Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 April 2026 | 21.04 WIB

9 Kualitas Diri Generasi 80 dan 90-an yang Kini Jarang Ditemukan pada Gen Z, Apalagi Alpha, Menurut Psikologi

Ilustrasi, anak-anak generasi 80 dan 90-an. Freepik/ freepik.

JawaPos.com - Mungkin Anda yang lahir di generasi 80 dan 90-an menyadari ada yang hilang atau jarang ditemukan dalam diri gen Z, apalagi Alpha, meski anak-anak kelahiran 80 dan 90-an memiliki masalahnya sendiri.

Misalnya saja kemandirian, kemampuan memecahkan masalah, sampai kesabaran untuk menunggu. Ini menjadi hal yang menarik untuk dibahas lebih jauh.

Dilansir JawaPos.com dari geediting pada Rabu (15/4), berikut ini sembilan kualitas diri generasi 80 dan 90-an yang kini jarang ditemukan pada gen Z, apalagi Alpha, menurut psikologi.

 

1. Kemandirian dan Kepercayaan Diri yang Sejati

Anak-anak yang lahir di tahun 80 dan 90-an belajar kemandirian sejati karena harus melakukannya. Contohnya, takut menolak perintah orang tua membeli bahan makanan di toko sudut jalan karena orang tua tidak mau menerima penolakan atau harus berjalan kaki sendirian untuk berangkat sekolah.

Tanpa sadar, setiap tantangan kecil yang ditemui sang anak dari pengalaman tersebut lambat laun membangun kepercayaan diri bahwa mereka mampu mengatasi berbagai hal sendiri.

Penelitian tentang perkembangan anak mengungkapkan bahwa anak-anak yang mengembangkan keterampilan kemandirian sejak dini lebih siap menghadapi stres dan lebih mungkin berhasil secara akademis maupun sosial.

Ketika anak-anak menghabiskan masa kecilnya untuk memecahkan masalahnya sendiri, mereka tidak akan hancur ketika pertama kali hidup memberinya tantangan.

Sementara itu, fenomena yang terjadi pada anak-anak yang lahir di generasi Z, apalagi Alpha adalah orang dewasa atau orang tua yang menyelesaikan masalah mereka, bahkan sebelum mereka mencoba menyelesaikannya sendiri.

Perilaku orang dewasa yang demikian sama saja sedang membungkus masa kecil anak-anak dengan gelembung pelindung atas nama keamanan yang sebenarnya menghilangkan pengalaman untuk membangun kepercayaan diri sejati sang anak.

2. Kemampuan Pemecahan Masalah yang Unggul

Seluruh proses yang dilalui anak-anak generasi 80 dan 90-an telah mengajari mereka pemecahan masalah dengan cara yang tidak pernah diajarkan di dalam kelas.

Ketika sesuatu tidak berhasil, tidak serta merta bertanya kepada Google atau mengirim pesan ke orang tua. Anak-anak generasi 80 dan 90-an harus berpikir, bereksperimen, dan mencari solusinya sendiri.

Studi menunjukkan, anak-anak yang mengembangkan keterampilan pemecahan masalah yang kuat memiliki tingkat harga diri dan kepercayaan diri yang lebih tinggi sekaligus perilaku yang kurang menantang.

Jadi, ketika tumbuh dewasa dimana harus mengatasi rintangan tanpa intervensi orang dewasa yang konstan, mereka mampu melaluinya.

Sementara itu, yang terjadi pada gen Z dan Alpha saat menemui kendala, naluri pertama mereka adalah bertanya kepada orang dewasa.
 
Tentu, kemudahan-kemudahan seperti itu kurang mengasah keterampilan mereka dalam memecahkan masalah.

Sungguh berbeda bukan dengan generasi 80 dan 90-an? Naluri pertama mereka terus mencoba berbagai pendekatan sampai akhirnya berhasil.

3. Keterampilan Komunikasi Tatap Muka yang Lebih Kuat


Generasi 80 dan 90-an tidak punya pilihan selain berkomunikasi langsung atau tatap muka. 
 
Misalnya saja, jika ingin membuat rencana dengan teman, harus menelpon rumahnya dan siap berbicara kepada siapa pun yang mengangkat telepon. Lalu, jika memiliki masalah dengan seseorang, harus menyelesaikannya secara langsung.
 
Generasi 80 dan 90-an memiliki ribuan jam latihan belajar untuk itu, membaca bahasa tubuh, menangkap isyarat sosial yang halus, atau menavigasi percakapan yang canggung.
 
Sementara gen Z atau Alpha tidak mendapatkan volume interaksi yang sama seperti generasi 80 dan 90-an. Jadi, tidak heran bila mereka kesulitan memesan kopi secara langsung atau melakukan kontak mata selama percakapan.

Penelitian tentang perkembangan komunikasi menunjukkan, interaksi tatap muka sangat penting untuk belajar membaca isyarat emosional, memahami nada suara, dan mengembangkan empati.

Bahkan sebuah studi menemukan bahwa anak-anak yang lima hari tanpa layar secara signifikan meningkatkan kemampuannya dalam membaca emosi wajah dibandingkan dengan anak-anak yang terus-menerus menggunakan gawai mereka setiap hari.
 
4. Kenyamanan yang Lebih Besar dengan Kebosanan dan Kreativitas

Waktu kosong yang terbentang di depan saat sore hari atau akhir pekan dan hari libur tanpa kegiatan yang dijadwalkan atau tidak ada acara TV yang menarik untuk ditonton tanpa sadar memaksa anak-anak generasi 80 dan 90-an menciptakan hiburannya sendiri. Menjadikan mereka kreatif.

Ilmu saraf modern mengungkapkan, ketika anak-anak memiliki waktu luang yang tidak terstruktur dan diizinkan untuk merasa bosan, mereka akan mengembangkan inovasi dan pemikiran kreatif.

Ketidaknyamanan karena tidak ada yang dilakukan mendorong anak-anak menggali imajinasi dan memecahkan masalah untuk mengatasi kebosanan.

Sementara itu, anak-anak zaman now jarang sekali mengalami kebosanan yang sesungguhnya. Hampir selalu ada layar gawai, kegiatan yang terjadwal, hiburan yang terus-menerus, pokoknya selalu ada sesuatu yang tersedia.

Rasa bosan yang tidak pernah mereka rasakan, maka tidak ada juga guru yang mengajarkan kepada mereka kreativitas dan daya cipta.

5. Kompetensi Fisik dan Penilaian Risiko

Memanjat pohon atau mengendarai sepeda menuruni bukit curam yang dilalui anak-anak generasi 80 dan 90-an bukan sekadar aktivitas yang menyenangkan, melainkan pelajaran terus-menerus tentang penilaian risiko dan kemampuan fisik.

Mereka belajar batasan diri dengan mengujinya sendiri, misalnya dengan beberapa luka lecet di lutut sepanjang jalan.

Para peneliti menyebut masa kanak-kanan normal di tahun 80 dan 90-an sebagai 'pengasuhan bebas'. Sementara studi tentang perkembangan anak menunjukkan, Ketika anak-anak terlibat dalam apa yang mungkin dianggap orang dewasa sebagai 'permainan berisiko' tanpa pengawasan terus-menerus, mereka mengalami kesehatan mental yang lebih baik, kemandirian yang lebih besar, dan lebih sedikit kekurangan dalam keterampilan belajar dan penilaian.

Fenomena yang terjadi saat ini, banyak orang tua mengawasi begitu dekat saat anak-anaknya bermain di taman. Mungkin terlihat baik, tapi perilaku tersebut membuat sang anak tidak pernah benar-benar menguji kemampuan atau belajar menilai risiko sendiri.

6. Ikatan Pertemanan yang Lebih Kuat Tanpa Mediasi Orang Dewasa


Seseorang menuduh orang lain curang dalam permainan sepak bola, perdebatan tentang giliran siapa, atau perasaan sakit hati saat dicurangi menjadi kenangan masa kecil.

Meski tidak menyenangkan, tapi kenangan tersebut memberikan pengajaran untuk menyelesaikan konflik dengan anak-anak lain sendirian. Tidak ada orang dewasa yang siap menjadi penengah atau meredakan setiap perasaan sakit hati.

Pengalaman tersebut juga mengajarkan bagaimana caranya negosiasi, kompromi, meminta maaf, dan melanjutkan tanpa campur tangan orang tua. Pengalaman itu telah membangun sesuatu yang penting tanpa disadari.

Penelitian tentang ketahanan pada anak-anak menunjukkan bahwa mengembangkan hubungan pertemanan yang kuat dan belajar mengatasi konflik sosial adalah faktor pelindung penting yang membantu anak-anak sukses di kemudian hari.

Jadi, ketika anak-anak menghabiskan masa kecil menyelesaikan drama pertemanannya sendiri, sebenarnya mereka sedang mengembangkan keterampilan sosial yang bertahan seumur hidup.

Namun, yang terjadi pada gen Z apalagi Alpha saat ini adalah bermain bersama diawasi dan konflik dimediasi orang dewasa. Mereka jarang diberi ruang untuk menyelesaikan perselisihan mereka sendiri.

Mereka telah kehilangan ribuan pelajaran kecil tentang hubungan antarsesama.

7. Fokus yang Lebih Dalam dan Perhatian yang Berkelanjutan


Anak-anak kelahiran 80 dan 90-an fokus sepenuhnya pada satu tugas karena tidak ada notifikasi, peringatan, atau pilihan hiburan alternatif yang terus-menerus bersaing untuk mendapatkan perhatian.

Jadi, ketika mereka memulai sesuatu, mereka menyelesaikannya sebelum beralih ke hal lain.

Penelitian Pendidikan menunjukkan bahwa kemampuan untuk mempertahankan perhatian dan fokus secara mendalam pada tugas-tugas berkaitan langsung dengan keberhasilan akademis dan kemampuan pemecahan masalah.

Tapi, mengembangkan kapasitas tersebut membutuhkan latihan yang saat ini hampir mustahil dilakukan karena gangguan digital yang terus-menerus.

Pada anak-anak gen Z atau Alpha, setiap beberapa menit perhatiannya teralihkan oleh notifikasi. Bukan berarti mereka kurang cerdas atau motivasi, mereka hanya beroperasi dalam lingkungan yang membuat fokus berkelanjutan menjadi sangat sulit.

8. Ketahanan Melalui Pengalaman Konsekuensi Nyata

Konsekuensi mendapat nilai nol ketika lupa mengerjakan PR, teman-teman yang sudah pergi ketika datang terlambat, atau mainan yang rusak ketika tidak hati-hati tanpa sadar memberikan pengajaran tentang konsekuensi nyata dan ketahanan.

Penelitian menunjukkan, ketahanan bukan sifat bawaan, melainkan berkembang melalui pengalaman tantangan yang dapat dikelola dan konsekuensi alaminya.

Anak-anak yang menghadapi rintangan dan mengatasinya telah membangun apa yang oleh para psikolog disebut 'imunisasi stres', mereka belajar bahwa kemunduran dapat diatasi dan sering kali ditaklukan.

Namun, saat ini dikembangkan oleh sebagian orang namanya 'pengasuhan helikopter' atau 'pengasuhan penyapu salju', maksudnya addalah membersihkan rintangan dari jalan anak-anak, bahkan sebelum mereka menghadapinya.

Misalnya saja orang tua yang berdebat dengan guru tentang nilai, menyelamatkan tugas yang terlupakan, atau melindungi anak-anak dari kekecewaan.

Meski niatnya baik, tapi sebenarnya mereka sedang menciptakan orang dewasa muda yang runtuh pada kesulitan nyata dalam hidup.

9. Kenyamanan dengan Ketidakpastian dan Penundaan Kepuasan

Pengalaman jika ingin berbicara langsung dengan teman, harus menunggu sampai bisa bertemu langsung atau jika ingin memiliki barang yang diinginkan harus menabung dan menunggu sampai tabungan penuh.

Semua penantian tersebut membangun toleransi terhadap penundaan kepuasan dan kenyamanan dengan ketidakpastian. Generasi 80 dan 90-an belajar kesabaran itu karena tidak punya pilihan lain.

Penelitian terkait perkembangan anak secara konsisten menunjukkan bahwa kemampuan menunda kepuasan yang terkenal dengan eksperimen marshmallow menunjukkan, anak-anak yang dapat menunggu daripada menuntut kepuasan cepat cenderung berprestasi lebih baik secara akademis, professional, bahkan dalam hubungan mereka.

Gen Z dan Alpha yang tumbuh di dunia yang serba instan, jawaban langsung untuk pertanyaan, hiburan sesuai permintaan, atau komunikasi yang instan membuat kesabaran dan toleransi akan ketidakpastian menjadi keterampilan yang sangat langka.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore