Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 Desember 2024 | 00.33 WIB

Pilkada 2024 dan Mereka yang Menyalip di Tikungan Terakhir

ILUSTRASI: AI (AGUNG KURNIAWAN/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI: AI (AGUNG KURNIAWAN/JAWA POS)

Yang tertinggal dalam survei, yang nyaris tak bisa mendaftarkan diri, dan yang jadi calon pengganti di tengah jalan sama-sama menciptakan kejutan dalam Pilkada 2024.

NABILA AMELIA, Kota Malang ADITYA RAMADHAN, Serang

---

SEBELUM kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2024 dimulai pada 25 September, Wahyu Hidayat mengakui tidak banyak warga Kota Malang, Jawa Timur, yang mengenal dirinya. Tak heran kalau dalam sejumlah survei elektabilitas calon wali kota dan wakil wali kota Malang ketika itu, dia dan sang partner, Ali Muthohirin, hanya berada di urutan kedua dari tiga pasangan calon (paslon).

”Padahal, saya sempat menjabat Pj (penjabat) wali kota Malang lho,” kata Wahyu kepada Jawa Pos Radar Malang.

Tapi, itu tak membuat dia dan Ali patah semangat. Pasangan dengan akronim Wali tersebut terus menyapa warga dan menyerap aspirasi mereka. Mulai soal kemacetan, banjir, sampai perekonomian.

Tim pemenangan mereka kemudian menyusun program sesuai kondisi di Kota Malang. Lahirlah program-program seperti insentif Rp 50 juta untuk setiap RT dan banyak lainnya.

”Selain itu, keduanya concern dengan tata kota,” kata Ketua Tim Pemenangan Wali Moreno Soeprapto.

Memasuki November, elektabilitas mereka mulai menyalip naik ke peringkat pertama. Itu akhirnya selaras dengan hasil hitung cepat setelah coblosan 27 November yang dilakukan Indikator Politik Indonesia. Wahyu-Ali di posisi teratas dengan 48,12 persen, disusul Moch. Anton-Dimyati Ayatullah yang meraup 32,93 persen dan Heri Cahyono-Ganis Rumpoko yang mengantongi 18,96 persen.

Pilkada Serentak 2024 banyak menyajikan kemenangan ”di tikungan terakhir” seperti halnya Wahyu-Ali di pemilihan wali kota (pilwali) Malang. Dengan berbagai variasi.

Terbantu Putusan MK

Versi hitung cepat tim pemenangan mereka, Pramono Anung dan Rano Karno memenangi pilgub Jakarta dalam satu putaran. Kepastiannya tentu masih harus menunggu real count KPU.

Tapi, mengingat mereka baru bisa mendaftar setelah adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 60 tentang ambang batas pencalonan kepala daerah serta wakil kepala daerah pada 20 Agustus, apa yang diraih Pramono-Rano tergolong sangat mengejutkan. Hanya dengan waktu bergerak selama kurang dari tiga bulan, pasangan yang diusung PDI Perjuangan itu menyalip duet yang telah melangkah lebih dulu dan didukung Koalisi Indonesia Maju Plus, Ridwan Kamil-Suswono.

Di pilwali Semarang, Jawa Tengah, Agustina Wilujeng-Iswar Aminuddin juga punya waktu kurang lebih sama dengan Pramono-Rano. Sebab, Agustina menjadi calon wali kota di tengah jalan setelah jagoan PDIP sebelumnya yang juga petahana, Hevearita Gunaryanti Rahayu, batal maju.

Peta pertarungannya juga mirip Jakarta. Agustina-Iswar yang baru terbentuk harus head-to-head dengan Yoyok Sukawi-Joko Santoso yang, seperti juga Ridwan Kamil-Suswono, didukung koalisi gendut.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore