Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 September 2025 | 19.22 WIB

Siap-Siap! Ini 7 Tanda Fase Fournado pada Anak Usia 4 Tahun yang Sering Bikin Orangtua Geleng-geleng

Anak picky eater (Canva) - Image

Anak picky eater (Canva)

JawaPos.com - Saat anak berusia 4 tahun, banyak orangtua berharap masa terrible two dan threenager telah usai, tetapi justru muncul fase baru bernama fournado.

Fournado menggambarkan kondisi anak usia 4 tahun yang emosinya meledak-ledak, penuh energi, mandiri, dan sering membuat orangtua kewalahan menghadapinya.

Di fase ini, anak bisa sangat lucu sekaligus emosional, sering berubah cepat layaknya tornado sehingga disebut fase perkembangan fournado.

Dilansir dari laman Hellosehat.com, berikut ini tujuh tanda khas fase fournado yang perlu diketahui agar orangtua lebih siap menghadapi setiap perubahan perilaku anak.



1. Tantrum yang Lebih “Dewasa”

Meski sudah melewati usia dua tahun, tantrum belum hilang. Anak justru lebih ekspresif karena memiliki kosakata yang lebih luas untuk melampiaskan emosi.

Mereka dapat menyampaikan perasaan kecewa, marah, atau tidak setuju dengan lebih jelas, bahkan kadang mengucapkan kata kasar untuk orang terdekatnya.

Hal ini membuat tantrum terasa lebih dewasa dan menantang sehingga orangtua perlu bersabar serta konsisten saat menghadapi luapan emosinya.

2. Bisa Jadi Sahabat Terbaik atau Musuh Terburuk

Anak pada fase fournado bisa menganggap orangtua sahabat terbaik, lalu seketika berubah menjadi musuh terburuk tanpa alasan jelas.

Perubahan sikap ini terjadi sangat cepat, bahkan dalam hitungan menit, membuat orangtua bingung menghadapi mood yang tidak stabil.

Situasi tersebut sering memicu stres bagi orangtua, tetapi sebenarnya normal sebagai bagian dari perkembangan emosi anak usia 4 tahun.

3. Suka Bercanda

Anak usia 4 tahun merasa dirinya sangat lucu, sering tertawa terpingkal-pingkal atas lelucon sederhana yang ia ciptakan sendiri.

Mereka mulai menyusun cerita konyol dengan kosakata makin kaya, meski terkadang sulit dipahami orang dewasa dan terasa tidak masuk akal.

Orangtua biasanya berpura-pura tertawa untuk menghargai humor anak, meskipun sering kali kebingungan menghadapi guyonan konyol tersebut.

4. Peniru Ulung Segala Gaya

Anak fase fournado gemar meniru perilaku orang dewasa, mulai dari gaya bicara, ekspresi wajah, hingga gerakan tubuh tertentu.

Mereka bisa melakukannya dalam situasi tidak tepat sehingga terkadang membuat orangtua merasa kikuk atau bahkan malu di depan orang lain.

Kebiasaan meniru ini bisa mencakup hal positif maupun negatif sehingga orangtua perlu berhati-hati dalam bersikap dan berbicara.

5. Banyak Bertanya

Rasa ingin tahu anak usia 4 tahun sangat besar, membuat mereka sering bertanya tanpa henti tentang hal-hal sederhana di sekitarnya.

Pertanyaan bisa berkembang dari hal sepele menjadi sesuatu yang sulit dijawab, misalnya tentang asal-usul bayi atau fenomena alam.

Meski melelahkan, pertanyaan ini menunjukkan perkembangan kognitif anak yang semakin pesat pada masa pertumbuhan dan pembelajaran usia dini.

6. Bersikap Mandiri

Anak mulai merasa dirinya sudah cukup besar sehingga ingin melakukan banyak hal sendiri tanpa bantuan orangtua.

Mereka sering ingin menuang minuman, membuat makanan sederhana, hingga mengunci sabuk pengaman mobil, meskipun hasilnya berantakan.

Sikap mandiri ini penting bagi tumbuh kembangnya, meski sering menimbulkan kekacauan yang menguji kesabaran orangtua di rumah.

7. Pilih-Pilih Makanan

Waktu makan sering menjadi medan pertempuran karena selera anak usia 4 tahun cepat berubah dari hari ke hari.

Hari ini mereka menyukai satu makanan, lalu besok menolak makanan tersebut sehingga membuat orangtua bingung sekaligus kewalahan.

Pilih-pilih makanan atau yang sering dikenal picky eater ini wajar pada fase perkembangan anak, meski sering membuat orangtua kehilangan kesabaran saat menyuapi mereka.

Dilansir dari laman kristenhewitt.me, fournado adalah fase yang cukup menantang karena anak belajar mengenali emosi, melatih kemandirian, dan membentuk hubungan sosial.

Dengan mengenali tandanya, orangtua bisa lebih siap menghadapi perubahan perilaku anak tanpa mudah terpancing emosi negatif.

Kesabaran, konsistensi, dan kehadiran emosional tetap menjadi kunci utama melewati fase penuh drama ini bersama sang anak.


Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore