Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 2 Juli 2025 | 06.07 WIB

7 Perilaku Orang Tua yang Harus Ditinggalkan Jika Ingin Membangun Hubungan yang Kuat dan Tahan Lama dengan Anak Saat Mereka Tumbuh Dewasa

tips anak dewasa tetap menghormati dan mencintai orang tua menurut Psikologi./Freepik. - Image

tips anak dewasa tetap menghormati dan mencintai orang tua menurut Psikologi./Freepik.

JawaPos.com -Menjadi orang tua bukanlah tentang mendidik anak dengan aturan kaku atau sekadar memenuhi kebutuhan dasar mereka. Ini adalah tentang membangun hubungan yang mendalam, berkelanjutan, dan penuh rasa saling percaya yang terus berkembang seiring waktu.

Namun, sering kali, seiring anak-anak kita tumbuh besar, hubungan yang dulunya erat dan penuh kasih berubah menjadi hambar, tegang, atau bahkan renggang. Bukan karena kita tak mencintai mereka, melainkan karena ada perilaku-perilaku kecil yang tidak kita sadari dapat merusak hubungan itu secara perlahan.

Dilansir dari laman Geediting, artikel ini akan mengulas 7 perilaku yang harus Anda tinggalkan jika ingin tetap memiliki tempat istimewa di hati anak-anak Anda, bahkan saat mereka beranjak dewasa dan mulai membangun hidupnya sendiri. Bukan hanya teori, ini adalah hasil dari pengalaman nyata, riset psikologi, dan refleksi mendalam tentang peran orang tua di masa kini.

1. Mengabaikan Pendapat Anak: Cara Pasti Memutus Jalur Komunikasi

Banyak orang tua masih terjebak pada pola pikir kuno: “Orangtua selalu benar.” Akibatnya, tanpa sadar mereka meremehkan atau bahkan mengabaikan pendapat anak-anak mereka, terutama saat anak menginjak usia remaja.

Padahal, masa remaja adalah fase penting di mana anak sedang belajar mengenali jati diri, membangun opini, dan mencoba menyuarakan isi pikirannya. Ketika kita terus-menerus menutup telinga terhadap apa yang mereka pikirkan atau rasakan, kita justru mengajarkan mereka bahwa suara mereka tidak penting.

Apa dampaknya?

Anak menjadi tertutup dan enggan bercerita.

Muncul jarak emosional yang sulit diperbaiki.

Anak lebih memilih mencari validasi di luar rumah, termasuk dari lingkungan yang tidak sehat.

Solusi:
Berlatihlah mendengar secara aktif. Saat anak berbicara, berikan perhatian penuh. Tanyakan, "Kenapa kamu merasa seperti itu?" atau "Ceritakan lebih banyak soal pendapatmu." Bahkan jika Anda tidak setuju, dengarkan dulu. Ini bukan tentang setuju atau tidak, tapi soal menghargai keberadaan mereka sebagai pribadi yang utuh.

2. Mengomel Terus-Menerus: Niat Baik yang Sering Disalahpahami

Sebagai orang tua, wajar jika kita merasa khawatir terhadap perilaku anak—apakah mereka sudah mengerjakan PR, mandi tepat waktu, atau membantu di rumah. Namun, jika setiap interaksi Anda dengannya berisi keluhan, teguran, dan omelan, maka rumah bisa terasa seperti zona perang daripada tempat yang aman.

Mengapa ini merusak hubungan?

Anak merasa tidak dipercaya dan selalu dinilai negatif.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore