
EFEKTIF: Precision Medic Drone alias drone medis hasil inovasi dosen Teknik Fisika II TB Faqihza Mukhlish. Meski berukuran kecil, bisa membawa bantuan hingga 10 kg ke lokasi bencana
JawaPos.com-Kedaireka bukan hanya sekadar sarana untuk mengawinkan rekacipta perguruan tinggi dengan industri. Lebih dari itu, program yang dikembangkan dari visi Mendikbudristek Nadiem Makarim ini telah menjadi jembatan untuk menyentuh sisi-sisi kemanusiaan.
Inovasi Precision Medic Drone buatan dosen Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) Faqihza Mukhlish misalnya. Meski berukuran kecil, pesawat nirawak ini bisa membawa bantuan hingga 10 kilogram ke lokasi bencana.
Ide dari terobosan ini memang berangkat dari kegelisahan Faqihza saat Gempa Cianjur pada 2022 lalu terjadi. Gempa dengan kekuatan Magnitudo 5,6 itu telah memporak-porandakan wilayah Cianjur. Kerusakannya pun begitu besar, hingga memutus akses transportasi. Kondisi ini pun menyebabkan pengiriman bantuan logistik dan peralatan medis terhambat. Padahal, keduanya jadi yang paling dibutuhkan oleh para warga yang terdampak gempa saat itu.
“Adanya inovasi ini akhirnya dapat menjawab tantangan pengantaran alat medis secara lebih cepat dan efisien ke wilayah bencana,” ujarnya dikutip Senin (30/9).
Drone medis ini berbeda dengan helicopter pembawa logistik pada umumnya yang membutuhkan biaya tinggi. Selain bisa mengangkut bantuan dengan berat 10 kilogram, drone ini juga memiliki kecepatan hingga 60 km/jam. Dipadukan dengan ukurannya yang mini, drone medis ini mampu dengan mudah menjangkau daerah evakuasi bencana dengan cepat dan efisien.
Menariknya lagi, drone buatan Faqihza ini ternyata tak membutuhkan stasiun khusus untuk mendarat. Proses pendaratannya pun tidak membuat heboh. Alih-alih memberi gemuruh tekanan pada lokasi pendaratan, drone medis ini bisa mendarat hanya dengan berbekal helipad QR Code. “Dengan mobilitas tinggi dan kemampuan untuk mendarat di helipad pribadi, drone medis dapat menjadi solusi yang efektif dalam situasi darurat,” ungkapnya.
Gayung bersambut. Ide cemerlang founder Kelas Terbuka ini ternyata lolos dalam program pendanaan Inovasi Kedaireka dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) Kemendikbudristek. Sehingga, pengembangannya bisa terus ditingkatkan. Investasi awal untuk pengembangan drone medis ini sendiri diketahui mencapai Rp 150 juta.
Bekerja sama dengan Robby Azhari, VP of Engineering & Project VP of Engineering & Project PT SAS AERO SISHAN, inovasi ini dikembangkan lebih lanjut di bidang System Engineering of Defense and Space Technology. Saat ini, mereka pun telah bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan RI untuk pengiriman logistik militer.
Selain itu, manfaat dari inovasi ini pun kini sudah diperluas. Drone medis ini telah sukses digunakan dalam proyek reboisasi mangrove di pesisir Jawa Barat dengan mempercepat proses penanaman dengan bantuan pelontar benih.
Meski telah sukses dalam pengembangannya, ia tetap bercita-cita untuk dapat berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di masing-masing wilayah terkait misi kemanusiaan. Mengingat, kondisi Indonesia yang memang rawan bencana. Dengan begitu, bantuan bisa lebih cepat menjangkau lokasi bencana.
Dia pun berharap, agar masyarakat dapat melihat potensi positif dari teknologi drone yang tengah berkembang saat ini. Di mana, penggunaan drone tidak selalu terkait dengan konflik, tapi juga dapat memberikan manfaat nyata bagi kehidupan sehari-hari.
Dalam kesempaan terpisah, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Dirjen Dikti Ristek) Abdul Haris menyebut, kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri merupakan sebuah keharusan. Selain menjawab tantangan global, kerja sama antara keduanya ini juga untuk memastikan bahwa penelitian-penelitian akademis sesuai dengan kebutuhan industri. Pun sebaliknya, praktik industri pun bisa mendapatkan manfaat dari wawasan terbaru di dunia akademis.
Oleh karenanya, banyak program yang sudah dikembangkan dalam Kedaireka ini. Mulai dari Rekapreneur, Kedaireka Academy, dan lainnya. “Program-program ini dirancang untuk memberdayakan para akademisi dan praktisi industri agar dapat bekerja sama lebih efektif,” ungkapnya.
Diakuinya, pada data Global Innovation Index 2023, Indonesia kini berada di peringkat 87 dari 132 negara. Peringkat ini menunjukkan masih banyak hal yang harus dibenahi, terutama dalam hal penciptaan ekosistem pengetahuan, penelitian, dan penciptaan pasar. Oleh sebab itu, kampus dan industri terus didorong untuk bekerja sama melalui program Kedaireka. (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
