Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 November 2021 | 21.31 WIB

Kemendikbudristek Ungkap Rata-Rata Skor Kompetensi Guru 50,64 Poin

Sekretaris Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbudristek Nunuk Suryani menjelaskan soal kompetensi guru (19/11). Hilmi Setiawan/Jawa Pos - Image

Sekretaris Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbudristek Nunuk Suryani menjelaskan soal kompetensi guru (19/11). Hilmi Setiawan/Jawa Pos

JawaPos.com – Skor atau nilai kompetensi guru di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Sebab rata-rata skor kompetensi guru berada di angka 50,64 poin. Ironisnya skor kompetensi guru PNS di bawah guru tetap yayasan yang mengajar di sekolah swasta.

Kemendikbudristek membagi pengukuran kompetensi guru itu dalam dua kelompok. Yaitu kelompok guru yang sudah sarjana (S1) dan kelompok yang belum sarjana. Skor kompetensi guru PNS yang sudah sarjana adalah 51,43 poin. Kemudian guru tetap yayasan mendapatkan skor 52,82 poin, guru honorer daerah (honda) skornya 48,21 poin, dan guru tidak tetap (GTT) memiliki skor 49,19 poin.

Selanjutnya untuk kelompok guru PNS yang belum sarjana mendapatkan skor 41,45 poin. Guru tetap yayasan belum sarjana mendapatkan skor 46 poin, honorer daerah belum sarjana mendapatkan skor 41,92 poin dan guru tidak tetap (GTT) belum sarjana mendapatkan 42,63 poin.

Peta skor kompetensi guru tersebut Dipaparkan Sekretaris Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbudristek Nunuk Suryani dalam forum Temu Ilmiah Nasional Guru (TING) ke-XIII. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Terbuka (UT) secara virtual Jumat (19/11).

’’Kompetensi guru masih perlu ada peningkatan,’’ kata Nunuk. Dia mengakui pengukuran kompetensi tersebut memang bukan benar-benar potret kondisi guru. Skor tersebut merupakan hasil dari Uji Kompetensi Guru (UKG) yang digelar 2015 lalu. Dia juga mengatakan, skor itu hanya menilai kompetensi pedagogik guru saja. Sementara itu guru memiliki kompetensi-kompetensi yang lain. Diantaranya adalah kompetensi sosial.

Nunuk menjelaskan Kemendikbudristek tidak tinggal diam dengan kondisi kompetensi guru tersebut. Menurutnya program Merdeka Belajar merupakan salah satu upaya Kemendikbud untuk mengatasi tantangan kompetensi guru itu.

Dalam konteks Merdeka Belajar, guru menjadi fasilitator dalam kegiatan belajar. Sedangkan pada konteks pembelajaran sebelumnya, guru cenderung sebagai penyampai informasi atau ilmu pengetahuan. Kemudian pelatihan guru berdasarkan praktik bukan berdasarkan teori seperti selama ini.

Pada forum yang sama Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi mengatakan guru adalah bagian dari ekosistem pendidikan. Jadi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tidak bisa hanya dibebankan kepada guru saja.

’’Biasanya guru disalahkan. Padahal banyak persoalan yang harus dibenahi supaya ekosistem pendidikan jadi lebih baik,’’ tutur dia. Unifah mengingatkan Indonesia saat ini masih mengalami masalah kekurangan guru. Diperkirakan jumlah kekurangan guru mencapai 1,3 juta orang. Unifah mengatakan sosok guru yang dibutuhkan murid sekarang adalah, guru yang bisa mendorong mereka untuk belajar mandiri.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore