Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 Juli 2025 | 00.35 WIB

Tips Komunikasi Efektif Orang Tua Saat Anak Emosi agar Mereka Merasa Didengar dan Tenang

Orang tua mendengarkan anak dengan penuh perhatian saat anak menunjukkan ekspresi kesal. (dok. Freepik) - Image

Orang tua mendengarkan anak dengan penuh perhatian saat anak menunjukkan ekspresi kesal. (dok. Freepik)

JawaPos.com - Saat anak sedang terbawa emosi, entah marah, sedih, atau frustrasi, orang tua sering berada dalam dilema: bagaimana menenangkan tanpa membuat anak merasa dihakimi? Reaksi spontan seperti menaikkan suara atau langsung memberi pelajaran justru bisa menimbulkan jarak emosional dan menghalangi mereka belajar mengelola perasaan.

Padahal, inilah momen krusial. Bila orang tua mampu “turun” ke level anak, mendengarkan tanpa menghakimi, dan berbicara dengan empati, anak akan merasa dihargai dan aman. Dari situ, mereka belajar bahwa emosi adalah hal yang normal dan bisa dikelola dengan baik.

Situs konsultasi Tutum Counselling menekankan pentingnya active listening dan empati: mendengarkan penuh, tanpa menyela, serta memberi respons yang menunjukkan bahwa perasaan anak valid, tidak dianggap remeh.

Sementara itu, blog Teach Through Love menyarankan pendekatan menghadapi anak marah atau agresif: pertama, orang tua harus menenangkan diri dulu, tarik napas, kontrol nada bicara. Setelah itu, gunakan kalimat seperti “Aku tahu kamu sedang kesal.” Baru setelah suasana tenang, bicara soal solusi

Strategi Praktis Menghadapinya

1. Orang Tua Menenangkan Diri Sendiri
Sebelum respon, tarik napas dan kendalikan emosi. Hal ini membantu meredam tensi emosional anak.

2. Validasi Perasaan Anak Secara Sederhana dan Empatik
Ucapkan: “Kamu sangat kesal ya,” atau “Aku mengerti kamu marah.” Ini membuat anak merasa didengar, bukan dikoreksi.

3. Dengarkan Tanpa Menginterupsi dan Gunakan Bahasa Tubuh yang Mendukung
Duduk sejajar, tatap mata anak, dan jangan tergesa memberi nasihat.

4. Gunakan Kalimat yang Menenangkan dan Mengundang Bekerja Sama
Misalnya: “Kamu mau peluk dulu atau duduk santai di sini?” Ini memberi rasa kendali kepada anak.

5. Tunda Solusi dan Ajak Diskusi Setelah Emosi Mereda
Tunggu sampai anak lebih tenang, lalu tanyakan: "Apa yang membuatmu kesal, ya?" dan diskusikan sama-sama.

Memperkuat Koneksi Emosional

  • Biasakan Active Listening: Tunjukkan bahwa kamu benar-benar memahami, melalui paraphrase atau refleksi (“Jadi kamu merasa...?”)
  • Gunakan Nada Suara yang Lembut dan Konsisten: Ini memberi anak rasa aman dan nyaman.
  • Puji yang Positif Setelah Tenang: Contoh: “Kamu hebat karena sudah lebih tenang, ya”—ini memperkuat rasa percaya diri.

Dengan menerapkan pola ini, orang tua tidak hanya meredam amarah anak, tapi juga membantu mereka belajar mengenal, mengekspresikan, dan mengelola emosi dengan lebih sehat.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore