
Ilustrasi anak dan orang tua (jcomp/freepik)
JawaPos.com-Kasus penculikan anak kerap terjadi secara tiba-tiba. Bahkan di tempat yang dianggap aman seperti sekolah, tempat les, atau lingkungan perumahan.
Celakanya, banyak anak yang tanpa ragu ikut bersama orang asing hanya karena ditawari jajanan atau diajak bicara dengan ramah. Karena itu, penting bagi orang tua untuk membekali anak dengan keterampilan mengenali bahaya dan melindungi diri sejak dini.
Kasus penculikan anak masih kerap menghantui para orang tua. Banyak kejadian memilukan yang berawal dari kelengahan atau sikap terlalu terbuka anak terhadap orang asing.
Anak usia dini hingga sekolah dasar memang rentan menjadi target kejahatan karena keterbatasan pemahaman mereka tentang bahaya di sekitar.
“Anak belum memiliki keterampilan dan pengetahuan yang cukup untuk mengenali situasi tidak aman, sehingga mereka dianggap belum berdaya untuk melawan atau memahami risiko dari situasi berbahaya,” ujar psikolog Fikri Tahta Nurul Fiqih.
Dia menambahkan, anak juga cenderung mudah tergiur hal-hal menyenangkan seperti makanan atau mainan. Tak hanya dari sisi anak, faktor eksternal seperti kurangnya pengawasan orang tua, kondisi lingkungan yang rawan, hingga oversharing data anak di media sosial turut memperbesar risiko.
“Orang tua kadang tak sadar membagikan informasi yang justru bisa dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab,” imbuh psikolog klinik Perspektif itu.
Untuk itu, menurut dia, orang tua bisa mulai mengenalkan konsep keamanan diri pada anak sejak berusia 3–5 tahun. Tentunya, dengan pendekatan yang sesuai tahap perkembangan mereka.
“Misalnya lewat buku cerita bergambar atau bermain peran di rumah. Orang tua bisa bantu anak memahami situasi berisiko dengan istilah dan contoh sederhana,” saran Fikri.
Anak juga perlu diajarkan untuk mengenali red flags atau sinyal bahaya, termasuk dari lingkungan sekitar. Mulai dari orang asing, benda berbahaya di rumah, hingga tindakan impulsif yang bisa berakibat buruk.
“Kuncinya bukan menakuti, tapi melatih anak memahami konsekuensi dan bersikap hati-hati,” lanjut Fikri.
Bila anak dihadapkan pada orang mencurigakan di tempat umum, Fikri menyarankan orang tua mengajarkan anak untuk bersikap tegas dan berani menolak ajakan.
“Ajari anak untuk berteriak, lari, atau mencari orang dewasa terpercaya bila merasa terancam,” kata Fikri.
Tak kalah penting, mengajarkan anak untuk berani mengatakan tidak, bahkan kepada orang yang dikenal. Orang tua bisa melatihnya lewat permainan peran dan contoh nyata.
“Biasakan anak menyampaikan apa yang dia rasa. Anak yang terbiasa didengarkan cenderung lebih asertif dan berani menyatakan penolakan,” jelas Fikri.

Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Sarwendah Dikabarkan Hengkang dari Rumah Cilandak, Begini Komentar Pihak Ruben Onsu
Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Jeritan Puluhan Tenaga Kesehatan PPPK Paruh Waktu di Balai Kota DKI: Gaji Ke-13 Tak Cair
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
