
Ilustrasi narasi tidak sehat pada anak. (Freepik)
JawaPos.com – Dalam fase awal kehidupan, banyak keyakinan terbentuk berdasarkan pengalaman sehari-hari. Keyakinan ini berperan besar dalam membentuk cara berpikir, bertindak, serta merespons lingkungan sekitar. Jika narasi yang terbentuk tidak sehat, hal ini dapat berdampak pada perkembangan mental dan emosional anak hingga dewasa.
Narasi tidak sehat merupakan pola pikir yang terbentuk sejak dini akibat pengalaman tertentu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Narasi ini sering kali berakar dari perasaan bersalah, ketakutan, atau persepsi negatif terhadap diri sendiri dan lingkungan.
Memahami narasi tidak sehat sejak dini membantu dalam mengenali pola pikir yang berpotensi menghambat perkembangan emosional. Kesadaran terhadap hal ini memungkinkan intervensi yang lebih efektif agar keyakinan yang lebih sehat dapat dikembangkan.
Berikut adalah 7 narasi tidak sehat pada anak yang sering terjadi dan dampaknya terhadap perkembangan emosional dilansir dari laman Psychologytoday oleh JawaPos.com, Sabtu (22/3):
1. Selalu Merasa Bersalah
Anak kecil sering kali menganggap diri mereka sebagai penyebab utama dari situasi buruk di sekitarnya. Ketika orang tua mengalami konflik atau menghadapi kesulitan, anak mungkin berpikir bahwa mereka yang menjadi pemicu.
Perasaan ini berkembang karena anak belum mampu memahami kompleksitas hubungan orang dewasa. Mereka cenderung menafsirkan kejadian secara personal, meskipun tidak ada hubungannya dengan mereka.
Jika terus berlanjut, keyakinan ini dapat mempengaruhi harga diri dan kepercayaan diri mereka. Dalam jangka panjang, mereka bisa tumbuh dengan kecenderungan menyalahkan diri sendiri atas masalah yang terjadi.
2. Merasa Tidak Berharga
Harga diri terbentuk dari interaksi dengan lingkungan, terutama dari orang-orang terdekat. Jika anak sering menerima kritik tanpa pemahaman yang tepat, rasa malu yang mendalam dapat muncul.
Kata-kata negatif yang sering diterima membuat mereka percaya bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri mereka. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam menerima kasih sayang atau penghargaan dari orang lain.
Kepercayaan bahwa diri sendiri tidak cukup baik dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Anak yang merasa tidak berharga cenderung menarik diri dari lingkungan sosial dan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat.
Baca Juga: Psikologi Parenting: Ayah yang Misoginis akan Mewariskan 8 Perilaku ini kepada Anak Lelakinya
3. Takut Ditolak
Pengalaman penolakan dapat meninggalkan dampak yang mendalam pada anak. Ketika perhatian orang tua terbagi atau anak mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan dengan teman sebaya, perasaan tidak diinginkan dapat muncul.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
