Logo JawaPos
Author avatar - Image
27 Oktober 2025, 04.56 WIB

Mengapa Anak yang Dibesarkan Orang Tua Overprotective Cenderung Tunjukkan 7 Sifat Ini Saat Dewasa

Seorang wanita dewasa tampak cemas dan merenung, menunjukkan sifat-sifat orang yang dibesarkan oleh orang tua yang terlalu protektif./Freepik - Image

Seorang wanita dewasa tampak cemas dan merenung, menunjukkan sifat-sifat orang yang dibesarkan oleh orang tua yang terlalu protektif./Freepik

JawaPos.com - Terdapat perbedaan mencolok antara dibesarkan oleh orang tua yang protektif dengan orang tua yang terlalu protektif atau overprotective pada kehidupan anak.

Inti perbedaannya terletak pada keseimbangan yang sehat antara perlindungan dan pemberian kebebasan yang dibutuhkan oleh seorang anak untuk bertumbuh dewasa.

Orang tua overprotective seringkali bermaksud baik dalam upaya menjaga anak mereka, tetapi niat baik tersebut dapat berdampak pada konsekuensi yang tidak terduga pada kehidupan si anak saat dewasa, melansir dari Global English Editing Jumat (24/10).

Dibesarkan dengan orang tua yang sangat protektif memang tidak serta merta membuat anak pasti mengalami kesulitan seumur hidupnya.

Hanya saja, mereka mungkin menunjukkan beberapa sifat tertentu yang berbeda dengan orang lain ketika sudah menjadi orang dewasa.

Memahami sifat-sifat umum ini bisa menjadi langkah awal penting, terutama jika Anda menyadarinya dalam diri sendiri atau orang terdekat.

1. Kesulitan Mengambil Keputusan

Satu di antara sifat paling umum yang terlihat adalah kesulitan mengambil keputusan tanpa masukan dari pihak luar. Ketika orang tua terus-menerus mengambil alih pilihan untuk anak mereka, secara tidak sengaja mereka telah merampas kesempatan anak belajar mandiri. Akibatnya, anak-anak ini tumbuh menjadi orang dewasa yang terus mencari nasihat atau jaminan dari orang lain sebelum membuat pilihan.

2. Tingkat Kecemasan yang Lebih Tinggi

Orang dewasa yang dibesarkan oleh orang tua overprotective seringkali mengajarkan bahwa dunia ini harus ditakuti, bukan untuk dinavigasi dengan keberanian. Setiap risiko dianggap sebagai bahaya, setiap orang asing adalah ancaman potensial, dan setiap kegagalan terasa seperti bencana besar. Hal ini bisa berujung pada peningkatan rasa cemas berlebihan yang harus dihadapi seseorang saat dewasa.

3. Ketergantungan pada Orang Lain

Anak yang selalu dilindungi dan diisolasi dari dunia luar seringkali tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan rasa percaya diri dan kemandirian. Kondisi ini terbawa hingga masa dewasa yang akhirnya menyebabkan ketergantungan berlebihan pada pendapat dan dukungan orang lain. Kecenderungan untuk bergantung pada orang lain dalam hal pengambilan keputusan atau mencari validasi, dapat ditelusuri kembali ke masa kecil ketika orang tua yang membuat sebagian besar pilihan hidup mereka.

4. Takut Mengambil Risiko

Sifat umum lainnya adalah rasa takut yang kuat untuk mengambil risiko dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari. Orang tua yang melindungi anak mereka dari setiap potensi bahaya, secara tidak sengaja menciptakan ketakutan pada hal-hal yang tidak diketahui. Gelembung perlindungan ini membentuk pola pikir yang menganggap dunia sangat berbahaya, sehingga langkah keluar dari zona nyaman dianggap tidak layak untuk diambil.

5. Sulit Menentukan Batasan

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore