
Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji memaparkan hasil pemantauan kekerasan di Indonesia sepanjang 2024 di kawasan Cikini, Jumat (27/12/2024). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)
JawaPos.com – Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan nyaris merata terjadi di seluruh wilayah Indonesia.
Provinsi Jawa Timur menempati urutan pertama dengan total 81 kasus kekerasan di sekolah sepanjang tahun 2024, terbanyak di antara provinsi lainnya.
Angka tersebut merupakan hasil pendataan yang dilakukan oleh Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI).
"Hampir seluruh provinsi di Indonesia terjadi (kasus kekerasan di sekolah). Tapi kita jumlahkan paling tinggi di Jawa Timur ada 81 kasus (14,2 persen)," ujar Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji saat merilis hasil pemantauan kekerasan di dunia pendidikan di kawasan Cikini, Jumat (27/12).
Di urutan kedua terbanyak adalah Jawa Barat dengan 56 kasus (9,8 persen), lalu Jawa Tengah dengan 45 kasus (7,8 persen), Banten 32 kasus (5,4 persen), dan Jakarta dengan 30 kasus (4,9 persen).
Menurut Ubaid, tingginya kasus di Jawa Timur bisa jadi disebabkan oleh jumlah sekolah yang lebih banyak dibandingkan provinsi lain.
Namun, fakta bahwa seluruh wilayah di Pulau Jawa mencatatkan angka yang tinggi menunjukkan adanya pola yang perlu diperhatikan.
“Yang menjadi perhatian, semua provinsi di Pulau Jawa, seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, dan Jakarta, mendominasi angka kasus kekerasan di sekolah,” ucapnya.
Ubaid mengungkapkan, meski Pulau Jawa menjadi pusat perhatian, kasus kekerasan di sekolah juga ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan dalam dunia pendidikan adalah masalah nasional yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak, baik di tingkat lokal maupun nasional.
"Bisa juga banyaknya kasus kekerasan di pulau Jawa disebabkan pelajarnya sudah mulai memahami perihal kekerasan di lingkungan sekolah," katanya.
JPPI juga mencatat ada sebanyak 573 kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan sepanjang tahun 2024. Jumlah tersebut naik hingga dua kali lipat jika dibandingkan dengan jumlah kekerasan 2023.
Angka kekerasan tersebut mengalami tren kenaikan setiap tahunnya. Pada tahun 2020, tercatat hanya terdapat 91 kasus. Lalu naik menjadi 142 kasus di 2021, 194 kasus di 2022, 285 kasus di 2023, dan tahun 2024 terdapat 573 kasus.
Jika dirata-rata, setiap harinya akan ditemukan minimal satu kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan di Indonesia.
"Bila satu tahun terdapat 366 hari, sedangkan jumlah kasus kekerasan mencapai 573, maka bisa dikatakan bahwa setiap hari minimal ditemukan 1 kasus kekerasan di lembaga pendidikan," ucap Ubaid.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
