National University of Singapore (NUS) serta Tsinghua University di Tiongkok sudah menempatkan AI sebagai salah satu fokus penelitian utama untuk mendukung ekonomi digital.
Dengan tren ini, posisi BINUS yang lebih awal mengenalkan AI kepada mahasiswa menjadi langkah strategis. Diskusi di Taiwan semakin menegaskan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia tidak boleh tertinggal dalam memanfaatkan kecerdasan buatan.
Melalui forum ini, BINUS menggarisbawahi pentingnya kolaborasi global untuk menghadapi era digital. Menggelar diskusi di luar negeri memberi ruang lebih luas untuk pertukaran gagasan, sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan tidak lagi terbatas pada ruang kelas.
AI bukan sekadar teknologi, melainkan kompetensi wajib yang akan menentukan kualitas lulusan. Dengan dukungan ekosistem kampus, jaringan alumni, dan tren global yang terus berkembang, BINUS yakin mampu melahirkan generasi baru yang siap bersaing di tingkat internasional.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
