seseorang yang menumbuhkan rasa persaudaraan kepada anak-anak / foto: Magnific/magnific
Karena itu, salah satu tugas penting orang tua bukan hanya memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga membantu mereka membangun hubungan persaudaraan yang sehat.
Rasa persaudaraan tidak selalu muncul dengan sendirinya. Ia perlu dibentuk melalui pengalaman sehari-hari: bagaimana anak belajar berbagi, menyelesaikan konflik, memahami perasaan saudaranya, menghargai perbedaan, dan merasakan bahwa rumah adalah tempat yang aman bagi semua anggota keluarga.
Dalam psikologi perkembangan, hubungan saudara dapat menjadi salah satu tempat pertama bagi anak untuk belajar tentang kerja sama, negosiasi, empati, persaingan, batasan, dan pengelolaan emosi.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (26/8), jika Anda ingin anak-anak Anda tumbuh dengan ikatan persaudaraan yang kuat, berikut enam cara parenting yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Jangan Membanding-bandingkan Anak
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah membandingkan anak dengan saudaranya.
“Lihat kakakmu, dia bisa lebih disiplin.”
“Kenapa kamu tidak bisa seperti adikmu?”
“Adik lebih rajin daripada kamu.”
Mungkin orang tua bermaksud memotivasi. Namun, bagi anak, perbandingan seperti ini dapat terasa sebagai penilaian bahwa dirinya kurang berharga dibandingkan saudaranya.
Jika terus dilakukan, anak dapat mulai melihat saudara bukan sebagai teman satu keluarga, tetapi sebagai pesaing yang harus dikalahkan.
Dalam jangka panjang, pola ini dapat memicu kecemburuan, rasa tidak aman, dan konflik antarsaudara.
Setiap anak memiliki karakter, kebutuhan, kemampuan, dan tahap perkembangan yang berbeda. Karena itu, pendekatan yang lebih sehat adalah membandingkan anak dengan perkembangan dirinya sendiri.
Alih-alih mengatakan:
“Kakak saja bisa melakukannya.”
Cobalah mengatakan:
“Dulu kamu masih kesulitan melakukan ini. Sekarang kamu sudah jauh lebih mampu.”
Dengan begitu, anak belajar bahwa keberhasilan saudaranya tidak mengurangi nilai dirinya.
Orang tua juga dapat membantu anak melihat kelebihan masing-masing saudara tanpa menjadikannya kompetisi.
Misalnya:
“Kakak sangat teliti ketika mengerjakan sesuatu. Adik sangat kreatif mencari ide. Kalian punya kelebihan yang berbeda.”
Pesan seperti ini membantu anak memahami bahwa setiap anggota keluarga memiliki tempat dan keunikan masing-masing.
2. Ajarkan Anak Menyelesaikan Konflik, Bukan Selalu Memisahkan Mereka
Pertengkaran antarsaudara sebenarnya tidak selalu berarti hubungan mereka buruk.
Anak-anak memang sedang belajar bagaimana mempertahankan keinginannya, memahami batasan orang lain, mengelola frustrasi, dan menyelesaikan perbedaan.
Karena itu, orang tua tidak harus selalu menjadi “hakim” yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Jika setiap konflik langsung diselesaikan oleh orang tua, anak mungkin tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah sendiri.
Misalnya, ketika dua anak berebut mainan, daripada langsung berkata:
“Sudah, berikan saja kepada kakak!”
Orang tua dapat membantu mereka memahami masalah:
“Kalian berdua ingin menggunakan mainan yang sama. Menurut kalian, bagaimana supaya kalian berdua bisa mendapat giliran?”
Orang tua kemudian dapat membantu anak membuat solusi, seperti bergantian, bermain bersama, atau menggunakan batas waktu tertentu.
Jika emosi mereka terlalu tinggi, orang tua tetap perlu membantu menenangkan keadaan terlebih dahulu.
“Sekarang kalian sedang marah. Kita tenangkan diri dulu. Setelah itu kita bicarakan.”
Cara ini mengajarkan bahwa konflik bukan akhir dari hubungan. Perbedaan dapat dibicarakan dan diselesaikan.
Anak juga belajar bahwa saudaranya bukan musuh.
3. Ciptakan Pengalaman Positif yang Mereka Jalani Bersama
Ikatan persaudaraan tidak hanya terbentuk ketika anak menghadapi masalah. Ia juga tumbuh dari banyak pengalaman menyenangkan yang dilakukan bersama.
Karena itu, orang tua dapat menciptakan aktivitas sederhana yang memungkinkan anak bekerja sama.
Tidak harus sesuatu yang mahal atau rumit.
Misalnya:
memasak bersama,
merapikan kamar bersama,
bermain permainan papan,
membuat proyek kerajinan,
merawat tanaman,
membaca buku bersama,
berolahraga,
membantu menyiapkan makanan,
atau melakukan perjalanan keluarga.
Yang penting bukan aktivitasnya, melainkan pengalaman bahwa mereka dapat menikmati sesuatu sebagai sebuah tim.
Orang tua juga dapat memberikan tugas yang membutuhkan kerja sama.
Contohnya:
“Kakak bertugas menyiapkan bahan, adik membantu mengatur meja. Setelah selesai, kita makan bersama.”
Ketika anak berhasil melakukan sesuatu bersama, berikan apresiasi terhadap kerja samanya.
“Hebat, kalian tadi bisa menyelesaikan semuanya karena saling membantu.”
Hal ini membantu anak mengasosiasikan hubungan dengan saudaranya dengan pengalaman positif.
Semakin banyak pengalaman positif yang mereka miliki, semakin banyak pula kenangan bersama yang dapat menjadi fondasi hubungan mereka ketika dewasa.
4. Berikan Perhatian yang Adil, Bukan Selalu Sama Persis
Salah satu sumber kecemburuan dalam keluarga adalah perasaan bahwa orang tua lebih menyayangi salah satu anak.
Namun, adil tidak selalu berarti memberikan hal yang persis sama.
Anak yang berbeda usia tentu memiliki kebutuhan yang berbeda.
Seorang anak kecil mungkin membutuhkan lebih banyak bantuan secara fisik, sementara anak yang lebih besar mungkin membutuhkan ruang untuk mandiri atau membutuhkan percakapan yang lebih serius.
Yang penting adalah setiap anak merasa dilihat, didengar, dan dicintai.
Orang tua dapat menyediakan waktu khusus dengan masing-masing anak.
Tidak harus berjam-jam.
Bahkan 10–15 menit perhatian penuh tanpa gangguan gawai dapat menjadi sangat berarti.
Tanyakan:
“Bagaimana harimu hari ini?”
“Apa hal paling menyenangkan yang terjadi?”
“Ada sesuatu yang membuatmu kesal?”
Atau sekadar duduk bersama dan melakukan aktivitas yang disukai anak.
Ketika anak merasa kebutuhan emosionalnya diperhatikan, ia tidak terlalu mudah melihat perhatian kepada saudaranya sebagai ancaman.
Orang tua juga sebaiknya berhati-hati dengan label seperti “anak pintar”, “anak nakal”, “anak manja”, atau “anak paling bertanggung jawab”.
Label dapat membuat anak merasa memiliki peran tertentu yang harus terus dipertahankan.
Lebih baik berfokus pada perilaku daripada identitas.
Daripada mengatakan:
“Kamu memang anak yang malas.”
Cobalah:
“Belakangan ini kamu terlihat kesulitan memulai tugas. Apa yang membuatmu sulit mengerjakannya?”
Dengan demikian, anak tidak merasa dirinya menjadi masalah.
5. Ajarkan Empati dengan Membantu Anak Memahami Perasaan Saudaranya
Rasa persaudaraan erat kaitannya dengan kemampuan memahami bahwa orang lain juga memiliki perasaan.
Ketika seorang anak menangis setelah bertengkar dengan saudaranya, jangan hanya mengatakan:
“Sudah, jangan menangis.”
Bantu anak memahami apa yang terjadi.
“Kamu sedih karena kakak mengambil mainanmu, ya?”
Kemudian, ketika suasana sudah tenang, bantu anak melihat sudut pandang saudaranya.
“Menurutmu, bagaimana perasaan kakak ketika kamu mengambil mainannya tadi?”
Tujuannya bukan memaksa anak mengakui kesalahan, tetapi mengembangkan kemampuan melihat situasi dari perspektif orang lain.
Anak dapat diajarkan kalimat sederhana seperti:
“Aku tidak suka ketika kamu melakukan itu.”
“Aku sedang marah, tapi aku tidak ingin menyakitimu.”
“Boleh aku memakai mainannya setelah kamu selesai?”
“Aku minta maaf karena tadi berteriak.”
Keterampilan seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sangat penting.
Anak yang mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata memiliki lebih banyak pilihan selain berteriak, memukul, merebut, atau menjauh.
Orang tua juga perlu memberikan contoh.
Jika orang tua melakukan kesalahan, tidak ada salahnya mengatakan:
“Maaf tadi Ayah terlalu keras bicara. Ayah sedang kesal, tetapi seharusnya Ayah menyampaikannya dengan lebih tenang.”
Anak belajar empati bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat dilakukan orang dewasa.
6. Bangun Identitas Keluarga yang Membuat Anak Merasa Mereka Adalah Satu Tim
Anak-anak membutuhkan rasa memiliki.
Mereka perlu merasakan bahwa keluarga bukan sekadar sekumpulan orang yang tinggal di rumah yang sama, tetapi sebuah kelompok yang saling menjaga.
Orang tua dapat membangun identitas keluarga melalui nilai-nilai sederhana.
Misalnya:
“Di keluarga kita, kita saling membantu.”
“Kalau ada yang sedang kesulitan, kita tidak menertawakannya.”
“Di rumah ini, semua orang boleh punya pendapat.”
“Kalau kita bertengkar, kita belajar memperbaikinya.”
Kalimat-kalimat tersebut sebaiknya bukan sekadar aturan, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, ketika salah satu anak sedang kesulitan mengerjakan sesuatu, orang tua dapat berkata:
“Bagaimana kalau kita lihat apakah kakak bisa membantu?”
Atau ketika salah satu anak sedang sakit:
“Adik sedang tidak enak badan. Apa yang bisa kita lakukan untuk membuatnya lebih nyaman?”
Dengan demikian, anak belajar bahwa kesejahteraan saudaranya juga merupakan sesuatu yang penting.
Namun, penting untuk tidak menjadikan anak sebagai pengganti orang tua.
Anak boleh membantu saudaranya, tetapi tanggung jawab utama tetap berada pada orang tua.
Tujuannya adalah menumbuhkan kepedulian, bukan membebani anak dengan tanggung jawab orang dewasa.
Jangan Berharap Anak Tidak Pernah Bertengkar
Ada satu hal penting yang perlu diingat orang tua: hubungan persaudaraan yang sehat bukan berarti anak-anak tidak pernah bertengkar.
Pertengkaran adalah bagian dari proses belajar.
Dua anak dapat saling menyayangi sekaligus sesekali merasa kesal satu sama lain. Mereka dapat bermain bersama pagi ini dan bertengkar sore harinya.
Hal tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa parenting Anda gagal.
Yang lebih penting adalah bagaimana konflik tersebut ditangani.
Apakah anak belajar meminta maaf?
Apakah mereka belajar mengungkapkan kebutuhan?
Apakah mereka memahami batasan?
Apakah mereka dapat memperbaiki hubungan setelah konflik?
Apakah mereka merasa aman untuk kembali mendekati saudaranya?
Jika jawabannya semakin sering “ya”, berarti mereka sedang mengembangkan keterampilan hubungan yang penting.
Pada Akhirnya, Persaudaraan Dibangun dari Hal-Hal Kecil
Rasa persaudaraan jarang terbentuk melalui satu percakapan besar.
Ia dibangun dari ribuan interaksi kecil.
Dari cara orang tua berbicara ketika anak bertengkar.
Dari bagaimana orang tua membagi perhatian.
Dari kesempatan anak bekerja sama.
Dari cara keluarga merayakan keberhasilan satu sama lain.
Dari kebiasaan meminta maaf.
Dari makan bersama.
Dari candaan sederhana.
Dari pengalaman saling membantu.
Dan dari keyakinan bahwa rumah adalah tempat di mana setiap anak memiliki posisi yang berharga.
Jika Anda ingin anak-anak Anda memiliki hubungan yang dekat ketika dewasa, jangan hanya mengajarkan mereka untuk “menjadi saudara yang baik”.
Tunjukkan kepada mereka seperti apa hubungan yang baik itu.
Ajarkan bahwa mencintai seseorang tidak berarti tidak pernah marah kepadanya. Bahwa perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan. Bahwa meminta maaf bukan tanda kelemahan. Dan bahwa keberhasilan seorang saudara bukanlah ancaman bagi keberhasilan dirinya sendiri.
Pada akhirnya, salah satu hadiah terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak bukanlah membuat mereka selalu akur, melainkan membantu mereka memiliki keterampilan untuk tetap saling menghargai, memperbaiki konflik, dan kembali terhubung setelah mengalami perbedaan.
Itulah fondasi persaudaraan yang dapat mereka bawa jauh setelah mereka meninggalkan rumah.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Rapid Vienna vs Hearts: Tuan Rumah Terancam Tumbang di Liga Konferensi Eropa
Prediksi Skor Viking FK vs Dinamo Zagreb: Purgeri Diprediksi Menang Tipis di Norwegia!
Desta Resmi Hengkang dari Vindes, Perusahaan Berjalan Bersama Vincent Rompies
Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor AEK Athens vs Levski Sofia di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Tuan Rumah Menang!
Prediksi Skor Celta Vigo vs Osasuna di Liga Spanyol 2026/2027: Los Celestes Bakal Raih 3 Poin!
Prediksi Skor Celje vs Slovan Bratislava di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Berujung Penalti?
Prediksi Skor Lyon vs Fenerbahce di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Kans Les Gones Menang!
Kiai Ta’in Tebuireng Dipolisikan Jelang Muktamar NU, TAAT Pasang Badan
Prediksi Skor Rapid Wien vs Hearts di Play-off Liga Konferensi Eropa: Tim Tamu Dijagokan Lolos!
