Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 19 Agustus 2026 | 19.05 WIB

5 Alasan Anak yang Dewasa Memilih Tidak Berhubungan atau Membatasi Kontak dengan Orang Tua!

seseorang yang membatasi kontak dengan orang tua./Magnific/prostock-studio - Image

seseorang yang membatasi kontak dengan orang tua./Magnific/prostock-studio

JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak sering dianggap sebagai salah satu hubungan yang paling kuat dan tidak terputus dalam kehidupan seseorang. Ada anggapan bahwa seberapa pun berat konflik yang terjadi, seorang anak pada akhirnya akan selalu kembali kepada orang tuanya.

Namun, kenyataan psikologis tidak selalu demikian.

Ada orang dewasa yang memilih untuk menjaga jarak dari orang tua mereka. Sebagian hanya mengurangi frekuensi komunikasi, sementara yang lain memilih hubungan yang sangat terbatas, bahkan memutus kontak sama sekali. Keputusan tersebut sering kali dianggap sebagai bentuk ketidaktaatan, tidak tahu berterima kasih, atau terlalu sensitif.

Padahal, dari sudut pandang psikologi, keputusan untuk membatasi hubungan keluarga bisa memiliki latar belakang yang jauh lebih kompleks.

Tidak semua anak dewasa menjauh karena membenci orang tuanya. Dalam beberapa kasus, menjaga jarak justru merupakan cara seseorang melindungi kesehatan psikologis, mempertahankan batas pribadi, atau menghentikan pola hubungan yang selama bertahun-tahun membuatnya tertekan.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (19/8), terdapat lima alasan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang yang telah dewasa memilih untuk tidak berhubungan atau membatasi kontak dengan orang tuanya.

1. Hubungan dengan Orang Tua Terasa Secara Konsisten Menguras Emosi

Salah satu alasan paling umum seseorang membatasi hubungan dengan orang tua adalah karena interaksi tersebut terus-menerus menimbulkan tekanan emosional.

Hubungan keluarga tentu tidak harus selalu menyenangkan. Konflik sesekali merupakan bagian normal dari hubungan manusia. Namun, masalah muncul ketika setiap komunikasi hampir selalu diikuti oleh perasaan takut, bersalah, cemas, marah, tertekan, atau kelelahan secara emosional.

Misalnya, seorang anak dewasa mungkin merasa bahwa setiap kali berbicara dengan orang tuanya, pembicaraan akan berubah menjadi kritik.

Editor: Hanny Suwindari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore