
seseorang yang hanya mengirim pesan teks / freepik
JawaPos.com - Di era komunikasi digital, hubungan antara orang tua dan anak yang telah dewasa mengalami perubahan yang cukup signifikan. Jika dulu panggilan telepon menjadi cara utama untuk tetap terhubung, kini pesan teks sering kali menggantikannya. Bagi sebagian orang tua, perubahan ini bisa terasa dingin atau bahkan mengkhawatirkan—terutama jika anak jarang atau hampir tidak pernah menelepon.
Namun, sebelum langsung menyimpulkan bahwa hubungan Anda memburuk, penting untuk memahami bahwa preferensi komunikasi sering kali mencerminkan kebutuhan emosional dan psikologis seseorang. Dalam banyak kasus, anak-anak dewasa yang lebih memilih pesan teks mungkin secara tidak sadar menghindari jenis percakapan tertentu yang terasa sulit, tidak nyaman, atau memicu emosi.
Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (24/4), terdapat tujuh jenis percakapan yang cenderung dihindari oleh anak-anak dewasa ketika mereka memilih komunikasi singkat melalui teks dibandingkan percakapan telepon.
1. Percakapan Tentang Harapan dan Tekanan Keluarga
Banyak anak dewasa merasa terbebani oleh ekspektasi orang tua, baik terkait karier, pernikahan, maupun gaya hidup. Panggilan telepon sering membuka ruang untuk diskusi yang lebih mendalam—yang kadang berubah menjadi tekanan.
Pesan teks memberi mereka kendali: mereka bisa merespons secara singkat tanpa harus menghadapi pertanyaan lanjutan atau nada suara yang mungkin mengandung penilaian.
2. Diskusi Tentang Keputusan Hidup Besar
Topik seperti pindah kerja, hubungan asmara, atau keputusan finansial sering kali kompleks dan emosional. Anak dewasa mungkin menghindari membahasnya lewat telepon karena khawatir akan kritik, nasihat yang tidak diminta, atau konflik.
Melalui teks, mereka bisa menyampaikan informasi secara terbatas tanpa membuka ruang diskusi panjang.
3. Percakapan Emosional yang Mendalam
Tidak semua orang nyaman mengekspresikan emosi secara langsung, apalagi melalui suara. Panggilan telepon bisa terasa terlalu intens, terutama jika hubungan dengan orang tua memiliki sejarah komunikasi yang sulit.
Pesan teks memberikan jarak emosional yang membuat mereka merasa lebih aman.
4. Konflik yang Belum Terselesaikan
Jika ada masalah lama yang belum benar-benar diselesaikan, panggilan telepon bisa dengan cepat memicu kembali konflik tersebut. Anak dewasa mungkin memilih menghindarinya sama sekali dengan tetap menjaga komunikasi di level permukaan.
Teks memungkinkan mereka mempertahankan hubungan tanpa harus “membuka luka lama.”

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
