Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 Maret 2026 | 17.50 WIB

Dampak Kalimat “Berhenti Menangis atau Aku Akan Menyubitmu”: 7 Pola Emosi yang Terbentuk Menurut Psikologi

seseorang yang sering dibilang berhenti menangis (Freepik/odua) - Image

seseorang yang sering dibilang berhenti menangis (Freepik/odua)


JawaPos.com - Masa kecil adalah fondasi utama pembentukan emosi seseorang. Cara orang dewasa—terutama orang tua atau pengasuh—merespons emosi anak akan membentuk bagaimana anak tersebut memahami, mengekspresikan, dan mengelola perasaannya di masa depan.

Salah satu bentuk respons yang sering dianggap “sepele” namun berdampak besar adalah ancaman seperti, “berhenti menangis atau aku akan menyubitmu.” Kalimat ini bukan sekadar larangan menangis, melainkan juga mengandung intimidasi yang dapat meninggalkan jejak psikologis jangka panjang.

Menurut berbagai pendekatan dalam psikologi perkembangan dan trauma emosional, anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini cenderung mengembangkan pola emosi tertentu.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat 7 pola yang sering muncul.

1. Kesulitan Mengenali dan Memahami Emosi Sendiri

Anak yang sering dilarang menangis belajar bahwa emosinya tidak valid atau tidak penting. Akibatnya, saat dewasa, mereka mungkin:

Tidak bisa membedakan antara sedih, marah, atau cemas
Bingung saat ditanya “kamu lagi merasa apa?”
Lebih sering mengatakan “aku nggak tahu kenapa aku begini”

Ini terjadi karena sejak kecil mereka tidak diberi ruang untuk mengeksplorasi emosi secara sehat.

2. Menekan Emosi Secara Berlebihan

Ancaman fisik atau hukuman saat menangis membuat anak belajar bahwa mengekspresikan emosi itu berbahaya. Maka terbentuklah kebiasaan:

Menahan tangis meskipun sangat sedih
Menyembunyikan perasaan dari orang lain
Terlihat “kuat” di luar, tetapi rapuh di dalam

Dalam jangka panjang, penekanan emosi ini bisa berujung pada ledakan emosi atau bahkan gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi.

3. Rasa Takut terhadap Ekspresi Emosi

Bukan hanya menahan emosi, mereka juga bisa merasa takut terhadap emosi itu sendiri. Misalnya:

Takut menangis di depan orang lain
Merasa malu saat terlihat lemah
Menganggap emosi sebagai sesuatu yang harus dihindari

Emosi yang seharusnya alami justru dianggap ancaman.

4. Kecenderungan People-Pleasing (Menyenangkan Orang Lain)

Karena terbiasa diancam saat menunjukkan emosi, anak belajar bahwa keamanan datang dari “tidak membuat orang lain marah.” Akibatnya, saat dewasa mereka:

Sulit mengatakan “tidak”
Lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri
Takut konflik

Mereka mengorbankan kebutuhan pribadi demi menjaga kenyamanan orang lain.

5. Ledakan Emosi yang Tidak Terkontrol

Menekan emosi tidak berarti emosi tersebut hilang. Sebaliknya, emosi akan menumpuk dan suatu saat bisa meledak. Pola ini biasanya terlihat seperti:

Tiba-tiba marah besar karena hal kecil
Menangis tanpa tahu penyebabnya
Reaksi emosional yang tidak proporsional

Ini adalah hasil dari akumulasi emosi yang tidak pernah diproses sejak kecil.

6. Hubungan yang Tidak Sehat dengan Kedekatan Emosional

Anak yang tidak mendapatkan validasi emosional sering mengalami kesulitan dalam hubungan interpersonal. Mereka bisa:

Sulit membuka diri
Tidak nyaman dengan keintiman emosional
Atau sebaliknya, terlalu bergantung pada orang lain

Hal ini karena mereka tidak pernah belajar bagaimana hubungan yang aman secara emosional seharusnya terbentuk.

7. Kritik Diri yang Keras (Inner Critic)

Kalimat ancaman yang terus-menerus didengar bisa berubah menjadi suara internal. Saat dewasa, mereka mungkin:

Mengkritik diri sendiri secara berlebihan
Merasa “lemah” karena punya emosi
Menyalahkan diri sendiri saat merasa sedih

Seolah-olah ada suara di dalam diri yang terus berkata, “kamu tidak boleh seperti ini.”

Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?

Dalam psikologi, respons seperti ancaman saat anak menangis termasuk dalam emotional invalidation—yaitu penolakan terhadap pengalaman emosional seseorang. Anak yang mengalami ini tidak belajar bahwa emosinya:

Wajar
Boleh dirasakan
Bisa dikelola dengan aman

Sebaliknya, mereka belajar bahwa emosi harus ditekan atau dihindari.

Apakah Pola Ini Bisa Diubah?

Kabar baiknya: ya, bisa.

Otak manusia memiliki kemampuan yang disebut neuroplasticity, yaitu kemampuan untuk berubah dan membentuk pola baru. Dengan kesadaran dan latihan, seseorang bisa:

Belajar mengenali emosi
Memberi validasi pada diri sendiri
Membangun hubungan yang lebih sehat
Mengganti pola lama dengan yang lebih adaptif

Beberapa cara yang bisa membantu:

Journaling (menulis perasaan)
Terapi atau konseling
Latihan mindfulness
Belajar komunikasi emosional
Penutup

Kalimat sederhana seperti “berhenti menangis atau aku akan menyubitmu” mungkin terdengar biasa dalam pola pengasuhan lama. Namun, bagi anak, itu bisa menjadi pengalaman yang membentuk cara mereka memahami diri sendiri dan dunia.

Memahami pola-pola ini bukan untuk menyalahkan masa lalu, tetapi untuk menyadari bahwa apa yang kita rasakan hari ini memiliki akar. Dan yang terpenting, kita selalu punya kesempatan untuk memperbaikinya.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore