Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 November 2020 | 19.28 WIB

PJJ Fase 2 Dinilai Lebih Berat, FSGI Ungkap Alasannya

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti saat mendatangi Mapolda Jatim, Selasa (27/2). - Image

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti saat mendatangi Mapolda Jatim, Selasa (27/2).

JawaPos.com - Pembelajaran jarak jauh (PJJ) fase 2 dirasa lebih berat bagi peserta didik. Pasalnya, sejak fase kedua PJJ yang dimulai pada tahun ajaran baru ini, telah memakan tiga korban jiwa siswa sekolah.

Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengatakan alasan mengapa PJJ fase dua lebih berat jika dibandingkan PJJ fase satu. Pertama, karena PJJ fase satu sudah melaksanakan pembelajaran secara normal, sementara fase dua tidak sama sekali.

Baca juga: Siswa Bunuh Diri, FSGI Kritisi Kementerian Lempar Tanggung Jawab

"PJJ fase 2 lebih berat, waktu fase pertama kan sudah berlangsung 9 bulan, itu sisa 2 bulan dan langsung ujian dan itu cenderung bisa mengatasi fase pertama," terang Retno dalam YouTube FSGI Pusat, Senin (2/11).

Kemudian, peserta didik juga mengenal guru dan teman sekelasnya. Jadi, mereka tidak perlu malu untuk bertanya apa yang menjadi kendala mereka saat itu. Sedangkan fase kedua, untuk mereka yang baru masuk akan menjadi beban yang berat untuk mengikuti pelajaran tanpa berinteraksi.

"Yang jadi problem fase 2, naik kelas kan wali kelas ganti, guru mata pelajaran ganti," ucapnya.

Apalagi untuk tingkat akhir, mereka biasanya mendapatkan wali kelas yang lebih senior atau pemahamannya jauh lebih tinggi. Keseganan para murid untuk bertanya maupun berkonsultasi pun menjadi bertambah.

"Itu yang ngajar kan guru-guru senior dan tuntuntannya adalah memiliki kemampuan yang lebih, itu guru senior dan punya kemampuan lebih, ketika nggak kenal gurunya, tidak punya teman akrab, kan akan ada anak yang kesulitan berkomunikasi," ujar Retno.

Untuk itu, dia meminta agar semua pihak mulai dari orang tua, guru, sekolah, dinas pendidikan untuk bisa saling memahami dan bekerja sama demi mewujudkan kualitas pengajaran yang optimal. Khususnya untuk guru bimbingan konseling (BK) yang harus siap untuk membantu menampug keluhan para peserta didik dan mencari solusi.

"Orang tua harus punya peran, guru juga, Disdik juga, bergandengan tangan, ortu bisa jadi penguat tapi juga sumber masalah, seperti kekerasan verbal menurunkan semangat anak. Ini justru akan membuat anak itu terekan secara psikologis," tutup Retno.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=3HSTYxnaD9E&ab_channel=jawapostvofficial

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore