
Ilustrasi dampak negatif parenting permisif (Freepik)
JawaPos.com - Parenting permisif menjadi salah satu pola asuh yang cukup banyak ditemui di keluarga modern, terutama pada orang tua yang ingin memberikan ruang kebebasan penuh bagi anak. Alodokter menjelaskan bahwa orang tua dengan pola ini umumnya sangat responsif, penuh kasih sayang, tetapi menetapkan sedikit aturan atau batasan yang tegas.
Sementara itu, Halodoc menegaskan bahwa gaya pengasuhan ini kerap muncul dari keinginan orang tua agar hubungan dengan anak terasa dekat dan harmonis tanpa konflik. Dalam praktiknya, pola asuh ini membuat anak merasa dihargai, namun sekaligus berpotensi membuat mereka tumbuh tanpa struktur jelas.
Bagi sebagian keluarga, fleksibilitas dalam pengasuhan terasa menyenangkan dan minim tekanan. Namun, tanpa keseimbangan, pola ini dapat menyulitkan anak memahami konsekuensi, menghadapi stres, dan membangun disiplin diri.
Karakteristik dan dampak parenting permisif umumnya berjalan beriringan seperti orang tua sering menghindari konfrontasi, memberi kebebasan besar, serta jarang menerapkan konsekuensi yang konsisten. Dampaknya, anak bisa mengalami kesulitan mengontrol diri, prestasi belajar menurun, hingga sulit mengambil keputusan penting. Pola ini juga dapat menghambat perkembangan kemampuan sosial-emosional karena anak jarang menghadapi batasan yang membentuk kedisiplinan maupun pemahaman moral.
Dampak Negatif Parenting Permisif
1. Anak Kesulitan Mengendalikan Diri
Tanpa aturan maupun konsekuensi yang konsisten, anak cenderung tidak terbiasa memahami batasan. Mereka dapat menunjukkan perilaku impulsif atau cepat bereaksi tanpa pertimbangan.
Ketika menghadapi lingkungan yang lebih terstruktur seperti sekolah, anak bisa mengalami benturan, karena baru mengenal aturan yang harus dipatuhi dan mudah merasa frustasi ketika kehendaknya tidak terpenuhi.
2. Prestasi Akademik Bisa Menurun
Anak dari pola asuh permisif cenderung kurang disiplin dalam belajar karena orang tua tidak menetapkan ekspektasi yang jelas. Tanpa dorongan atau rutinitas, fokus belajar anak sering tidak stabil.
Akibatnya, anak bisa tumbuh tanpa kebiasaan belajar mandiri. Pada akhirnya, mereka dapat merasa tertinggal dibanding teman sebaya yang terbiasa dengan struktur lebih jelas.
3. Sulit Membuat Keputusan Penting
Minimnya arahan membuat anak kurang terbiasa mempertimbangkan risiko atau dampak dari pilihan yang mereka ambil. Mereka cenderung mengambil keputusan secara spontan, bukan berdasarkan pertimbangan matang.
Dalam situasi remaja atau dewasa, hal ini dapat memicu keputusan-keputusan impulsif seperti pengelolaan keuangan yang buruk, memilih pergaulan tidak sehat, atau menghindari tanggung jawab.
4. Kemampuan Sosial-Emosional Kurang Terasah

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
