Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 Maret 2026, 20.50 WIB

BBM Terancam Mahal, Pemerintah Gaspol Kendaraan Listrik: Solusi atau Risiko?

ILUSTRASI. Charger Gun mobil listrik Neta. (Istimewa) - Image

ILUSTRASI. Charger Gun mobil listrik Neta. (Istimewa)

JawaPos.com - Percepatan kendaraan listrik di Indonesia bukan sekadar tren teknologi, tetapi sudah masuk ke ranah strategi nasional yang menyentuh energi, ekonomi, hingga geopolitik. Pernyataan Prabowo Subianto soal masa depan BBM yang kian terbatas menegaskan arah kebijakan Indonesia ingin keluar dari ketergantungan bahan bakar fosil secepat mungkin.

Bahkan prabowo mengatakan harga BBM berpeluang melonjak drastis imbas perang Amerika-Israel dengan Iran saat ini.

"Whole plan is, semua motor kita akan konversi ke motor listrik. Semua mobil, truk, traktor harus tenaga listrik," kata Prabowo dari media sosial Youtube (25/3).

Arah Besar: Energi, Bukan Sekadar Transportasi

Jika dilihat lebih dalam, dorongan kendaraan listrik bukan hanya soal mengganti mesin bensin dengan baterai. Ini adalah upaya mengamankan ketahanan energi nasional. Indonesia masih bergantung pada impor BBM, sehingga setiap gejolak global langsung berdampak pada harga dalam negeri.

Dengan elektrifikasi, sumber energi bisa dialihkan ke dalam negeri—baik dari batu bara, gas, hingga energi terbarukan. Artinya, pemerintah sedang menggeser “ketergantungan luar negeri” menjadi “kontrol domestik”.

Strategi Pemerintah: Massifikasi Lewat Motor

Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sempat mengatakan rencana percepatan penggunaan kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya transisi energi nasional.

Pasar sepeda motor listrik di Indonesia banyak diisi pemain baru. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

Langkah yang disampaikan Bahlil Lahadalia cukup realistis: fokus pada sepeda motor dengan alasannya jelas yaitu populasi motor mencapai ±120 juta unit dan konsumsi BBM terbesar ada di segmen ini.

Alasan berikutnya adalah biaya konversi relatif lebih murah dan cepat. Pendekatan ini menunjukkan strategi “impact cepat” dibanding langsung menyasar mobil listrik yang harganya masih tinggi.

Jika konversi motor bisa dipercepat, dampaknya akan langsung terasa pada penurunan konsumsi BBM nasional, penghematan subsidi energi dan penurunan emisi di kota-kota besar.

Ada beberapa poin kuat dari strategi pemerintah:

1. Efek Ekonomi Langsung
Simulasi penghematan hingga 80% biaya operasional menjadi daya tarik besar bagi masyarakat. Ini bisa menjadi “trigger” adopsi tanpa harus dipaksa.

2. Momentum Industri Lokal
Indonesia punya keunggulan di sektor baterai, terutama karena cadangan nikel. Percepatan EV bisa mendorong hilirisasi industri dan membuka lapangan kerja baru.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore