Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Mei 2025 | 16.05 WIB

Pakar Pendidikan Sebut Ada 8 Pilar Life Skills yang Perlu Dibentuk Lewat Proses Pembelajaran dari PAUD hingga SMA

Antarina SF Amir selaku Pakar Pendidikan, yang juga cucu dari Ki Hadjar Dewantara. (ist)

JawaPos.com – Hidup di era globalisasi dan digitalisasi, menguasai soft skills atau life skills menjadi kunci bagi siswa dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan. Hal ini meliputi kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, hingga memecahkan masalah.

Diungkapkan Antarina SF Amir selaku Pakar Pendidikan, yang juga cucu dari Ki Hadjar Dewantara, setidaknya Hari Pendidikan Nasional menjadi momentum refleksi kritis terhadap arah pendidikan di Indonesia. Terutama tentang pentingnya soft skills atau life skills.

Dalam bukunya, ‘Life Skills for All Learners: How to Teach, Asses, and Report Education’s New Essential’ yang diterbitkan ASCD, Amerika Serikat, menyebut ada delapan pilar penting life skills yang perlu dibentuk melalui proses pembelajaran. Mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga pendidikan dasar menengah (SD, SMP, dan SMA).

Delapan fundamental life skill tersebut, yakni Meta Level Reflection, Expert Thinking, Creativity and Innovation, Adaptability and Agility, Audience Center Communication, Synergistic Collaboration, Emphatic Social Skills, serta Ethical Leadership.

“Fondasi pendidikan yang kokoh harus diletakkan sejak usia dini hingga sekolah menengah atas. Ini mencakup pengembangan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, berkomunikasi, serta, berkolaborasi,” ujar Antarina yang sempat menjadi pembicara di konferensi pendidikan internasional di Hong Kong dan New York (Amerika Serikat) untuk memaparkan buku karyanya.

Menurutnya, delapan keterampilan tersebut bisa menjadi landasan bagi siswa belajar secara mandiri, bekerja sama dengan orang lain, serta memahami dan mengolah informasi di berbagai bidang ilmu. Terutama, Gen Z yang tumbuh di era digital (digital native) seringkali dianggap sebagai generasi yang melek teknologi.

“Namun, minimnya kemampuan Meta Level Reflection dan Expert Thinking dapat menghambat literasi digital mereka yang sebenarnya,” tuturnya.

Jika Gen Z tidak memiliki kemampuan Meta Level Reflection dan Expert Thinking yang kuat, mereka mungkin menjadi konsumen pasif teknologi, mudah terpengaruh oleh disinformasi, dan kurang mampu memanfaatkan teknologi untuk inovasi dan pemecahan masalah. Antarina menekankan bahwa pendidikan harus berfokus pada pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia saat ini.

"Keterampilan hidup bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga mencakup soft skills yang sangat penting dalam interaksi sosial," ujarnya.

"Kita perlu membekali siswa dengan keterampilan yang memungkinkan mereka untuk beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi tantangan yang terus berubah,” sambungnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore