
Ilustrasi seorang dewasa yang memegang kepalanya. (Freepik)
JawaPos.com - Masa kecil seharusnya menjadi periode penuh kasih sayang dan rasa aman yang kokoh. Namun, tidak sedikit anak yang justru tumbuh dengan rasa takut mendalam terhadap orang tua mereka. Rasa takut ini meninggalkan jejak emosional serius yang terbawa hingga dewasa.
Melansir dari Geediting.com Minggu (12/10), luka-luka emosional ini sering kali memengaruhi cara mereka berhubungan dengan orang lain. Mereka juga akan mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan dewasa secara umum. Penting sekali untuk menyadari delapan bekas luka batin ini demi mencapai penyembuhan yang tuntas.
1. Kesulitan Mengungkapkan Emosi
Orang yang tumbuh di bawah bayang-bayang rasa takut sering kesulitan untuk terbuka secara emosional. Mereka belajar untuk menekan perasaannya demi menghindari konflik atau kemarahan. Akibatnya, mereka menjadi tertutup, dan sulit menjalin hubungan intim dengan orang lain.
2. Kecenderungan untuk Minta Maaf Berlebihan
Satu di antara perilaku yang khas, mereka sering meminta maaf untuk hal-hal yang tidak perlu. Kebiasaan ini berasal dari masa kecil, di mana mereka merasa bertanggung jawab atas suasana hati dan amarah orang tua. Mereka berusaha menenangkan setiap situasi, bahkan jika itu bukan kesalahan mereka.
3. Rasa Takut Akan Konflik
Mereka cenderung menghindari konflik dengan segala cara karena mengasosiasikannya dengan bahaya. Perdebatan ringan saja dapat memicu respons "melarikan diri" yang kuat. Rasa takut ini membuat mereka sulit untuk mengungkapkan kebutuhan dan batasan diri yang penting.
4. Sulit Mempercayai Orang Lain
Rasa takut pada orang tua mereka membuat mereka kehilangan kemampuan untuk mempercayai figur otoritas atau pasangan. Mereka selalu menunggu "sepatu jatuh" berikutnya, mengantisipasi pengkhianatan atau rasa sakit. Mereka menganggap hubungan interpersonal adalah hal yang tidak aman.
5. Kritis Terhadap Diri Sendiri Secara Berlebihan
Orang-orang ini membawa suara kritis orang tua ke dalam diri mereka sendiri. Mereka terus-menerus meragukan keputusan dan nilai dirinya sendiri. Mereka menetapkan standar yang tidak realistis untuk diri mereka sendiri.
6. Mencari Validasi dan Pengakuan Eksternal
Mereka selalu mencari persetujuan dari orang lain sebagai kompensasi atas kurangnya validasi di masa kecil. Harga diri mereka sangat bergantung pada pendapat dan pujian dari luar. Mereka merasa tidak layak jika tidak mendapatkan pengakuan dari orang lain.
7. Pola Hubungan yang Tidak Sehat

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
