
Suasana Tosca Pensi 2025 yang digarap oleh siswa SMA Plus Pembangunan Jaya. (Istimewa).
JawaPos.com – Sorot lampu panggung mungkin redup, tetapi pelajaran tentang kepemimpinan, kolaborasi, dan ketangguhan akan terus menyala dalam langkah para siswa.
Kira-kira pesan itulah yang disampaikan Tosca Pensi 2025, sebuah ajang pentas seni tahunan SMA Plus Pembangunan Jaya, yang bukan hanya sekadar panggung hiburan.
Di balik gemerlap lampu dan sorak penonton, tersimpan proses pembelajaran panjang bagi siswa kelas 11 yang menjadi tulang punggung acara. Wakil Kepala Sekolah Ikhsan Muttaqin menjelaskan, kegiatan ini dirancang sebagai laboratorium kepemimpinan, kolaborasi, dan proyek nyata penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Tosca Pensi 2025 digarap selama enam bulan oleh 120 siswa kelas 11, dengan guru hanya sebagai fasilitator. "Mereka yang menyusun konsep, mencari sponsor, hingga mengatur acara," ujar Ikhsan saat ditemui Jawapos.com, Senin (29/4).
Tantangan terbesar justru terletak pada dinamika tim: menyatukan ragam ide dan karakter. Ketua panitia, dan tim inti harus mengelola aspirasi yang kadang bertolak belakang. "Ada ide yang tak terakomodir, dan itu mengajarkan mereka tentang demokrasi," tambah Ikhsan.
Tosca Pensi 2025 menjadi medium implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Kurikulum Merdeka. Dimensi seperti berkebinekaan global dan gotong royong terlihat jelas ketika siswa lintas angkatan bekerja sama tanpa sekat senioritas.
"Kelas 10 turut membantu, meski motor utama tetap kelas 11. Ini budaya kami: berbagi pengetahuan tanpa ego angkatan," tegas Ikhsan.
Dikatakan Ikhsan, pemilihan kelas 11 sebagai ujung tombak kepanitiaan pun sangat strategis. Di mana, kelas 11 dianggap memiliki ruang untuk berekplorasi. "Kelas 10 masih beradaptasi, kelas 12 fokus ke ujian. Kelas 11 lah yang punya ruang untuk bereksplorasi," paparnya.
Bagi sekolah, kesuksesan Tosca Pensi 2025 bukan diukur dari jumlah penonton atau viral di media sosial. Yang utama, siswa bahagia dengan prosesnya dan mengambil hikmah dari setiap tantangan. "Kita lihat proses yang kamu lakukan, karena kita akan lihat proses. Kita tidak melihat hasil," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tosca Pensi 2025, Ni Luh Ketut Pradnya Maha Gayatri, mengaku bahagia telah menjadi bagian dari sejarah acara ini. Dirinya mengatakan, Tosca Pensi 2025 dapat menginspirasi siswa untuk mengekspresikan seni tanpa batas dengan konsep futuristik, yakni menggabungkan kreativitas siswa, dan pesan ramah lingkungan.
Tidak hanya menghibur, Tosca Pensi 2025 juga mengusung konsep ramah lingkungan (zero waste) dengan pengelolaan sampah yang ketat. "Kami ingin membuktikan bahwa kreativitas bisa melampaui imajinasi, seperti langit yang tak bertepi," pungkasnya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
