Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 Juli 2017 | 04.57 WIB

Menyambut Hari Pertama Masuk Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak

SUSUN PROGRAM: Kepala TK Dharma Wanita Persatuan Klurak Dyah Susiani (dua dari kiri) bersama sejumlah guru menyiapkan permainan untuk menyambut hari pertama masuk sekolah. - Image

SUSUN PROGRAM: Kepala TK Dharma Wanita Persatuan Klurak Dyah Susiani (dua dari kiri) bersama sejumlah guru menyiapkan permainan untuk menyambut hari pertama masuk sekolah.


Pada 17 Juli semua sekolah memulai tahun pelajaran baru. Termasuk kelompok bermain (KB) dan taman kanak-kanak (TK). Guru mulai menyiapkan materi, alat peraga, dan kegiatan yang akan dilakukan selama setahun.





SUASANA TK Dharma Wanita Persatuan (DWP) Klurak Kecamatan Candi masih sepi Senin (10/7). Wajar karena masih hari libur. Namun, guru di sana terlihat sudah sibuk. Ada yang membersihkan alat permainan untuk siswa seperti bola dunia, miniatur masjid dan gereja, mainan kereta api, hingga pin boling. Ada juga guru yang menggunting kartu identitas untuk siswa baru nanti. Bentuk kartunya beragam. Ada kartu berbentuk hewan, buah, dan bunga.



”Ini saya sedang menggunting kartu berbentuk kura-kura. Saat masuk nanti, kartu ini diberikan ke siswa,” ujar Kepala TK DWP Klurak Dyah Susiani. Siswa bebas memilih gambar sesuai keinginan mereka. ”Kalau diberikan langsung nanti nggak cocok, takutnya malah ngambek,” tambahnya.



Kartu itu bukan sekadar identitas bagi siswa baru. Namun, siswa juga dikenalkan pada jenis gambar dan bentuk kartu tersebut. Selain itu, siswa diberi aneka huruf yang ditempel di kartu sesuai dengan namanya. ”Siswa juga belajar huruf dan mengenal nama teman-temannya,” jelas perempuan yang menjabat kepala TK DWP Klurak sejak 2000 tersebut.



Pembagian identitas itu tidak dilakukan di dalam kelas. Melainkan di teras sekolah. ”Hari pertama sampai ketiga, pembelajaran di luar dulu. Dengan begitu, siswa nyaman dengan lingkungan sekolah,” terang Dyah. Selain itu, siswa dikenalkan pada bagian-bagian di sekolah. Misalnya, ruang kelas, ruang guru, dan toilet. ”Kami jelaskan cara buang air kecil dan kewajiban menyiram setelahnya,” imbuhnya.



Nah, setelah pengenalan guru dan ruangan, barulah siswa dipersilakan masuk kelas masing-masing. ”Di sini ada 17 siswa baru. Mereka dibagi dua kelas,” kata perempuan kelahiran Sidoarjo, 28 April 1967, itu. Pembagian kelas berdasar pada lotre. ”Jadi, yang dapat nomor sekian sampai sekian dipersilakan mengikuti ibu guru tertentu untuk masuk ruang kelas,” ujarnya.



Pada hari ketiga masuk sekolah, lanjut Dyah, pihaknya mengundang ahli analisis sidik jari untuk melihat sembilan kecerdasan majemuk, gaya belajar, dan pekerjaan yang nanti cocok untuk anak didik. ”Misalnya, anak itu kinestetik, nanti pola pengajarannya disesuaikan dengan tipe tersebut,” terangnya. Sebab, anak kinestetik akan lebih menyukai pembelajaran dan penyampaian melalui ekspresi gerakan-gerakan, perabaan, peragaan, dan berbagai olah gerak tubuh. (uzi/c7/ai)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore