Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Maret 2025 | 22.14 WIB

7 Narasi Tidak Sehat pada Anak yang Sering Terjadi dan Dampaknya terhadap Perkembangan Emosional

Ilustrasi narasi tidak sehat pada anak. (Freepik) - Image

Ilustrasi narasi tidak sehat pada anak. (Freepik)

JawaPos.com – Dalam fase awal kehidupan, banyak keyakinan terbentuk berdasarkan pengalaman sehari-hari. Keyakinan ini berperan besar dalam membentuk cara berpikir, bertindak, serta merespons lingkungan sekitar. Jika narasi yang terbentuk tidak sehat, hal ini dapat berdampak pada perkembangan mental dan emosional anak hingga dewasa.

Narasi tidak sehat merupakan pola pikir yang terbentuk sejak dini akibat pengalaman tertentu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Narasi ini sering kali berakar dari perasaan bersalah, ketakutan, atau persepsi negatif terhadap diri sendiri dan lingkungan.

Memahami narasi tidak sehat sejak dini membantu dalam mengenali pola pikir yang berpotensi menghambat perkembangan emosional. Kesadaran terhadap hal ini memungkinkan intervensi yang lebih efektif agar keyakinan yang lebih sehat dapat dikembangkan.

Berikut adalah 7 narasi tidak sehat pada anak yang sering terjadi dan dampaknya terhadap perkembangan emosional dilansir dari laman Psychologytoday oleh JawaPos.com, Sabtu (22/3):

1. Selalu Merasa Bersalah

Anak kecil sering kali menganggap diri mereka sebagai penyebab utama dari situasi buruk di sekitarnya. Ketika orang tua mengalami konflik atau menghadapi kesulitan, anak mungkin berpikir bahwa mereka yang menjadi pemicu.

Perasaan ini berkembang karena anak belum mampu memahami kompleksitas hubungan orang dewasa. Mereka cenderung menafsirkan kejadian secara personal, meskipun tidak ada hubungannya dengan mereka.

Jika terus berlanjut, keyakinan ini dapat mempengaruhi harga diri dan kepercayaan diri mereka. Dalam jangka panjang, mereka bisa tumbuh dengan kecenderungan menyalahkan diri sendiri atas masalah yang terjadi.

2. Merasa Tidak Berharga

Harga diri terbentuk dari interaksi dengan lingkungan, terutama dari orang-orang terdekat. Jika anak sering menerima kritik tanpa pemahaman yang tepat, rasa malu yang mendalam dapat muncul.

Kata-kata negatif yang sering diterima membuat mereka percaya bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri mereka. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam menerima kasih sayang atau penghargaan dari orang lain.

Kepercayaan bahwa diri sendiri tidak cukup baik dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Anak yang merasa tidak berharga cenderung menarik diri dari lingkungan sosial dan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat.

3. Takut Ditolak

Pengalaman penolakan dapat meninggalkan dampak yang mendalam pada anak. Ketika perhatian orang tua terbagi atau anak mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan dengan teman sebaya, perasaan tidak diinginkan dapat muncul.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore