
Mendiang Wahyu Hidayat saat mengenang momen bersejarahnya bersama Persija Jakarta. (Persija)
JawaPos.com–Sepak bola Indonesia berduka. Persija Jakarta ditinggal mendiang legenda Wahyu Hidayat, sosok yang namanya lekat dengan kejayaan Macan Kemayoran di era perserikatan.
Kabar duka ini diumumkan Persija Jakarta pada Selasa (10/2), sontak menggugah emosi pencinta sepak bola Tanah Air. Kepergian mendiang Wahyu Hidayat bukan hanya kehilangan bagi Persija, tetapi juga bagi sejarah sepak bola nasional. Sosoknya dikenang sebagai gelandang petarung yang penuh dedikasi dan loyalitas saat membela panji ibu kota.
”Keluarga besar Persija mengucapkan belasungkawa terdalam atas berpulangnya Wahyu Hidayat, salah satu gelandang legendaris Macan Kemayoran di era perserikatan,” tulis Persija Jakarta.
Klub juga mengajak seluruh pihak mengirimkan doa terbaik untuk almarhum dan keluarga yang ditinggalkan.
”Mari sejenak kita panjatkan doa terbaik untuk almarhum dan semoga keluarga yang ditinggalkan selalu diberikan ketabahan,” lanjut pernyataan resmi tersebut.
Ungkapan ini mencerminkan duka mendalam yang dirasakan seluruh elemen Persija. Mendiang Wahyu Hidayat tercatat sebagai salah satu pemain penting saat Persija Jakarta meraih gelar juara ke-9 pada 20 Januari 1979. Momen bersejarah itu menjadi salah satu tonggak emas perjalanan Macan Kemayoran.
Partai penentuan gelar mempertemukan Persija Jakarta dengan PSMS di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Laga tersebut menjadi saksi mental baja dan semangat juang tinggi para pemain Persija.
Menjelang laga krusial itu, Persija sebenarnya tak berada dalam kondisi ideal. Dari tujuh pertandingan sebelumnya, Persija mencatat empat kemenangan, satu hasil imbang, dan dua kekalahan.
Catatan tersebut berbanding terbalik dengan PSMS yang hanya membutuhkan hasil imbang untuk memastikan gelar juara. Situasi ini membuat tekanan justru berada di kubu Persija Jakarta.
Namun kondisi yang kurang menguntungkan itu tidak membuat Persija gentar. Semangat juang para pemain justru semakin menyala saat menghadapi laga hidup mati.
Hal tersebut disampaikan mendiang Wahyu Hidayat, yang kala itu menjadi salah satu pilar penting di lini tengah. Dia mengenang bagaimana ambisi besar menyelimuti seluruh skuad Persija.
”Saat itu semangat para pemain berlipat ganda. Saat menginjak rumput GBK dan melihat banyaknya penonton, kami menekankan diri harus menang. Saya ingat betul momen itu,” ujar mendiang di situs resmi Persija Jakarta.
Pernyataan tersebut menggambarkan atmosfer luar biasa yang menyelimuti Stadion Gelora Bung Karno kala itu. Dukungan puluhan ribu penonton menjadi bahan bakar tambahan bagi para pemain.
Mendiang Wahyu Hidayat dikenal kerap mengenakan nomor punggung 14 saat membela Persija. Nomor tersebut kini memiliki makna emosional tersendiri bagi Jakmania.
Pertandingan berlangsung ketat sejak menit awal dan Persija sempat menemui kesulitan di babak pertama. PSMS tampil disiplin dan mencoba mengontrol jalannya laga.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
