
Pendidikan perlu berpihak pada perspektif anak
JawaPos.com - Sistem pendidikan di Indonesia selama ini lebih banyak memposisikan anak sebagai objek pembelajaran, bukan subjek pembelajaran. Hal ini layak dijadikan refleksi bersama mengingat di negara-negara maju seperti Finlandia justru menempatkan anak sebagai pusat pendidikan.
"Mari kita kembali berefleksi, pendidikan ini untuk siapa? Jika untuk anak, mari singkirkan ego orang dewasa di dalamnya. Mari kembalikan pendidikan kepada akarnya, pendidikan yang berpihak pada perspektif anak," ujar volunteer litbang Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) , Erwan Nizarudin, Jumat, (13/4).
Menurut Erwan, hal yang perlu ditekankan bagaimana kurikulum yang ada saat ini bisa mencakup perspektif anak. "Sesuai temuan kami di lapangan, yang jadi masalah adalah alasan anak-anak belajar adalah untuk menghadapi ujian. Belum ada pola pembelajaran yang menumbuhkembangkan kematangan anak," katanya.
Ini disebabkan dalam kurikulum sekarang yang menjadi sentral adalah perspektif orang dewasa. "Padahal pemerintah perlu memikirkan, seandainya seorang anak sudah nyaman saat belajar, maka nilainya pun juga akan bagus," terang Erwan
Kedua, terkait dengan pengembangan guru. Menciptakan seorang guru yang profesional juga harus menggunakan perspektif anak.
"Menciptakan guru seperti ini juga harus dibangun lewat pengembangan di kurikulum. Ini mulai dari lembaga yang mencetak guru, sampai melalui sertifikasi. Dengan demikian akan terbentuk guru yang memiliki kapasitas menumbuhkembangkan, bukan guru yang berbasis kognitif semata," ujar Erwan.
"Pendidikan yang bukan untuk pembelajaran. Apa yang dipelajari anak sehari-hari tidak selaras dengan yang diujiankan, akibatnya seringkali anak-anak justru disuruh mengikuti bimbingan belajar untuk menghadapi ujian yang ketat," ujar Erwan.
Jika sistem pendidikan kita kembali berpihak pada perspektif anak maka hal itu akan memberi secercah harapan bagi masa depan bangsa ini. Ia mencontohkan kasus di Finlandia, anak-anak lebih banyak bermain di sekolah, namun skor Program for International Student Assessment (PISA) negara tersebut tetap tinggi.
"Ini disebabkan anak-anak melalui proses pembelajaran dengan senang, jadinya nilai mereka pun menjadi bagus juga," kata Erwan.

Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Analisis Prediksi Bursa Prancis vs Inggris di Piala Dunia 2026: Les Bleus Lebih Dijagokan Rebut Posisi Ketiga
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Usai Timnas Inggris Gagal ke Final Piala Dunia 2026, Gary Neville dan Roy Keane Saling Adu Pendapat
Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya TNI: Hari Ini Saya Bahagia
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
