Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Mei 2025 | 04.06 WIB

Kampus Merdeka Era Nadiem Dihapus, Ganti jadi Diktisaintek Berdampak

ILUSTRASI Kegiatan Kampus Merdeka Fair 2024 dihadiri mahasiswa. - Image

ILUSTRASI Kegiatan Kampus Merdeka Fair 2024 dihadiri mahasiswa.

JawaPos.com - Program Kampus Merdeka resmi ganti wajah menjadi Diktisaintek Berdampak. Tak hanya sekadar ganti nama, program ini diklaim lebih menekankan pada outcome.

Perubahan nama ini diumumkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Brian Yuliarto bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Dia mengungkapkan, program ini sejatinya lanjutan dari Kampus Merdeka.

Keduanya, sama-sama menyiapkan mahasiswa agar bisa masuk ke industri. Namun, Diktisaintek Berdampak akan lebih menyentuh aspek-aspek di luar magang mahasiswa.

Karenanya, program ini tak hanya menyiapkan mahasiswa memasuki dunia kerja, tapi juga mendorong riset, inovasi, dan akademik yang berdampak langsung ke masyarakat dan industri. "Diktisaintek Berdampak ini menjadi simbol transformasi yang ingin memastikan bahwa seluruh aktivitas pendidikan tinggi, sains, dan teknologi tidak hanya menghasilkan output akademik, tetapi juga outcome yang dirasakan langsung oleh masyarakat," jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, pihaknya akan mendorong perguruan tinggi menggandeng lebih erat dunia industri, pemerintah daerah, hingga komunitas di sekitarnya. Sinergi ini diharapkan menghasilkan solusi nyata yang bisa dirasakan langsung oleh publik. “Harapannya agar kampus-kampus bergandengan tangan dengan pemda, industri, dan masyarakat. Ini saatnya pendidikan tinggi hadir, bukan hanya mencetak lulusan, tapi menyelesaikan masalah di lapangan,” ungkapnya.

Sekretaris Jenderal Kemendikti Saintek Togar Mangihut menambahkan, bahwa Diktisaintek Berdampak tidak sekadar slogan, melainkan semangat transformasi ekosistem pendidikan tinggi agar lebih ilmiah, sosial, dan nasional dalam dampaknya.

Selain itu, ini jadi arah baru Dikti Saintek untuk lebih menekankan pada hasil nyata, bukan sekadar statistik. Salah satunya, transformasi pendekatan dalam program beasiswa KIP-Kuliah. 

"Kalau dulu dilihat dari berapa yang dapat beasiswa. Sekarang, kita lihat dia lulus dan bisa kerja atau tidak. Jadi enggak cuma dapat, tapi berdampak," paparnya.

Perubahan ini juga menyentuh aspek magang yang dulu menjadi ciri khas Kampus Merdeka. Meski mekanismenya tengah difinalisasi, program magang dipastikan tetap berlanjut dengan sistem baru yang lebih terbuka dan kolaboratif.

Mitra perusahaan nantinya bahkan dapat terlibat dalam merancang kurikulumnya dan menentukan target bagi pemagang. "Panduan magangnya nanti akan disusun bersama. Tapi kami kasih kebijakan bahwa, partisipasi ini bukan pemerintah saja. Ada swasta, masyarakat, bahkan mitra luar negeri," ungkapnya.

Sementara itu, terkait dengan pengkonversian Satuan Kredit Semester (SKS) bagi peserta magang, Togar mengatakan, nantinya sistemnya akan lebih adaptif sesuai dengan capaian pembelajaran program studinya. Dengan catatan, setiap peserta harus mendefinisikan secara utuh atas kontribusinya.

"Itu fleksibel. Tapi dia harus jelas. Kalau dulu kan kadang-kadang enggak punya relevansi (dengan jurusannya, red)," sambungnya.

Meski ada perubahan nama dan fokus, Kemendikti Saintek memastikan fasilitas utama seperti pembiayaan, dukungan kerjasama, dan insentif tetap dipertahankan bahkan diperkuat. 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore