Ilustrasi anak sedang mengalami tantrum (Dok. Krakenimages.com/Freepik)
JawaPos.com - Bukan hal yang aneh atau mengejutkan apabila seorang anak kecil tiba-tiba kehilangan kendali atas emosinya. Hal ini biasa kita dengar sebagai 'tantrum', yang merupakan emosi yang datang dalam berbagai bentuk dan ukuran.
Tantrum sendiri dapat berupa ledakan emosi seperti kemarahan yang besar, rasa frustasi mendalam, kesedihan tiba-tiba, atau perilaku yang kacau dan sulit dikendalikan. Situasi-situasi ini merupakan tanda bahwa anak Anda sedang mengalami momen di mana ia benar-benar kehilangan kendali atas perasaan dan tindakannya.
Dikutip dari laman raisingchildren.net.au, tantrum bagi anak-anak terjadi karena mereka masih berada pada tahap awal perkembangan sosial, emosional, dan bahasa.
Pada tahap ini, mereka belum sepenuhnya mampu memahami atau mengungkapkan kebutuhan dan perasaan mereka dengan jelas. Misalnya, ketika mereka ingin melakukan sesuatu sendiri namun belum bisa menyampaikannya, hal itu bisa menimbulkan rasa frustrasi yang besar.
Selain itu, anak-anak juga sedang dalam proses belajar bahwa apa yang mereka lakukan dapat mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka.
Dalam situasi seperti ini, tantrum sering muncul sebagai cara alami bagi anak-anak untuk melampiaskan emosi, menyampaikan keinginan yang belum bisa diutarakan secara verbal, dan merespons lingkungan yang terasa membingungkan atau tidak sesuai harapan mereka.
Sebagai orang tua, tidak jarang kita merasa kewalahan menghadapi momen ketika anak mengalami tantrum. Untuk itu, berikut lima cara praktis yang dapat membantu Anda mengelola emosi diri saat menghadapi situasi sulit ini.
1. Sadari dan Akui Emosi
Sebagai orang tua, menghadapi tantrum anak bisa memicu berbagai emosi di diri kita sendiri. Mulai dari amarah yang intens, frustrasi, tidak sabar, bahkan merasa gagal.
Alih-alih mengenali dan menyadari emosi itu sendiri, kebanyakkan dari kita diajarkan sejak kecil untuk memendam perasaan itu karena sebagai orang tua mau tidak mau harus menghadapi sifat anak yang bermacam macam.
Padahal, kesadaran akan emosi (emotional awareness) itu sendiri adalah kunci utama dalam pengelolaan diri.
Dikutip dari laman The Gottman Institute, dengan menyadari dan mengakui apa yang sedang kita rasakan, kita sebagai orang tua memberi kesempatan pada pikiran untuk memproses emosi tersebut secara sadar.
Memproses emosi ini dapat menjadikan tingkah laku yang akan dilakukan menjadi lebih terkendali dan tidak melakukan reaksi otomatis yang bisa saja membahayakan anak kita sendiri.
2. Tarik Napas dan Tenangkan Diri

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
