
Ilustrasi Gen Alpha Menggunakan Teknologi AI (Freepik)
JawaPos.com - Di tengah maraknya diskusi negatif mengenai perilaku Generasi Alpha yang sering dicap sebagai "anak-anak iPad", sebuah sudut pandang baru datang dari ruang kelas sekolah dasar. Elysse Landy, seorang guru kelas lima, justru menyaksikan langsung bagaimana bocah berusia 10 tahun mampu meredakan perselisihan dengan kedewasaan emosional yang luar biasa. Fenomena ini mematahkan stereotip bahwa ketergantungan pada layar gawai selalu merusak perkembangan mental anak-anak zaman sekarang.
Dikutip dari Your Tango, Selasa (30/6), Landy menceritakan pengalamannya saat menghadapi pertengkaran antara dua muridnya yang baru menginjak usia 10 hingga 11 tahun. Sebelum dirinya sempat turun tangan untuk melerai, salah satu anak dengan sangat tenang menghadapi temannya yang sedang marah. Anak tersebut menjelaskan bahwa ia tahu temannya "sedang menghadapi banyak masalah" dan hanya memproyeksikan kekesalan itu kepadanya, lalu mengusulkan agar mereka berdua berbicara lagi setelah sama-sama tenang.
Kemampuan anak sedini itu dalam mengendalikan emosi tanpa merasa tersinggung membuat Landy takjub, mengingat hal tersebut bahkan masih sulit dilakukan oleh banyak orang dewasa.
Landy menilai lompatan kedewasaan psikologis pada Generasi Alpha ini tidak terjadi begitu saja, melainkan hasil dari evolusi pola asuh (parenting) generasi masa kini. Banyak orang tua dari generasi milenial yang kini lebih sadar akan kesehatan mental dan aktif melakukan perbaikan diri.
"Saya merasa mereka dibesarkan oleh generasi orang tua yang telah menjalani terapi, memutus siklus trauma antar generasi, mengakhirinya pada mereka, dan itu benar-benar terlihat pada beberapa anak ini," ungkap Landy.
Jika pada masanya dulu anak berusia 10 tahun akan menangis atau mengadu saat bertengkar, anak-anak sekarang memiliki perbendaharaan emosi yang lebih matang. Kesadaran orang tua milenial untuk merespons konflik dengan kepala dingin terbukti berhasil diwariskan kepada anak-anak mereka sebagai modal berinteraksi di lingkungan sosial.
Paparan layar gawai yang berlebihan memang kerap dikaitkan dengan penurunan rentang perhatian dan masalah perilaku pada anak. Kendati demikian, tumbuh di era digital terbukti tidak serta-merta membuat Generasi Alpha menjadi generasi yang berprestasi rendah atau antisosial.
Pakar edukasi menyebutkan bahwa internet juga menyediakan akses pengetahuan dan pendidikan tanpa batas yang mampu membuka cakrawala berpikir anak sejak usia dini. Kuncinya tidak lagi terletak pada pelarangan total terhadap teknologi, melainkan pada bagaimana orang tua menerapkan struktur dan batasan yang seimbang bagi anak.
Guna mendukung perkembangan positif ini, lembaga penasihat digital Common Sense Education menyarankan pihak sekolah untuk mulai menerapkan kurikulum yang seimbang media (media balance) di setiap tingkatan kelas. Langkah ini dinilai krusial untuk membantu berkontribusi pada pendidikan anak dengan cara yang sehat, aman, dan tetap adaptif terhadap kemajuan zaman.

Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Prediksi Skor Pantai Gading vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Misi Erling Haaland Pulangkan Wakil Afrika
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Sejarah! Indonesia Juara AVC Men's Cup 2026 Hancurkan Korea Selatan 3-0
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di 32 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Pembuktian Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Jepang di 32 Besar Piala Dunia 2026: Marquinhos Akui Samurai Biru Sedang Percaya Diri
Prediksi Susunan Pemain Timnas Norwegia vs Pantai Gading di 32 Besar Piala Dunia 2026: Sudah Lakukan Rotasi, Martin Odegaard Siap Menan
Pakai Tas Mewah, Tiga Pengasuh Anak-anak Raffi Ahmad-Nagita Slavina Sedang Asik Liburan Jadi Sorotan
Prediksi Skor Belanda vs Maroko di Piala Dunia 2026: Oranje Dijagokan Menang Tipis Kontra Singa Atlas
