
Motor listrik Electrum H5
JawaPos.com-PT TBS Energi Utama Tbk (TBS) semakin serius memperkuat pilar bisnis hijau melalui ekspansi kendaraan listrik. Lewat anak usaha Electrum, mereka mencatat pertumbuhan signifikan dalam ekosistem transportasi rendah emisi sepanjang 2025.
“Hingga September 2025, lebih dari 6.400 motor listrik telah beroperasi di berbagai wilayah,” ujar Direktur TBS Energi Utama Tbk, Juli Oktarina. Ia menyebut, ekspansi jaringan stasiun penukaran baterai (BSS) turut mempercepat adopsi kendaraan listrik. “Kami ingin membangun ekosistem yang efisien dan ramah lingkungan,” tambahnya.
Jumlah BSS kini mencapai 360 titik, naik 25 persen dibanding semester sebelumnya. Fasilitas itu melayani lebih dari 850 ribu kali penukaran baterai setiap bulan, yang berkontribusi menekan emisi karbon hingga 25 ton CO₂ per hari. Pertumbuhan ini juga meningkatkan efisiensi biaya operasional bagi para mitra pengemudi di lapangan.
Juli menegaskan, kendaraan listrik menjadi salah satu tulang punggung transformasi bisnis hijau TBS. “Portofolio hijau kami tidak hanya tumbuh, tapi sudah mulai memberi nilai ekonomi yang nyata,” katanya. Pilar ini berdampingan dengan dua sektor lain yakni pengelolaan limbah dan energi terbarukan yang terus menunjukkan tren positif.
Dari sisi keuangan, TBS membukukan pendapatan konsolidasian USD 288,2 juta pada sembilan bulan pertama 2025. Meski turun 14 persen akibat fluktuasi harga batu bara, perusahaan mencatat Adjusted EBITDA sebesar USD 31,8 juta serta keuntungan bersih sekitar USD 1,8 juta jika mengecualikan dampak satu kali dari divestasi PLTU dan akuisisi bisnis hijau.
“EBITDA kami tetap kuat karena kontribusi kendaraan listrik dan pengelolaan limbah yang semakin dominan,” jelas Juli. Posisi kas juga terjaga solid, mencapai USD 89 juta, meningkat dari USD 68 juta di akhir 2024. Peningkatan ini ditopang hasil divestasi dan penerbitan Sukuk Wakalah serta Obligasi Berkelanjutan I Tahun 2025.
TBS kini mengandalkan tiga pilar utama—kendaraan listrik, pengelolaan limbah, dan energi terbarukan sebagai fondasi menuju target netral karbon 2030. “Kami menyiapkan 2026 sebagai fase optimalisasi profitabilitas dan sinergi antarpilar,” papar dia. (*)

Prediksi Skor Kolombia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Misi Los Cafeteros Lolos 16 Besar, Siap Kirim Pulang Wakil Afrika
Prediksi Skor Australia vs Mesir di 32 Besar Piala Dunia 2026: The Pharaohs Menang Tipis Lewat Duel Sengit
Prediksi Skor Kanada vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Lebih Diunggulkan, Mampukah Les Rouges Balas Dendam?
Prediksi Skor Paraguay vs Prancis di 16 Besar Piala Dunia 2026: Ujian Konsistensi si Biru
Penjelasan Gol Offside Kroasia ke Gawang Portugal! Keputusan Kontroversial di 32 Besar Piala Dunia 2026
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Kisah Renato Veiga, Bek Timnas Portugal yang Tumbuh di Maroko hingga Memilih Memeluk Agama Islam
Prediksi Skor Australia vs Mesir: Bursa Taruhan Unggulkan The Pharaohs, Opta Hanya Jagokan Socceroos 46 Persen
Prediksi Skor Argentina vs Tanjung Verde: Bursa Taruhan Jagokan Albiceleste, Opta Beri Peluang Menang Lebih dari 80 Persen
Prediksi Skor Australia vs Mesir di Piala Dunia 2026: Menanti Kejutan Satu-satunya Wakil Asia
