
ILUSTRASI. Charger Gun mobil listrik Neta. (Istimewa)
JawaPos.com - Percepatan kendaraan listrik di Indonesia bukan sekadar tren teknologi, tetapi sudah masuk ke ranah strategi nasional yang menyentuh energi, ekonomi, hingga geopolitik. Pernyataan Prabowo Subianto soal masa depan BBM yang kian terbatas menegaskan arah kebijakan Indonesia ingin keluar dari ketergantungan bahan bakar fosil secepat mungkin.
Bahkan prabowo mengatakan harga BBM berpeluang melonjak drastis imbas perang Amerika-Israel dengan Iran saat ini.
"Whole plan is, semua motor kita akan konversi ke motor listrik. Semua mobil, truk, traktor harus tenaga listrik," kata Prabowo dari media sosial Youtube (25/3).
Arah Besar: Energi, Bukan Sekadar Transportasi
Jika dilihat lebih dalam, dorongan kendaraan listrik bukan hanya soal mengganti mesin bensin dengan baterai. Ini adalah upaya mengamankan ketahanan energi nasional. Indonesia masih bergantung pada impor BBM, sehingga setiap gejolak global langsung berdampak pada harga dalam negeri.
Dengan elektrifikasi, sumber energi bisa dialihkan ke dalam negeri—baik dari batu bara, gas, hingga energi terbarukan. Artinya, pemerintah sedang menggeser “ketergantungan luar negeri” menjadi “kontrol domestik”.
Strategi Pemerintah: Massifikasi Lewat Motor
Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sempat mengatakan rencana percepatan penggunaan kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya transisi energi nasional.
Pasar sepeda motor listrik di Indonesia banyak diisi pemain baru. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Langkah yang disampaikan Bahlil Lahadalia cukup realistis: fokus pada sepeda motor dengan alasannya jelas yaitu populasi motor mencapai ±120 juta unit dan konsumsi BBM terbesar ada di segmen ini.
Alasan berikutnya adalah biaya konversi relatif lebih murah dan cepat. Pendekatan ini menunjukkan strategi “impact cepat” dibanding langsung menyasar mobil listrik yang harganya masih tinggi.
Jika konversi motor bisa dipercepat, dampaknya akan langsung terasa pada penurunan konsumsi BBM nasional, penghematan subsidi energi dan penurunan emisi di kota-kota besar.
Ada beberapa poin kuat dari strategi pemerintah:
1. Efek Ekonomi Langsung
Simulasi penghematan hingga 80% biaya operasional menjadi daya tarik besar bagi masyarakat. Ini bisa menjadi “trigger” adopsi tanpa harus dipaksa.
2. Momentum Industri Lokal
Indonesia punya keunggulan di sektor baterai, terutama karena cadangan nikel. Percepatan EV bisa mendorong hilirisasi industri dan membuka lapangan kerja baru.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
