seseorang yang menghentikan anaknya menjadi pembully / foto: Magnific/magnific
Namun, ketika perilaku tersebut sudah diketahui atau dilaporkan oleh sekolah, orang tua memiliki satu tugas penting: jangan hanya menghentikan perilakunya, tetapi bantu anak memahami mengapa ia melakukannya dan belajar cara berinteraksi yang lebih sehat.
Bullying bukan sekadar pertengkaran biasa antara anak-anak. Perilaku bullying umumnya melibatkan tindakan agresif yang disengaja dan berulang, serta adanya ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban. Bentuknya bisa berupa ejekan, penghinaan, ancaman, pengucilan, kekerasan fisik, penyebaran rumor, hingga bullying melalui media sosial.
Yang perlu dipahami orang tua adalah bahwa anak yang melakukan bullying bukan berarti anak yang “jahat selamanya.” Perilakunya harus dihentikan dengan tegas, tetapi anak tetap membutuhkan bimbingan untuk mengembangkan empati, pengendalian diri, kemampuan menyelesaikan konflik, dan cara mendapatkan penerimaan sosial tanpa merendahkan orang lain.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (26/8), terdapat tujuh strategi yang dapat dilakukan orang tua berdasarkan prinsip-prinsip psikologi perkembangan dan pengasuhan.
1. Jangan langsung memberi label “kamu anak jahat”
Reaksi pertama orang tua sering kali adalah kemarahan.
“Kenapa kamu tega melakukan itu?”
“Kamu memang nakal!”
“Mulai sekarang kamu tidak boleh macam-macam!”
Kemarahaan orang tua dapat dimengerti. Tetapi ada perbedaan besar antara mengatakan “perilakumu salah” dan “kamu adalah anak yang buruk.”
Label negatif dapat membuat anak merasa identitas dirinya sudah ditentukan. Alih-alih belajar memperbaiki perilaku, ia mungkin justru menjadi defensif, berbohong, atau menyembunyikan perilakunya agar tidak ketahuan lagi.
Gunakan bahasa yang memisahkan anak dari perilakunya.
Misalnya:
“Mama tidak menganggap kamu anak jahat. Tetapi apa yang kamu lakukan kepada temanmu itu salah dan harus dihentikan.”
Kalimat seperti ini tetap memberikan batas yang tegas, tetapi menyampaikan pesan bahwa perilaku dapat diubah.
Setelah itu, tanyakan apa yang terjadi.
“Ceritakan dari awal.”
“Apa yang kamu lakukan?”
“Apa yang dilakukan temanmu sebelumnya?”
“Siapa saja yang ada di sana?”
“Menurutmu, apa yang dirasakan temanmu saat itu?”
Jangan langsung mengubah percakapan menjadi interogasi. Tujuannya adalah memahami situasi sekaligus membuat anak belajar mempertanggungjawabkan tindakannya.
2. Cari tahu fungsi di balik perilaku bullying
Salah satu pertanyaan terpenting bukan hanya “Apa yang dilakukan anak?”, tetapi juga “Mengapa perilaku itu memberinya keuntungan?”
Dalam psikologi perilaku, sebuah perilaku dapat bertahan ketika perilaku tersebut memberikan konsekuensi yang dianggap menguntungkan bagi seseorang.
Misalnya, seorang anak mungkin melakukan bullying karena:
ingin mendapatkan perhatian teman;
ingin dianggap kuat;
ingin masuk ke kelompok tertentu;
merasa tindakan agresif membuatnya populer;
ingin mendapatkan kendali atas anak lain;
sedang menghadapi konflik sosial;
meniru perilaku yang ia lihat dari lingkungan;
tidak memiliki keterampilan menyelesaikan konflik;
atau mendapatkan respons tertentu setelah melakukan tindakan tersebut.
Ini bukan berarti alasan tersebut membenarkan bullying.
Memahami penyebabnya justru membantu orang tua menemukan intervensi yang lebih tepat.
Bayangkan dua anak melakukan tindakan yang sama: mengejek teman di depan kelas.
Anak pertama melakukannya karena ingin membuat teman-temannya tertawa.
Anak kedua melakukannya karena merasa terancam oleh teman tersebut dan tidak tahu bagaimana menyelesaikan konflik.
Keduanya membutuhkan batas yang sama—ejekan harus dihentikan—tetapi keterampilan yang perlu dikembangkan bisa berbeda.
Karena itu, jangan berhenti pada pertanyaan:
“Mengapa kamu melakukan itu?”
Lanjutkan dengan:
“Apa yang kamu dapatkan setelah melakukannya?”
“Apa yang kamu rasakan ketika teman-teman tertawa?”
“Apakah kamu merasa lebih kuat?”
“Apakah kamu takut kehilangan teman kalau tidak ikut mengejek?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu orang tua memahami fungsi sosial dari perilaku tersebut.
3. Ajarkan empati, tetapi jangan mengandalkan ceramah
Orang tua sering berkata:
“Coba kalau kamu yang diperlakukan seperti itu!”
Kalimat tersebut tidak selalu cukup.
Empati bukan hanya sesuatu yang bisa diperintahkan. Anak perlu dilatih untuk melihat situasi dari sudut pandang orang lain.
Setelah anak melakukan bullying, bantu ia merekonstruksi kejadian.
Tanyakan:
“Menurutmu, apa yang dirasakan temanmu ketika semua orang menertawakannya?”
“Kalau kamu berdiri di tempatnya, apa yang mungkin kamu pikirkan?”
“Menurutmu, apa yang mungkin terjadi ketika dia pulang ke rumah?”
“Apakah tindakanmu membuat masalahnya lebih besar atau lebih kecil?”
Namun, jangan memaksa anak mengatakan jawaban yang menurut orang tua paling benar.
Jika anak menjawab:
“Dia mungkin tidak peduli.”
Jangan langsung berkata:
“Tidak mungkin! Dia pasti sedih!”
Lebih baik:
“Menurutmu begitu. Kalau kita tidak tahu perasaannya, bagaimana cara kita mengetahuinya?”
Dengan cara ini, anak belajar bahwa perasaan orang lain tidak selalu terlihat dari luar.
Orang tua juga dapat menggunakan buku, film, atau situasi sehari-hari untuk membicarakan perspektif karakter tanpa langsung menghubungkannya dengan kesalahan anak.
Misalnya:
“Kalau kamu menjadi tokoh itu, apa yang akan kamu lakukan?”
Latihan seperti ini dapat membantu anak mengembangkan kemampuan mengambil perspektif orang lain.
4. Tetapkan konsekuensi yang tegas, masuk akal, dan konsisten
Empati saja tidak cukup.
Anak juga harus mengetahui bahwa bullying memiliki konsekuensi.
Namun, konsekuensi berbeda dengan hukuman yang diberikan karena kemarahan.
Hukuman yang sangat keras terkadang hanya mengajarkan anak satu hal:
“Jangan sampai ketahuan.”
Yang lebih bermanfaat adalah konsekuensi yang jelas dan berhubungan dengan perilakunya.
Misalnya, jika anak menggunakan media sosial untuk mempermalukan teman, orang tua dapat membatasi penggunaan media sosial untuk sementara sambil mengajarkan penggunaan yang bertanggung jawab.
Jika anak sengaja merusak barang orang lain, ia perlu ikut bertanggung jawab untuk memperbaiki atau mengganti kerusakan tersebut sesuai situasi.
Jika anak mengucilkan seseorang sebagai bagian dari bullying, orang tua dapat bekerja sama dengan sekolah untuk memastikan perilaku tersebut dihentikan dan hubungan sosialnya ditangani secara tepat.
Prinsipnya:
konsekuensi harus bertujuan mengajarkan tanggung jawab, bukan sekadar melampiaskan kemarahan.
Buat aturan yang sederhana.
“Di keluarga kita, tidak boleh mengancam, mempermalukan, memukul, atau sengaja mengucilkan orang lain.”
Kemudian jelaskan apa yang akan dilakukan jika aturan tersebut dilanggar.
Yang paling penting adalah konsistensi.
Jangan hari ini memberikan konsekuensi berat, tetapi minggu depan membiarkannya karena sedang malas berurusan dengan masalah.
5. Ajarkan perilaku pengganti
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah orang tua hanya mengatakan:
“Jangan bullying.”
Masalahnya, anak mungkin tahu apa yang tidak boleh dilakukan, tetapi belum tahu apa yang harus dilakukan sebagai gantinya.
Jika anak mudah marah ketika diejek, ajarkan kalimat yang bisa digunakan:
“Aku tidak suka kamu bicara seperti itu.”
“Kita bicarakan nanti kalau sudah tenang.”
“Aku akan pergi dulu daripada bertengkar.”
Jika anak ingin mendapatkan perhatian teman, bantu ia menemukan cara lain untuk memperoleh perhatian.
Misalnya melalui humor tanpa mempermalukan orang lain, olahraga, aktivitas kreatif, membantu teman, atau menjadi seseorang yang dapat diandalkan.
Jika anak mengikuti teman-temannya karena takut ditolak kelompok, latih kemampuan mengatakan:
“Aku tidak ikut.”
“Itu bukan hal yang lucu.”
“Sudahlah, kita lakukan yang lain.”
Anak membutuhkan repertoar perilaku baru.
Semakin banyak alternatif yang ia miliki ketika menghadapi situasi sosial yang sulit, semakin kecil ketergantungannya pada agresi sebagai satu-satunya cara mendapatkan apa yang ia inginkan.
6. Bekerja sama dengan sekolah, bukan hanya menyalahkan sekolah
Jika bullying terjadi di sekolah, orang tua sebaiknya tidak menangani semuanya sendirian.
Hubungi guru, wali kelas, konselor sekolah, atau pihak sekolah yang relevan.
Tujuannya bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan membuat rencana yang konsisten.
Tanyakan:
Apa yang sebenarnya terjadi?
Seberapa sering perilaku tersebut terjadi?
Siapa saja yang terlibat?
Dalam situasi seperti apa perilaku tersebut biasanya muncul?
Apa yang dilakukan sekolah?
Perubahan apa yang diharapkan dari anak?
Bagaimana perkembangan anak akan dipantau?
Orang tua juga perlu menghindari pendekatan yang dapat memperburuk konflik, seperti langsung menghubungi atau memarahi anak yang menjadi korban.
Penanganan bullying sebaiknya dilakukan oleh orang dewasa yang bertanggung jawab dengan mempertimbangkan keselamatan dan kebutuhan semua anak yang terlibat.
Yang ideal adalah rumah dan sekolah menyampaikan pesan yang sama:
Bullying tidak dapat diterima, tetapi anak masih dapat belajar memperbaiki perilakunya.
7. Cari bantuan profesional jika perilakunya menetap atau semakin serius
Tidak semua kasus bullying membutuhkan psikolog atau profesional kesehatan mental.
Namun, bantuan profesional patut dipertimbangkan apabila perilaku agresif:
berlangsung terus-menerus;
semakin berat;
muncul di berbagai lingkungan;
disertai masalah pengendalian emosi yang serius;
melibatkan ancaman atau kekerasan;
disertai kesulitan sosial yang signifikan;
atau tidak menunjukkan perubahan meskipun sudah mendapatkan intervensi dari orang tua dan sekolah.
Psikolog anak dapat membantu melakukan penilaian yang lebih menyeluruh.
Yang dicari bukan sekadar “apa yang salah dengan anak,” tetapi juga pola yang mungkin mempertahankan perilaku tersebut, keterampilan sosial yang perlu dikembangkan, dinamika keluarga dan sekolah, serta strategi intervensi yang sesuai dengan usia anak.
Orang tua tidak perlu menunggu sampai masalah menjadi sangat parah.
Meminta bantuan bukan berarti gagal menjadi orang tua.
Justru, mencari bantuan lebih awal dapat menunjukkan bahwa orang tua serius ingin membantu anak berubah.
Jangan Berusaha Membuat Anak Takut kepada Anda
Ada perbedaan antara membuat anak takut dan membuat anak memahami batas.
Jika anak hanya takut kepada orang tua, ia mungkin berhenti melakukan bullying ketika orang tua berada di dekatnya.
Tetapi bagaimana ketika orang tua tidak melihat?
Perubahan yang sebenarnya terjadi ketika anak mulai memahami:
“Aku tidak melakukan ini bukan hanya karena takut dihukum. Aku tahu bahwa menyakiti orang lain bukan cara yang tepat untuk mendapatkan apa yang kuinginkan.”
Itulah sebabnya disiplin sebaiknya berjalan bersama pembentukan keterampilan.
Batas + konsekuensi + empati + keterampilan sosial + pengawasan jauh lebih konstruktif daripada kemarahan semata.
Jangan Lupa Memuji Perubahan Kecil
Orang tua terkadang hanya memperhatikan kesalahan anak.
Ketika anak berhasil mengendalikan diri, orang tua mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.
Padahal, perilaku positif juga perlu diperkuat.
Misalnya:
“Tadi kamu marah, tetapi kamu memilih pergi daripada mengejek. Itu keputusan yang bagus.”
“Kamu tadi membela temanmu tanpa memukul siapa pun. Mama menghargai itu.”
“Terima kasih karena kamu mau mengakui kesalahanmu.”
Pujian sebaiknya spesifik terhadap perilaku.
Bukan hanya:
“Kamu anak baik.”
Tetapi:
“Kamu berhasil menahan diri ketika temanmu membuatmu kesal. Itu menunjukkan kamu sedang belajar mengendalikan emosimu.”
Anak akhirnya memahami perilaku apa yang ingin dipertahankan.
Ingat: Menghentikan Bullying Adalah Proses
Ketika orang tua mengetahui anaknya melakukan bullying, wajar jika muncul emosi yang kuat.
Tetapi jangan biarkan rasa malu membuat Anda hanya berfokus pada hukuman.
Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat anak berhenti karena takut.
Tujuannya adalah membantu anak berkembang menjadi seseorang yang mampu:
mengendalikan impuls;
memahami perasaan orang lain;
menyelesaikan konflik tanpa kekerasan;
menolak tekanan teman;
menerima penolakan;
mencari perhatian dengan cara yang sehat;
bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan;
dan memperbaiki kerusakan yang telah ia sebabkan.
Tujuh strategi tersebut dapat diringkas menjadi satu prinsip sederhana:
Hentikan perilakunya dengan tegas, pahami penyebabnya, ajarkan keterampilan penggantinya, dan dampingi anak secara konsisten.
Anak yang melakukan bullying memang harus bertanggung jawab atas tindakannya. Tetapi tanggung jawab tidak harus berarti dicap sebagai “anak jahat.”
Justru di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting.
Karena masa kanak-kanak dan remaja adalah masa perkembangan. Perilaku dapat dipelajari, tetapi perilaku juga dapat diubah dan dilatih kembali.
Jika orang tua mampu memberikan batas yang jelas sekaligus dukungan yang tepat, pengalaman ini tidak harus menjadi akhir dari cerita.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Rapid Vienna vs Hearts: Tuan Rumah Terancam Tumbang di Liga Konferensi Eropa
Prediksi Skor Viking FK vs Dinamo Zagreb: Purgeri Diprediksi Menang Tipis di Norwegia!
Desta Resmi Hengkang dari Vindes, Perusahaan Berjalan Bersama Vincent Rompies
Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor AEK Athens vs Levski Sofia di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Tuan Rumah Menang!
Prediksi Skor Celta Vigo vs Osasuna di Liga Spanyol 2026/2027: Los Celestes Bakal Raih 3 Poin!
Prediksi Skor Celje vs Slovan Bratislava di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Berujung Penalti?
Prediksi Skor Lyon vs Fenerbahce di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Kans Les Gones Menang!
Kiai Ta’in Tebuireng Dipolisikan Jelang Muktamar NU, TAAT Pasang Badan
Prediksi Skor Rapid Wien vs Hearts di Play-off Liga Konferensi Eropa: Tim Tamu Dijagokan Lolos!
