
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti saat mendatangi Mapolda Jatim, Selasa (27/2).
JawaPos.com - Pembelajaran jarak jauh (PJJ) fase 2 dirasa lebih berat bagi peserta didik. Pasalnya, sejak fase kedua PJJ yang dimulai pada tahun ajaran baru ini, telah memakan tiga korban jiwa siswa sekolah.
Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengatakan alasan mengapa PJJ fase dua lebih berat jika dibandingkan PJJ fase satu. Pertama, karena PJJ fase satu sudah melaksanakan pembelajaran secara normal, sementara fase dua tidak sama sekali.
Baca juga: Siswa Bunuh Diri, FSGI Kritisi Kementerian Lempar Tanggung Jawab
"PJJ fase 2 lebih berat, waktu fase pertama kan sudah berlangsung 9 bulan, itu sisa 2 bulan dan langsung ujian dan itu cenderung bisa mengatasi fase pertama," terang Retno dalam YouTube FSGI Pusat, Senin (2/11).
Kemudian, peserta didik juga mengenal guru dan teman sekelasnya. Jadi, mereka tidak perlu malu untuk bertanya apa yang menjadi kendala mereka saat itu. Sedangkan fase kedua, untuk mereka yang baru masuk akan menjadi beban yang berat untuk mengikuti pelajaran tanpa berinteraksi.
"Yang jadi problem fase 2, naik kelas kan wali kelas ganti, guru mata pelajaran ganti," ucapnya.
Apalagi untuk tingkat akhir, mereka biasanya mendapatkan wali kelas yang lebih senior atau pemahamannya jauh lebih tinggi. Keseganan para murid untuk bertanya maupun berkonsultasi pun menjadi bertambah.
"Itu yang ngajar kan guru-guru senior dan tuntuntannya adalah memiliki kemampuan yang lebih, itu guru senior dan punya kemampuan lebih, ketika nggak kenal gurunya, tidak punya teman akrab, kan akan ada anak yang kesulitan berkomunikasi," ujar Retno.
Untuk itu, dia meminta agar semua pihak mulai dari orang tua, guru, sekolah, dinas pendidikan untuk bisa saling memahami dan bekerja sama demi mewujudkan kualitas pengajaran yang optimal. Khususnya untuk guru bimbingan konseling (BK) yang harus siap untuk membantu menampug keluhan para peserta didik dan mencari solusi.
"Orang tua harus punya peran, guru juga, Disdik juga, bergandengan tangan, ortu bisa jadi penguat tapi juga sumber masalah, seperti kekerasan verbal menurunkan semangat anak. Ini justru akan membuat anak itu terekan secara psikologis," tutup Retno.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=3HSTYxnaD9E&ab_channel=jawapostvofficial

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
