
Pakar Otomotif Universitas Kristen Petra, Surabaya, Prof. Willyanto Anggono menyebut motor brebet belum tentu disebabkan karena BBM campuran etanol. (Humas UK Petra)
JawaPos.com - Maraknya laporan mesin kendaraan bermotor tiba-tiba mogok atau brebet setelah mengisi bahan bakar (BBM) di sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk Kota Surabaya, tengah ramai diperbincangkan.
Banyak masyarakat menduga bahwa fenomena motor brebet di Jawa Timur disebabkan oleh perubahan komposisi dalam bahan bakar, khususnya pencampuran etanol sebanyak 10 persen (E10).
Pakar Otomotif Universitas Kristen (UK) Petra, Surabaya, Prof. Willyanto Anggono, menegaskan bahwa kita tidak bisa langsung menyalahkan etanol. Masalah bisa berasal dari berbagai faktor, termasuk sistem penyimpanan.
"Kita tidak boleh menyalahkan etanol. Bahan bakar itu kita beli di Pertamina atau di SPBU yang lain, seperti Shell, BP, belum tentu kesalahannya di suppliernya, bisa jadi di sistem penyimpanan," tuturnya, Jumat (31/10).
Bisa juga saat transportasi dari depo ke SPBU. Oleh karena itu, penting melakukan pengecekan kualitas bahan bakar (BBM) secara berkala, untuk menjaga kualitas produk untuk masyarakat.
“Secara ideal, BBM yang dikeluarkan dari SPBU harus dicek apakah sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan Dirjen Migas. Misalnya, Pertamax punya standar tertentu yang harus dipenuhi,” kata Prof. Willyanto.
Selain itu, kualitas BBM juga bisa dipengaruhi faktor lingkungan, seperti hujan atau kontaminasi saat penyimpanan. Kualitas BBM yang rendah bisa berdampak pada performa mesin kendaraan.
"Jadi kita tidak boleh semata-mata menyalakan etanol. Kita harus cek menyeluruh, dari bahan bakar, sistem filtrasi, sistem pengapian, sudah sesuai belum dengan manual book, baru kita bisa menyimpulkan (penyebab motor brebet)," bebernya.
Lebih lanjut, Prof. Willyanto mengatakan bahwa pemerintah melalui Ditjen Migas memiliki kewajiban untuk memastikan BBM yang dijual di Indonesia berkualitas dan sesuai spesifikasi yang dibutuhkan kendaraan.
“Jangan sampai BBM dicampur, baik sengaja maupun tidak, sehingga merugikan konsumen. Semua instansi terkait harus melakukan pengujian berkala dan memastikan BBM yang dijual sesuai standar,” pungkas Prof. Willyanto.
Dengan penggunaan bahan bakar berkualitas dan pemeliharaan kendaraan sesuai rekomendasi pabrikan (manual book), Prof. Willyanto optimis masalah motor mogok atau brebet bisa diminimalisir.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
