
Photo
JawaPos.com – Puluhan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Malang, dari tingkat sarjana serta pascasarjana melakukan aksi unjuk rasa penurunan uang kuliah tunggal (UKT) di dalam kampus, Kamis (18/6). Unjuk rasa itu dilakukan dengan aksi berjalan kaki dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) sampai pintu masuk UB.
Sebelumnya, mahasiswa UB menyuarakan keresahannya terkait UKT melalui media sosial, seperti Twitter dengan tagar #AmarahBrawijaya. Aksi kali ini pun merupakan puncak dari hal tersebut.
Seperti diketahui, saat ini banyak masyarakat yang terdampak secara sosial bahkan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Maka dari itu, civitas akademik UB meminta universitas untuk memberikan relaksasi.
Adapun, para mahasiswa selama kuliah online pun tidak memakai fasilitas fisik kampus, akan tetapi pihak universitas tidak memberikan kompensasi akan hal tersebut. Humas Aliansi Mahasiswa Resah (Amarah) Brawijaya Ragil Ramadhan pun mempertanyakan kemana uang kampus digunakan selama pandemi. Padahal, tidak ada perkuliahan berlangsung.
“Kami lakukan riset, ada dampak yang cukup signifikan di tengah pandemi, tapi kenapa UKT kita tetap, tidak ada kompensasi sama sekali dari Rektorat,” terang Humas Aliansi Mahasiswa Resah (Amarah) Brawijaya Ragil Ramadhan seperti dikutip dari RadarMalang (JawaPos Group), Kamis (18/6).
“Harusnya dengan tidak ada biaya operasional, logikanya juga tidak ada biaya operasional. Lantas, uangnya buat apa? Kita mempertanyakan kenapa sampai sekarang belum ada kebijakan yang cukup tegas terkait penurunan UKT,” tambahnya.
Menanggapi hal itu, Wakil Rektor III UB Abdul Hakim pun melakukan dialog secara terbuka dengan para mahasiswa yang melakukan aksi. Dia pun mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya, salah satunya dengan mengeluarkan surat edaran (SE) terkait kebijakan penundaan, keringanan hingga pembebasan UKT.
"Sudah ada SE rektor tentang pembebasan penurunan SPP dan UKT, yang pasti 9.700 mahasiswa UB tidak membayar SPP, saya pastikan semua SPP dibayar oleh negara lewat APBN dan non APBN, tidak perlu bayar UKT. Saya pastikan itu tidak bayar," ujar dia.
Dirinya pun menjamin tidak akan ada mahasiswa yang putus kuliah akibat tidak bisa membayar UKT. "Selama saya menjadi WR III, saya jamin tidak ada mahasiswa dropout karena tidak bisa bayar UKT. Siapa yang terdampak, siapa yang tidak bisa bayar, bawa ke kami, daripada kalian teriak di sini, saya mohon dibantu buat advokasinya di fakultasnya masing-masing, di data siapa yang tidak mampu itu," tegas dia. (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
